Pak Jokowi, Pemda, DPR, tolong lebih sigap dan tanggung jawab dalam penanganan pandemi!


Pak Jokowi, Pemda, DPR, tolong lebih sigap dan tanggung jawab dalam penanganan pandemi!
Masalahnya
Kawan-kawan semua, sedih hati saya setiap kali mendengarkan cerita mengenai keadaan pandemi dari mereka yang berada di gerakan garis depan.
Para nakes cerita, mereka setiap hari harus bekerja tanpa henti merawat pasien-pasien baru Covid-19. Suara ambulans udah jadi ringtone mereka sehari-hari.
Para relawan cerita, mereka terus menerus membangun shelter dan rumah sakit darurat untuk isolasi mereka yang terkena virus Covid-19. Sayangnya, kecepatan tersebarnya virus jauh mendahului kemampuan mereka bangun shelter baru.
Relawan lain juga bercerita bagaimana angka testing di daerah rendah sekali, dan angka yang dirilis secara nasional selalu berbeda dengan yang ada di daerah.
Mereka juga cerita protokol kesehatan ditegakkan setengah-setengah. Mal, kafe, bandara, pesawat tetap penuh. Padahal, setiap harinya para penggali kubur kelelahan buka lubang baru untuk jenazah yang meninggal karena pandemi ini.
Mereka yang berada di garis depan: para nakes, relawan dan bahkan penggali kubur sudah gak sanggup lagi menambal kebijakan pemerintah yang bolong-bolong.Para relawan tersebut terpanggil hatinya , meski tanpa SK, SPPD maupun upah, membantu sesama, mengambil risiko tertular, dan meninggalkan keluarga di rumah. Mau sampai kapan, masyarakat terus menopang kebijakan ini?
Kita butuh kebijakan yang mempertimbangkan urgensi keadaan serta rasa krisis. Semakin lama kita memutus rantai penyebaran, semakin besar dampaknya bagi kehidupan kita!
Makanya, kami mendesak pemerintah agar bertanggung jawab dan mengambil sikap kepemimpinan yang berlandaskan urgensi serta rasa krisis dalam menangani pandemi.
Saya yakin, semua cerita yang saya sebutkan di atas bisa berubah kalau pemerintah pusat, pemda, DPR & DPRD menyingkirkan sejenak kepentingan politik jangka pendek dan lebih fokus pada penyelamatan kemanusiaan dan nasib bangsa.
Waktu kita tidak banyak. Tiap hari, insan bangsa Indonesia berguguran karena kurangnya rasa urgensi dan krisis dari mereka yang membuat kebijakan.
Ini bukan permainan politik belaka, ini adalah hidup/mati seorang ayah, ibu, anak, saudara, kakek ataupun nenek tiap rakyat Indonesia.
Salam,
Alissa Wahid
bersama Jaringan Gusdurian dan SONJO Yogyakarta
[sumber foto petisi: Aljazeera]
60.751
Masalahnya
Kawan-kawan semua, sedih hati saya setiap kali mendengarkan cerita mengenai keadaan pandemi dari mereka yang berada di gerakan garis depan.
Para nakes cerita, mereka setiap hari harus bekerja tanpa henti merawat pasien-pasien baru Covid-19. Suara ambulans udah jadi ringtone mereka sehari-hari.
Para relawan cerita, mereka terus menerus membangun shelter dan rumah sakit darurat untuk isolasi mereka yang terkena virus Covid-19. Sayangnya, kecepatan tersebarnya virus jauh mendahului kemampuan mereka bangun shelter baru.
Relawan lain juga bercerita bagaimana angka testing di daerah rendah sekali, dan angka yang dirilis secara nasional selalu berbeda dengan yang ada di daerah.
Mereka juga cerita protokol kesehatan ditegakkan setengah-setengah. Mal, kafe, bandara, pesawat tetap penuh. Padahal, setiap harinya para penggali kubur kelelahan buka lubang baru untuk jenazah yang meninggal karena pandemi ini.
Mereka yang berada di garis depan: para nakes, relawan dan bahkan penggali kubur sudah gak sanggup lagi menambal kebijakan pemerintah yang bolong-bolong.Para relawan tersebut terpanggil hatinya , meski tanpa SK, SPPD maupun upah, membantu sesama, mengambil risiko tertular, dan meninggalkan keluarga di rumah. Mau sampai kapan, masyarakat terus menopang kebijakan ini?
Kita butuh kebijakan yang mempertimbangkan urgensi keadaan serta rasa krisis. Semakin lama kita memutus rantai penyebaran, semakin besar dampaknya bagi kehidupan kita!
Makanya, kami mendesak pemerintah agar bertanggung jawab dan mengambil sikap kepemimpinan yang berlandaskan urgensi serta rasa krisis dalam menangani pandemi.
Saya yakin, semua cerita yang saya sebutkan di atas bisa berubah kalau pemerintah pusat, pemda, DPR & DPRD menyingkirkan sejenak kepentingan politik jangka pendek dan lebih fokus pada penyelamatan kemanusiaan dan nasib bangsa.
Waktu kita tidak banyak. Tiap hari, insan bangsa Indonesia berguguran karena kurangnya rasa urgensi dan krisis dari mereka yang membuat kebijakan.
Ini bukan permainan politik belaka, ini adalah hidup/mati seorang ayah, ibu, anak, saudara, kakek ataupun nenek tiap rakyat Indonesia.
Salam,
Alissa Wahid
bersama Jaringan Gusdurian dan SONJO Yogyakarta
[sumber foto petisi: Aljazeera]
60.751
Pengambil Keputusan

Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 30 Juni 2021