Dukung Ambon Menjadi Kota Musik Dunia Oleh UNESCO

0 telah menandatangani. Mari kita ke 200.000.


Petisi dari Glenn fredly dan Ridho Hafiedz,

Kota Ambon-Maluku,pada tanggal 29 Oktober 2016 bertempat di lapangan Merdeka di depan khalayak masyarakat kota Ambon, sebuah pernyataan bersama dilakukan oleh Pemerintah pusat lewat Badan Ekonomi Kreatif, pemerintah Provinsi Maluku dan pemerintah Kota Ambon, untuk berkomitmen menjadikan Ambon sebagai kota musik dunia melalui jaringan badan organisasi dunia UNESCO.

Saat kami mendengar rencana ini, sebagai musisi saya dan Ridho Hafiedz pastinya menyambut baik rencana besar tersebut, kami melihat pencanangan Ambon dengan cita-citanya menuju kota musik dunia adalah sebuah keniscayaan sekaligus pekerjaan besar serta kolektif yang seharusnya menjadi kesempatan penting bagi terbukanya pintu masadepan bukan hanya bagi kota Ambon tapi Maluku secara keseluruhan.

Banyak musisi dan penyanyi asal Maluku yang telah memberikan kontribusi besarnya bagi perjalanan industri musik Indonesia sampai saat ini, itu menjadikan kami meyakini bahwa musik menjadi katalisator penting bagi orang Maluku.

Hari ini Maluku diperhadapkan dengan begitu banyak realitas sosial domestik yang harus dihadapi dan juga dibenahi antara lain dalam sektor pendidikan, lingkungan hidup serta tingkat kesejahteraan khususnya di kalangan anak muda. Data BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka di Maluku pada Februari 2019 menempati peringkat ke tiga secara nasional yaitu sebesar 6,91 % setelah Jawa Barat 7,73 % dan Banten 7,58 %. Tentunya sebagian data BPS ini bisa menjadi acuan untuk kita bisa melihat realitas sosial yang ada.

Musik bagi masyarakat Maluku telah menjadi bagian keseharian serta budaya yang tak terpisahkan, sejarah mencatat bagaimana musik menjadi alat penting untuk merajut perdamaian di kota Ambon pada tahun 2005 setelah melawati konflik horizontal yang panjang, dimana saya bersama Ridho hafiedz menjadi bagian saat itu menyaksikan bagaimana musik yang kami mainkan bersama musisi serta penyanyi lainnya menjadi perajut perdamaian serta kemanusiaan yang sangat ampuh ditengah puluhan ribu lebih masyarakat yang tumpah ruah di lapangan merdeka kota Ambon pada saat itu.

Kemudian pada tanggal 7-9 Maret 2018, Konferensi Musik Indonesia diselenggarakan untuk pertama kalinya, konferensi yang mempertemukan para pemangku kebijakan, perwakilan ekosistem musik dan sektor swasta diselenggarakan di Kota Ambon. Konferensi yang dibuka oleh Mentri Keuangan Sri Mulyani, serta dihadiri juga oleh Menkominfo Rudiantara, ketua BEKRAF Triawan Munaf, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, salah satu pimpinan ketua KPK Saut Situmorang turut hadir dan semua menjadi pembicara dan dari Konferensi Musik Indonesia ini menghasilkan 12 poin dari hasil pemikiran para perwakilan dalam pelaku industri musik tanah air, yang kemudian hasil ini selang beberapa waktu diserahkan kepada Presiden Jokowi dan Ketua DPR Bambang Soesatyo pada tahun 2018.

Musik sangat dekat dengan inovasi dan teknologi, inovasi dan teknologi sangat dekat dengan dengan kreatifitas anak muda, maka tidak hanya untuk kemajuan dalam konteks sosial dan budaya serta pendidikan, namun musik juga berkontribusi dalam sektor pembangunan ekonomi kedepannya, maka itu menjadi alasan utama mendukung kota Ambon dengan segala rekam jejaknya dalam dunia musik untuk menjadi salah satu jaringan dari kota musik dunia oleh Unesco, alasan lainnya yaitu untuk menjadikan kota Ambon sebagai contoh bahwa melalui musik dapat mendorong serta mensukseskan program pembangunan berkelanjutan (SDGs) dari United Nation.

