Hukum Perusahaan Pembakaran Hutan dan Lahan di Riau

0 telah menandatangani. Mari kita ke 300.000.


September 2019, kualitas udara di Pekanbaru sudah dalam kategori BERBAHAYA. 

Saya jadi ingat dengan sepupu saya, Intan Syakila. Intan lahir Mei 2015, sangat mungil dan menggemaskan, matanya selalu berbinar dan tersenyum cantik. Semua orang pasti langsung jatuh hati, adinda ku sayang. 

Nggak nyangka, saya dan keluarga besar hanya punya waktu lima bulan bareng Intan. Saya harus mengucapkan ‘selamat jalan’ dengan berlinang air mata setelah Intan nggak berhenti batuk selama sebulan. Lima bulan kesenangan dan kebersamaan pun jadi pelipur lara.

Iya, Intan adalah korban dari asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru. Kalau kalian ingat, tahun 2015 Indonesia catat rekor dalam kebakaran hutan terbesar. Saat itu, indeks udara di Pekanbaru sudah sama seperti sekarang, BERBAHAYA.

Intan akan selalu jadi pengingat dan semangat saya untuk berjuang lawan asap kebakaran hutan.

Dari awal tahun 2019, sudah lebih dari 281 ribu orang di Riau yang menderita ISPA karena asap kebakaran hutan. Sampai sekarang, asap masih menghantui keseharian kita. Jujur, saya nggak tega kalau orang lain  harus mengalami kehilangan yang sama seperti saya karena asap.

Nah, banyak dari titik panas dan kebakaran hutan ini ada di daerah perusahaan perkebunan dan kehutanan. Ada 1.438 titik panas yang berpotensi menyebabkan kebakaran di Riau, 40% nya ada di daerah perusahaan.

Ironisnya, penegakkan hukum untuk perusahaan yang bikin kebakaran ini belum maksimal. Baru 7 perusahaan yang sebabkan karhutla diproses dan terbukti bersalah. Padahal, menurut Jikalahari, sebuah organisasi penyelamat hutan di Riau, ada 49 perusahaan yang bakar lahan yang belum ditindak sejak tahun 2014. Banyak juga dari perusahaan ini yang ilegal dan rentan korupsi.

Untuk itu, saya mau minta kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Polda Riau, dan Polri, untuk segera selidiki dan hukum perusahaan yang sebabkan kebakaran hutan dan lahan di Riau. 

Tanpa adanya penegakkan hukum yang baik, perusahaan ini nggak akan jera dan akan terus bakar hutan untuk kepentingan pribadi. Jangan sampai apa yang terjadi pada Intan terulang pada masyarakat Riau.

 

Yaya

Jikalahari