Petition update

Mengkhianati Korban, Mengabaikan Vatikan

Agustinus Adi
Jakarta, Indonesia

Aug 14, 2020 — 

“Gereja telah mengkhianati saya,” tulis Anna dalam pesannya kepada tim kolaborasi Tirto.id dan The Jakarta Post yang terbit 13 Agustus 2020. 

Anna dan Vivian – keduanya  nama samaran – mengikuti jejak dua penyintas lain dari paroki mereka, Paroki Maria Bunda Karmel (MBK), Tomang, Jakarta Barat yaitu Sisca dan Ellen, yang mengaku pernah dilecehkan oleh romo berinisial H yang hingga kini masih bertugas. Romo itu terkenal selalu berada di selasar gereja MBK tiap pagi untuk memberikan berkat kepada murid-murid yang akan masuk kelas.

Romo H masih mengontak Vivian beberapa kali. Romo itu mengirim pesan menanyakan kabarnya—apakah sudah menikah—dan meminta Vivian mengirimkan foto terbarunya. Pesan terakhir pada Mei lalu. Rupanya, sejumlah kawan Vivian menerima pesan bernada serupa dari romo H, ujar Vivian.

Lalu, bagaimana respons para klerus terkait?

Februari lalu saat tim kolaborasi mengonfirmasi kisah pelecehan yang dialami Sisca dan Ellen, untuk seri laporan perdana, Romo Kepala Paroki Maria Bunda Karmel saat itu, Andreas Yudhi Wiyadi, membantahnya. Ia bilang tak pernah mendengar laporan apa pun mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh romo tersebut. Selama dia menjadi romo kepala, “Kapel enggak pernah digunakan buat pengakuan dosa.”

Romo Kepala yang baru, Krispinus Ginting, tak merespons pertanyaan tim kolaborasi mengenai apakah ada tindakan yang diambil gereja menyusul laporan pertama tim kolaborasi soal dugaan pelecehan seksual oleh Romo H.

Romo H, terduga pelaku pelecehan seksual itu, tak mengangkat telepon tim kolaborasi; ia hanya membaca pesan WhatsApp yang dikirimkan tim kolaborasi. Kepala Ordo Karmel Romo Budiono mengklaim pihaknya selalu terbuka dengan laporan kekerasan seksual. “[Korban] harus melaporkan langsung kepada kami (ordo), lengkap dengan nama dan alamat,” ungkapnya.

Tak hanya Ordo Karmel. Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (CSsR) pun tak jauh beda.

Di Paroki Aloysius Gonzaga Cijantung, Jakarta, Romo M diduga pernah memanipulasi Dea –nama samaran–  untuk melakukan hubungan seksual dengan janji akan dinikahi.

Saat tim kolaborasi berusaha mengonfirmasi kabar mutasi Romo M kepada Romo Wilhelmus Ngongo Palla, Provinsial CSSR. Tapi tidak ada respons hingga laporan ini terbit.

Wartawan Tirto.id juga menghubungi Romo M, yang kini aktif di sebuah yayasan pemerhati masyarakat lokal dan lingkungan hidup di Sumba. Namun, pesan yang saya kirim lewat WhatsApp cuma bercentang dua biru, tanpa balasan.

Tim kolaborasi telah berusaha mengonfirmasi kabar mutasi Romo M kepada Romo Wilhelmus Ngongo Palla, Provinsial CSsR. Tapi tidak ada respons hingga laporan ini dirilis. Tim juga berusaha mengonfirmasi usaha Dea mencari keadilan kepada sejumlah nama yang ia sebut mengetahui cerita ini. Tapi, sebagian orang sudah tidak aktif di Paroki Cijantung; ada yang pindah ke Vatikan; ada yang sudah meninggal. Saat tim mendatangi Paroki Cijantung, dan bertemu dengan Romo Kepala Paroki Handrianus Mone, yang bersangkutan berkata “cuma pernah dengar” peristiwa yang dialami Dea. Romo Handrianus mengaku mengenal Romo M. “Tapi, saya tidak ada ketertarikan untuk mendalami kasus itu,” katanya kepada tim kolaborasi pada Februari 2020.

Semua itu tak ubahnya sikap abai terhadap apa yang sudah diperintahkan Paus Fransiskus di Vatikan.

Pedoman baru tentang penyelidikan dan pelaporan kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur dan lainnya oleh kaum klerus telah dikeluarkan oleh Vatikan. Salah satu poinnya menggarisbawahi laporan dapat berasal dari sumber anonim, yaitu dari orang tak dikenal.

“Anonimitas sumber seharusnya tidak otomatis mengarah pada anggapan bahwa laporan itu palsu,” tulis Vademecum, atau manual, yang dirilis Vatikan pada 16 Juli 2020.

Di dalamnya menjelaskan, di antara hal lain, laporan yang kurang spesifik seperti nama, tanggal, waktu, dan lain-lain “harus dinilai dengan tepat dan, jika memungkinkan, diperhatikan sebaik-baiknya.”

Pedoman terbaru ini mengatur bagaimana gereja membuka penyelidikan awal setelah menerima “dugaan pelanggaran” yang dilakukan oleh kaum klerus. Kemungkinan pelanggaran ini bisa berasal dari laporan media (termasuk media sosial),” tulis buku manual.

Sungguh memprihatinkan!

 


Keep fighting for people power!

Politicians and rich CEOs shouldn't make all the decisions. Today we ask you to help keep Change.org free and independent. Our job as a public benefit company is to help petitions like this one fight back and get heard. If everyone who saw this chipped in monthly we'd secure Change.org's future today. Help us hold the powerful to account. Can you spare a minute to become a member today?

I'll power Change with $5 monthlyPayment method

Discussion

Please enter a comment.

We were unable to post your comment. Please try again.