Dukung Kepolisian Tuntaskan Kasus Kucing Ciu

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Di tanggal 17 Oktober 2019 para netizen, baik penyayang hewan domestik kucing maupun pada umumnya ramai karena gerah atas postingan Instragram Story seorang mahasiswa yang memperlihatkan dalam bentuk video seekor kucing tergeletak tak berdaya ditambah dengan tulisan status yang sangat provokatif di setiap video tersebut. Tak hanya itu, tulisan-tulisan tersebut begitu keji dan sangat menunjukkan bahwa ia seseorang yang tega menyakiti hewan tak berdaya dan mendapatkan kesenangan atas ulahnya itu.

Sesuai status yang ditulisnya, kucing ras yang menjadi korban tersebut dicekoki ciu, ia begitu senang melihat kucing tersebut mati perlahan bahkan mengatakan bahwa karenanya ia dapat membuat status yang dapat ia pertontonkan ini.

Si pelaku membela diri dengan menyampaikan bahwa ia sedang melakukan pertolongan terhadap kucing temannya yang memakan tikus yang diracun, dengan memberinya air kelapa.

Klarifikasi tersebut dibantah oleh Doni Herdaru dengan analisa antara lain:

  1. Tidak tampak ada usaha benar-benar menolong dalam video. Semua seadanya, dan tidak ada kepanikan. Sangat santai, tidak menunjukkan kedaruratan.
  2. Kucing keracunan, ditolong sambal divideokan dan ditoyor-toyor saat sudah mati, sambil dikomentari. Jika ini kucing peliharaan, dimana owner saat ajal menjemput? Dimana kesedihan dan tangis owner yang umumnya mengiring kematian peliharaan?
  3. Kebiasaan peminum, menuang minuman 1/5 atau 1/6 gelas. Sedikit sekali. Seperti di gelas plastik itu. Adakah mengobati keracunan dengan siapkan air sedikit macarm orang minum minuman keras? Ini analisa perilaku peminum.
  4. Kucing anggora tidak memiliki naluri sebaik kucing lokal dalam insting berburu dan memakan hewan kecil seperti tikus.
  5. Jika kucing dikatakan keracunan dan mati akibat makan tikus yang sudah diracun, level dosis fatal yang dimakan tikus, belum tentu menjadi dosis fatal pada kucing yang notabene badannya lebih besar. Perlu dosis berbeda, untuk mencapai dosis fatal kucing.
  6. Dikatakan bahwa kucing makan tikus yang sudah diracun. Sebegitu laparkah sang kucing ras yang enggan makan sembarangan hingga menyantap tikus? Badannya tidak menunjukkan kondisi dia super kelaparan.
  7. Tindakan merekam dan mengunggah video dilengkapi dengan narasi provokatif, yang harus dipertanggungjawabkan. Motif akan terungkanp setelah menjalani penyidikan/penyelidikan polisi nanti.
  8. Terduga pelaku dipersilakan menjelaskan alibinya, yang nantinya alibinya akan kita bantah point per point.
  9. Kucing keracunan, salah satunya menunjukkan gejala-gejala seperti mulut berbusa, keluar darah dari mulut, hidung, telinga. Tidak ada tampak pada video tersebut.
  10. Rentetan analisa ini bukan sikap reaksioner, namun menanggapi upaya-upaya menghindar jerat hukum si terduga pelaku.
     
    @doniherdaru sebagai packleader @animaledefendersindo, salah satu pejuang kesejahteraan hewan domestik di Indonesia memutuskan untuk tidak tinggal diam dan memproses kasus ini ke jalur hukum, dengan dibantu oleh segenap teman-teman penyayang hewan baik individu maupun komunitas antara lain Tulungagung Kucing Lovers, Kediri Cat Lovers, Pecinta Kucing Domestik Kediri, @husein_asyhari sebagai pendamping/penasihat hukum, kawan-kawan pengacara @pejuang.h3 @adv.ninaabachtiar @evy_agussalim.

Namun mereka tidak bisa sendirian. Perangkat hukum di Indonesia mengenai hak perlindungan hewan sudah ada, namun perlu terus didukung dan didesak oleh semakin banyak masyarakat agar menjadi semakin kuat dan ditegakkan.

We need People Power for this!
Mengapa kekerasan terhadap hewan menjadi penting bagi kita untuk tidak tinggal diam?
Karena terbukti manusia yang tega dan bahkan menemukan kesenangan dalam menyakiti atau melakukan kekerasan terhadap hewan memiliki bibit psikopat yang apabila terus dibiarkan, target korban mereka akan meningkat levelnya dari hewan ke sesama manusia yang ia anggap lebih lemah; orangtua, anak kecil dan selanjutnya. Para pembunuh berantai adalah psikopat yang bermula dari pemupukan kesenangan dalam menyiksa makhluk kecil lainnya.

Teman-teman, apabila Anda peduli dengan lingkungan yang aman di sekitar Anda, mari bergerak bersama, dimulai dari hal kecil yang dapat teman-teman lakukan, salah satunya adalah dengan turut menandatangani petisi ini. Tinggal diam tidak mengurangi masalah yang ada. Mungkin saat ini kita tidak secara langsung menerima efeknya, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi apabila kita membiarkan hal-hal seperti ini begitu saja ke depannya.
 
 
 
Kepada Yang Terhormat Bapak Kapolres Tulungagung, Kapolda Jawa Timur dan Kapolri,
 
Di tanggal 18 Oktober 2019, kami telah membuat Laporan Polisi dengan No. STTLP/190/X/RES.1.24/2019/JATIM/RESTL-AGUNG dan BAP langsung pelapor setelah berdiskusi membahas kasus dan perkembangan penyelidikan dengan Kasatserse, Kanitreskrim serta jajaran reserse tipidsus.
Bangkai kucing yang menjadi korban pun telah diperiksa oleh Puslabfor Polda Jatim. Pada 19 Oktober 2019 hasil visum menemukan beberapa memar atau bekas kekerasan pada leher dan ekor patah. 6 November 2019 hasil lab telah resmi diterima penyidik, dan bahwa ada perlemakan dan iritasi pada tenggorokan, lambung, hati, akibat alkohol.
 
Untuk itu, kami masyarakat Indonesia, terlebih yang menandatangani petisi ini, mendukung Kepolisian Republik Indonesia menegakkan hukum perlindungan hewan dan hukum-hukum terkait pada kasus kucing Tulungagung ini.

Salam Kasih untuk Semua demi Indonesia yang lebih baik.