Segera revisi kebijakan zonasi dalam sistem PPDB

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.500.


Dalam minggu ini, kita banyak mendengar keresahan yang dialami oleh para orang tua yang anaknya kebetulan sedang mendaftar ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Keresahan tersebut muncul akibat adanya sistem zonasi yang membuat banyak pelajar (berprestasi) tidak dapat memilih sekolah yang dikehendakinya.

Saya memahami bahwa kebijakan sistem zonasi tersebut tentu diambil dengan berbagai pertimbangan positif (yang mungkin diantaranya adalah dalam rangka "pemerataan kualitas", mendekatkan siswa dan sekolahnya agar mudah pemantauannya), dsb.

Namun demikian, dalam faktanya juga ada dampak negatif dari kebijakan tersebut. Banyak siswa berprestasi yang mengalami "kehilangan pilihannya".

Saya tidak akan secara detil menyampaikan berbagai dampak dari kebijakan tersebut (karena pasti secara umum semua telah mengerti). Obsesi para siswa untuk dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah favorit yang telah membuat mereka semua termotivasi belajar hingga mendapatkan nilai baik tiba-tiba porak-poranda karena letak rumah yang jauh dari sekolah.

Sebagai contoh, saya kira apa yang dialami oleh anak teman saya.Dengan nilai UN sebesar 378 (rerata 9.45, setara IPK mahasiswa 3.78 cumlaude) berpotensi tersingkir ke hampir seluruh SMAN akibat kebijakan zonasi. Dan tentu saja ini juga akan dialami oleh para siswa berprestasi yang kebetulan berdomisili jauh dari sekolah negeri (favorit).

Sebagai penutup, saya mengajak semua pihak menandatangani petisi ini agar dapat menjadi pertimbangan semua pihak yang memiliki kewenangan atas hal ini untuk segera memperbaiki dan menyelesaikan masalah ini.

Teriring doa semoga kita semua masih diberi kekuatan dalam ikut mewujudkan tujuan didirikannya negara, khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Salam,

Sonny T. Danaparamita