STOP EKSPLOITASI KOMERSIAL GUNUNG RINJANI

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.


Sampai detik ini belum ada solusi strategis mengenai masalah sampah yang menumpuk di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, kemudian muncul satu isu baru tentang rencana investasi KERETA GANTUNG di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani dan KOMERSIAL GLAMPING di kawasan danau Segara Anak.

Mengapa ada saja yang selalu membuat masalah di Rinjani?? Sementara Rinjani selalu bermurah hati kepada kita.

Ada batas dimana kawasan wisata yang dibentuk dengan konsep GEOPARK seharusnya tetap mengedepankan konsep ECOTOURISM dalam pengelolaannya. Pembatasan jumlah dan pengaturan kunjungan pendaki seharusnya menjadi hal PENTING dalam pengelolaan Rinjani. Penumpukan sampah yang terjadi di pos pendakian, pelawangan maupun Danau Segara Anak adalah bukti bahwa pengelolaan Rinjani tidak "ECO" lagi namun sudah bergerak ke arah "MASS".
Satu hal yang ABSURD dimana sebuah kawasan terbatas/minat khusus tapi dikelola dengan sistem massal.

Pengelola kawasan, Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Gunung Rinjani semestinya jangan bertindak arogan dengan mengeluarkan kebijakan "TIDAK POPULIS" seperti ini. Mau dibawa kemana gunung Rinjani 20-30 tahun mendatang jika kebijakan seperti ini dilaksanakan ? Sadar atau tidak, ini adalah blunder dan menjadi bom waktu bagi gunung Rinjani itu sendiri. Think-thank dalam pengelolaan sebuah kawasan destinasi itu hendaknya mengajak elemen lain seperti pengusaha, pers, akademisi dan masyarakat, bukan hanya milik pemerintah saja. Sebijaknya pemerintah melalui TNGR lah yang seharusnya menjadi filter utama, bukan sebagai awal bencana bagi Rinjani.

Taman Nasional Gunung Rinjani adalah sumber kehidupan bagi masyarakat tapi bagi para "PENGUASA"menjadi sumber pendapatan. Kami menyatakan: 
1. MENOLAK dengan keras rencana komersialisasi GUNUNG RINJANI dalam bentuk apapun.
2. MEMOHON agar segera diterbitkan PERPRES tentang penyelamatan hutan dan gunung - gunung di seluruh Indonesia.

Salam Lestari