Pada akhir bulan Juni tahun 2019 ini, melalui Ambon Music Office akan menyerahkan formulir aplikasinya kepada UNESCO, dukungan dari beberapa negara terutama dari negara yang telah menjadi jaringan kota Musik dunia seperti Adelaide ( Australia ), Tongyeong ( Korea Selatan ) telah bergulir dan salah satunya melalui petisi ini menjadi berharga untuk melengkapi serta meyakinkan UNESCO bahwa kota Ambon-Maluku dengan segala rekam jejaknya melalui musik layak untuk menjadi bagian dari jaringan kota musik dunia.

Lewat Musik kota Ambon Maluku berhak mempunyai kesempatan untuk mengejar mimpi serta harapan masadepannya terutama bagi generasi mudanya yang sudah dikaruniai kemampuan dalam kreatifitas bermusik yang tidak bisa dipisahkan.

Saya dan Ridho Hafiedz mengajak kalian untuk mendukung petisi ini, semoga lewat petisi ini kita bisa menjadi bagian dalam mewujudkan cita-cita kota Ambon-Maluku untuk menjadi Kota Musik Dunia pertama di Indonesia.

 

Petition from Glenn Fredly and Ridho Hafiedz:

Ambon-Maluku City On 29 October 2016 at Merdeka Square in front of the Ambon city community, a joint statement was carried out by the Central Government through the Creative Economy Agency, Maluku Provincial government and Ambon City government, to commit to making Ambon a world music city through the network of UNESCO world organization bodies.

When we heard of this plan, as a musician, myself and Ridho Hafiedz certainly welcomed the big plan. With its dream of going to the world music city, we saw the launching of Ambon as a necessity as well as a large and collective work that should be an important opportunity for opening future doors not only for the city of Ambon, but Maluku as a whole. Many Maluku musicians and singers have contributed greatly to the journey of the Indonesian music industry to date; it makes us believe that music is an important catalyst for Maluku people.

Today Maluku is faced with so many domestic social realities that must be addressed, including the education sector, the environment and the level of welfare, especially among young people. The Central Bureau of Statistics, or BPS, noted that the open unemployment rate in Maluku in February 2019 ranked third nationally, namely 6.91% after 7.73% in West Java and 7.58%. in Banten. Of course, some of this BPS data can be a reference for us to be able to see the existing social reality.

Music for the people of Maluku has become an integral part of daily life and culture. History records how music became an important tool for knitting peace in the city of Ambon in 2005 after going through a long horizontal conflict. Ridho Hafiedz and I become knitters of peace and humanity and were part of watching the music we played with other musicians and singers become very effective amidst tens of thousands more people who spilled out on the free ground in Ambon city at that time.

On 7-9 March 2018, the Indonesian Music Conference was held for the first time. A conference that brought together stakeholders, representatives of the music ecosystems and the private sector held in Ambon City, the conference was opened by Finance Minister Sri Mulyani and attended by Minister of Communication and Information Rudiantara, chairman of the Creative Economy Agency, or BEKRAF, Triawan Munaf, Director General of Culture Hilmar Farid, and one of the leaders and chairman of the Corruption Eradication Commission, or KPK, Saut Situmorang. All speakers and those from the Indonesian Music Conference produced 12 points resulting from the thoughts of the representatives in the music industry in the country, which was then handed over to President Jokowi and the Speaker of the House Bambang Soesatyo in 2018.

Music is very close to innovation and technology. Innovation and technology are very close to the creativity of young people; therefore, it is not only for progress in social and cultural contexts and education, but music also contributes to the economic development sector for the future. This is the main reason to support Ambon city, with all its track record in the music world to become one of the networks of world music city by UNESCO. The other reason is to make the city of Ambon an example that through music as well as the success of the program, we can encourage sustainable development (SDGs) of the United Nation.

At the end of June 2019, Ambon Music Office will submit the application form to UNESCO, supported by several countries, especially from countries that have become a network of world music cities, such as Adelaide (Australia) and Tongyeong (South Korea). One of them through this petition has become valuable to complement and convince UNESCO that the city of Ambon-Maluku – with all its track records through decent music – can be a part of the world music city network.

Through the music of the city of Ambon, Maluku has the right to have the opportunity to pursue dreams and hopes for the future, especially for the younger generation who have been blessed with abilities in musical creativity that cannot be separated.