Perokok Anak Terus Meningkat, Pak Jokowi Tolong Naikkan Cukai Rokok Setinggi Mungkin!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Deretan kasus anak, bahkan balita merokok di Indonesia semakin meningkat! Salah satu contohnya:

KA, bocah lima tahun yang tinggal di Gayamsari, Semarang, ini kecanduan rokok sampai-sampai kesehatannya memburuk. Ia mengalami bronkitis atau infeksi pada saluran pernapasan utama dari paru-paru atau bronkus yang menyebabkan terjadinya peradangan atau inflamasi pada saluran.

Bahkan, terkadang ketika usai merokok, KA seperti pingsan beberapa saat.

Pihak keluarga berusaha mengobati dan juga berusaha agar KA berhenti merokok meski kebiasaan merokok tersebut susah dihilangkan

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4177637/miris-deretan-kasus-rokok-vs-anak-indonesia/3/#news

Salah satu penyebab meningkatnya jumlah perokok anak di Indonesia adalah karena harga rokok yang masih murah dan terjangkau untuk anak-anak.

Polemik harga rokok ini tentu berhubungan erat dengan kebijakan cukai rokok, yang isu kenaikannya selalu menjadi bahan perdebatan panas setiap tahunnya di Indonesia.

Per Oktober 2020, jelang pengumuman kenaikan harga cukai rokok oleh Kementerian Keuangan RI, industri secara aktif melobi pemerintah agar tidak menaikkan atau bahkan menaikkan secara terbatas cukai rokok. Bagi industri, rokok harus terus murah sepertinya?

Masyarakat sipil berpendapat bahwa pemerintah tidak perlu ragu untuk menaikkan cukai rokok setinggi mungkin! Rokok harus mahal!

Pendapat tersebut didasari oleh fakta-fakta berikut:

1.    Tingginya angka perokok anak di Indonesia. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, angka perokok usia 10-18 tahun telah mencapai 9,1 persen. Per 2024, pemerintah punya target menurunkan angka tersebut menjadi 8,7 persen. Membuat harga rokok menjadi mahal akan membantu ketercapaian target tersebut.

2.    Masih murahnya harga rokok di tanah air. Sehingga memudahkan masyarakat, secara khusus anak-anak untuk mengakses produk adiktif dan destruktif seperti rokok. Pusat Kajian Jaminan Sosial UI memaparkan rokok di Indonesia idealnya dijual di angka 70 ribu rupiah, jika pemerintah memang serius berkomitmen mengurangi angka perokok aktif dan perokok anak di Indonesia

3.    Konsumsi rokok masyarakat Indonesia di tengah Pandemi Covid 19 cenderung stabil, bahkan sebagian justru mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari riset yang dilakukan Krisna Puji, akademisi FIA UI, di mana selama pandemi Covid 19, sekitar 49,8 persen perokok mengalokasikan pengeluaran yang tetap untuk merokok, bahkan 13,1 persen perokok mengeluarkan pos pengeluaran yang lebih untuk merokok!

4.    Fakta bahwa perokok lebih rentan terhadap Covid 19. Hal ini dipaparkan langsung oleh dr. Agus Dwi Susanto (Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), bahwa 62,5 persen dari 400 pasien laki-laki Covid 19 di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta merupakan perokok. Selain itu, pasien dengan riwayat merokok tersebut memiliki penyakit Covid 19 yang lebih berat jika dibandingkan dengan pasien dengan riwayat non merokok.

5.    Menaikkan harga rokok tidak hanya membantu sektor kesehatan, melainkan juga sektor ekonomi Indonesia. Kementerian Kesehatan memperkirakan hampir 4200 triliun rupiah atau sepertiga GDP Indonesia hilang akibat penyakit yang disebabkan oleh rokok. 

Atas dasar fakta dan keprihatinan tersebut, kami meminta kepedulian Pak Jokowi selaku Bapak Bangsa agar tidak perlu ragu untuk menaikkan cukai rokok setinggi-tingginya!

Harga rokok perlu mahal guna melindungi masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak Indonesia dari ancaman dan paparan rokok. Perlu dicatat, visi Presiden Jokowi untuk menciptakan SDM Indonesia yang unggul tidak akan terwujud, apabila manusia Indonesia masih terikat dengan rokok!

Kepada rekan-rekan jejaring,

Mari rapatkan barisan, mari yakinkan Pak Jokowi, bahwa di masa pandemi Covid 19, pemerintah perlu tegas untuk menaikkan cukai rokok semaksimal mungkin.

Mari bantu tandatangani petisi ini dan sebarkan ke jaringan kalian!

Salam,

 

Koalisi Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau

Petisi ini didukung oleh:

-Tobacco Control Support Center IAKMI

-Rumah Mediasi Indonesia

-Indonesia Institute for Social Development

-Center of Human and Economic Development Ahmad Dahlan

-Raya Indonesia

-Smoke Free Jakarta

-TCSC Jatim

-Hasanuddin Contact