Petisi ditutup

Protes Makan Mayit

Petisi ini mencapai 8.527 pendukung


Hari Minggu, 26 Februari 2017 yang lalu, kami, menerima informasi viral di Instagram tentang event #makanmayit yang diadakan di Footurama, Kemang, sebagai pertunjukan seni dalam bentuk social experiment dengan inisiator (seniman) bernama Natasha Gabriella Tontey.

Kami Aliansi Ibu Peduli dan Pejuang ASI Indonesia, menentang dan mengecam keras acara Makan Mayit. Melalui petisi ini, kami menuntut permintaan maaf secara terbuka melalui media konvensional maupun media sosial yang dimiliki Footurama, Natasha Gabriella Tontey dan SEMUA selebgram/influencer/seniman yang mengunggah dan mempublikasikan acara tersebut, serta pernyataan untuk tidak mengulang acara serupa di masa depan.

Event ini telah merealisasikan ilusi horror tentang kanibalisme dengan menyediakan makanan yang disuguhi sedemikian rupa dalam wadah boneka bayi plastik yang ‘dibedel’ di bagian perut & kepala. Mereka juga membuat menu pudding/permen dalam bentuk fetus (janin bayi) yang disebut sebagai unborn love (janin-janin yang tidak terlahirkan). Selain itu, dihadirkan pula kudapan cream cheese yang dikatakan berbahan dasar ASI (Air Susu Ibu) hasil donor seorang teman si seniman.

Muncul menjadi masalah dalam ranah publik, ketika event #makanmayit tersebut dipublikasikan melalui media sosial, disebarkan dalam akun media sosial beberapa influencer dengan jumlah followers yang besar. Event seni ini menjadi viral sehingga mudah diakses oleh publik tanpa mengenal batasan usia, termasuk oleh anak-anak dan remaja.

Melihat kejadian tersebut, kami menyatakan keberatan kami terhadap event #makanmayit sebagai berikut:

A.    Tidak adanya kepekaan sosial

  • Tidak adanya etika & kepedulian terhadap para perempuan yang harus berjuang sangat keras untuk dapat memiliki anak atau justru kehilangan anak. Contohnya seperti tulisan di salah satu postingan: “My sister has just aborted some babies. Curious? Come and see it at Fresh Flesh Feast at Footurama Como Park Jl. Kemang TImur Raya 998 this Saturday, Jan 21st, 2017 at 5pm onwards”. 
  • Inisiator event #makanmayit menginformasikan bahwa terdapat makanan/minuman yang menggunakan ASI yang didapatkan dari donor ASI teman sang inisiator event yang bersedia memberikan secara sukarela. Terhadap klaim tersebut, yang kebenarannya masih dipertanyakan, sebagai bagian dari para ibu yang memperjuangkan ASI untuk anak-anak kami dengan segala daya & upaya, hal tersebut sama sekali tidak menujukkan empati perjuangan para ibu. ASI maupun zat-zat lain yg diproduksi dan atau merupakan bagian dari tubuh manusia tidak seharusnya dipergunakan/diekploitasi dengan menyimpang dari fungsi asli penciptaannya.
  • Penggunaan visual bayi yang dipotong-potong serta fetus bayi berdarah yang dijadikan objek seni telah melanggar estetika seni ruang publik & berisiko untuk menggeser nilai-nilai psikologis & pandangan masyarakat terhadap bayi.

B.    Penggunaan Media Informasi

  • Bahwa penggagas acara dengan sengaja mengumumkan/menampilkan dengan patut diduga untuk tujuan menarik minat khalayak melalui sosial media yang dapat diakses oleh setiap kalangan secara tanpa batas.
  • Bahwasanya beberapa pengunjung/undangan merupakan ‘selebgram’/influencer/key opinion leader yang memiliki banyak pengikut/followers dengan berbagai latar belakang dan usia, dimana tindakan mereka mengunggah foto/video/pendapat mereka tentang acara tersebut di halaman sosial media mereka masing-masing memiliki dampak yang besar & luas.

 Dan oleh karena itu, dengan ini Kami menyatakan petisi sebagai berikut :

  1. Menentang event #makanmayit dan/atau kegiatan lain yang menyerupainya karena bertentangan dengan nilai-nilai positif di masyarakat, norma sosial & budaya, serta berpotensi melanggar ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.
  2. Menentang dan mengecam penyebaran informasi atas event #makanmayit dalam bentuk apapun oleh semua pihak yang terlibat dalam acara  tersebut pada media sosial, hal ini terutama para influencer/key opinion leader/selebritas karena posisi sosial mereka yang dapat mempengaruhi masyarakat, khususnya para followers/pengikut mereka yang tidak mengenal batasan usia.
  3. Mengecam segala bentuk pelecehan dan/atau eksploitasi dan/atau penyimpangan terhadap bayi, janin, maupun ASI.
  4. Meminta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) segera bertindak terkait permasalahan ini, bersama-sama dengan Kementrian Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Indonesia dan otoritas lainnya yang terkait.
  5. Menuntut agar inisiator event #makanmayit ataupun pekerja seni lainnya, tidak lagi mengangkat dan/atau mengeksploitasi topik-topik lain yang bersinggungan atau bertentangan dengan norma serta aturan yang berlaku di Indonesia.
  6. Menuntut permintaan maaf secara terbuka oleh para pihak yang terlibat, berkontribusi dan turut hadir pada event #makanmayit kepada masyarakat luas khususnya kepada kaum ibu & perempuan.
  7. Mendukung ekspresi seni yang bertanggung jawab serta senantiasa menjaga tatanan nilai, norma dan budaya yang positif bagi pertumbuhan & perkembangan anak & remaja Indonesia.

Demikian petisi ini kami sampaikan. Semoga dengan turut serta mendukung petisi ini kita dapat bersama-sama mendorong Pemerintah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia & pihak-pihak terkait untuk bersama turut serta dalam mewujudkan lingkungan & media sosial yang kondusif dan berdampak positif bagi proses pertumbuhan & perkembangan anak & remaja di Indonesia.

Dengan hormat,

Kami, Pejuang ASI Indonesia dan Aliansi Ibu Peduli, Perempuan Indonesia.



Hari ini: Aliansi Ibu Peduli mengandalkanmu

Aliansi Ibu Peduli Jakarta membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Komisi Perlindungan Anak Indonesia: Protes Makan Mayit". Bergabunglah dengan Aliansi Ibu Peduli dan 8.526 pendukung lainnya hari ini.