Kembalikan Fleksibilitas Royaltrans: Transportasi Harus Memudahkan, Bukan Menambah Beban!

Penandatangan terbaru:
Oktaviani Fadilah dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Bagi kami, perjalanan dengan Royaltrans adalah satu-satunya ruang untuk mengumpulkan energi di pagi hari sebelum menuju tempat bekerja dan melepas penat setelah 10 jam bekerja. Namun, kewajiban reservasi tiket kini merenggut ketenangan tersebut dan menggantinya dengan kecemasan konstan—mulai dari stres sebelum memulai hari hingga ketakutan tiket hangus akibat lembur yang tak terencana. Kami tidak sekadar membutuhkan kursi, melainkan fleksibilitas untuk bisa berangkat dengan tenang dan pulang dengan manusiawi tanpa dibebani kerumitan birokrasi aplikasi yang mengabaikan realitas kelelahan fisik para pejuang komuter.

Perubahan sistem tiket Royaltrans Wilayah Cibubur dengan tujuan berikut :

  1. 1T : Cibubur - Balaikota (dan sebaliknya);
  2. 1K : Cibubur - Blok M (dan sebaliknya); dan 
  3. 6P : Cibubur - Kuningan (dan sebaliknya)

yang mewajibkan reservasi melalui aplikasi justru menjadi sumber kecemasan baru. Kami kini dihantui rasa stres sepanjang hari, khawatir tidak bisa pulang tepat waktu sesuai tiket yang dipesan. Seharusnya, transportasi publik hadir untuk mengurangi beban pikiran, bukan malah menambahnya.

Kami adalah komuter setia yang selama ini mengandalkan Royaltrans sebagai solusi mobilitas yang nyaman dan praktis. Transisi paksa ke sistem aplikasi ini telah merenggut fleksibilitas yang selama ini kami nikmati melalui fitur tap-on-bus (uang elektronik).

Sistem reservasi mungkin dimaksudkan untuk modernisasi, namun kenyataannya justru memperumit keadaan. Tidak semua pengguna memiliki kemewahan waktu atau terbiasa dengan hambatan teknologi di tengah hiruk-pikuk keberangkatan kerja. Terlebih lagi, sistem pengembalian dana (refund) yang birokratis saat kami tertinggal jadwal atau batal berangkat sangatlah merugikan penumpang.

Bagi banyak pekerja dengan jadwal dinamis, kewajiban memesan tiket jauh-jauh hari adalah kebijakan yang tidak realistis. Rapat mendadak atau lembur yang tidak terencana adalah realitas keseharian kami. Dalam kondisi tersebut, sistem aplikasi ini gagal mengakomodasi kebutuhan penumpang.

Oleh karena itu, kami mendesak PT Transjakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk:

  • Meninjau kembali kebijakan wajib reservasi via aplikasi, atau
  • Mempertahankan atau mengembalikan sistem pembayaran di tempat (uang elektronik/QRIS) sebagai opsi utama yang terbukti efektif dan tidak membebani.

Kami berharap aspirasi ini dipertimbangkan agar Royaltrans tetap menjadi layanan yang andal tanpa menciptakan stres tambahan bagi penggunanya. Mari tanda tangani petisi ini agar suara kita didengar demi kenyamanan transportasi publik yang lebih manusiawi.

Terima kasih.

avatar of the starter
Rendy SatriaPembuka Petisi

466

Penandatangan terbaru:
Oktaviani Fadilah dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Bagi kami, perjalanan dengan Royaltrans adalah satu-satunya ruang untuk mengumpulkan energi di pagi hari sebelum menuju tempat bekerja dan melepas penat setelah 10 jam bekerja. Namun, kewajiban reservasi tiket kini merenggut ketenangan tersebut dan menggantinya dengan kecemasan konstan—mulai dari stres sebelum memulai hari hingga ketakutan tiket hangus akibat lembur yang tak terencana. Kami tidak sekadar membutuhkan kursi, melainkan fleksibilitas untuk bisa berangkat dengan tenang dan pulang dengan manusiawi tanpa dibebani kerumitan birokrasi aplikasi yang mengabaikan realitas kelelahan fisik para pejuang komuter.

Perubahan sistem tiket Royaltrans Wilayah Cibubur dengan tujuan berikut :

  1. 1T : Cibubur - Balaikota (dan sebaliknya);
  2. 1K : Cibubur - Blok M (dan sebaliknya); dan 
  3. 6P : Cibubur - Kuningan (dan sebaliknya)

yang mewajibkan reservasi melalui aplikasi justru menjadi sumber kecemasan baru. Kami kini dihantui rasa stres sepanjang hari, khawatir tidak bisa pulang tepat waktu sesuai tiket yang dipesan. Seharusnya, transportasi publik hadir untuk mengurangi beban pikiran, bukan malah menambahnya.

Kami adalah komuter setia yang selama ini mengandalkan Royaltrans sebagai solusi mobilitas yang nyaman dan praktis. Transisi paksa ke sistem aplikasi ini telah merenggut fleksibilitas yang selama ini kami nikmati melalui fitur tap-on-bus (uang elektronik).

Sistem reservasi mungkin dimaksudkan untuk modernisasi, namun kenyataannya justru memperumit keadaan. Tidak semua pengguna memiliki kemewahan waktu atau terbiasa dengan hambatan teknologi di tengah hiruk-pikuk keberangkatan kerja. Terlebih lagi, sistem pengembalian dana (refund) yang birokratis saat kami tertinggal jadwal atau batal berangkat sangatlah merugikan penumpang.

Bagi banyak pekerja dengan jadwal dinamis, kewajiban memesan tiket jauh-jauh hari adalah kebijakan yang tidak realistis. Rapat mendadak atau lembur yang tidak terencana adalah realitas keseharian kami. Dalam kondisi tersebut, sistem aplikasi ini gagal mengakomodasi kebutuhan penumpang.

Oleh karena itu, kami mendesak PT Transjakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk:

  • Meninjau kembali kebijakan wajib reservasi via aplikasi, atau
  • Mempertahankan atau mengembalikan sistem pembayaran di tempat (uang elektronik/QRIS) sebagai opsi utama yang terbukti efektif dan tidak membebani.

Kami berharap aspirasi ini dipertimbangkan agar Royaltrans tetap menjadi layanan yang andal tanpa menciptakan stres tambahan bagi penggunanya. Mari tanda tangani petisi ini agar suara kita didengar demi kenyamanan transportasi publik yang lebih manusiawi.

Terima kasih.

avatar of the starter
Rendy SatriaPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

pt transportasi jakarta
pt transportasi jakarta
Perseroda DKI
pramono anung
pramono anung
gubernur dki

Perkembangan Terakhir Petisi