TUTUP KERAMBA PERUSAHAAN Budidaya Perikanan di DANAU TOBA!!! #SaveLakeToba

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.


Presiden RI, Joko Widodo telah menetapkan Danau Toba sebagai destinasi prioritas nasional atau melahirkan “10 Bali Baru di Indonesia” untuk memenuhi target devisa dari sektor pariwisata sejak akhir tahun 2015 (lihat: https://tirto.id/ambisi-menyulap-danau-toba-jadi-the-next-bali-cWPr Hal ini tidak terlepas dari sejarah panjang Danau Toba (sekitar 75.000 tahun lalu) yang terbentuk akibat letusan Gunung Toba dengan skala 8 VEI (terdahsyat didunia) dan membentuk kaldera yang saat ini kita sebut Danau Toba. Ilmuan menyampaikan bahwa Gunung Toba melenyapkan 2/3 mahluk hidup di dunia dan menyisakan hanya 1/3nya saja.

Peristiwa letusan Gunung Toba melahirkan peradaban baru di dunia, sekaligus kehidupan baru bagi flora dan fauna di sekitar kawasan Danau Toba. Tahun 2014, Presiden SBY menetapkan Danau Toba  sebagai Geopark Nasional dan sedang diusulkan kembali menjadi Geopark Dunia ke UNESCO pada tahun 2018 dengan salah satu prasyaratnya Kelestarian Keanekaragaman Hayati (Lingkungan Hidup). Namun sayang sekali, upaya pemerintah untuk membangun pariwisata nasional dan bertitik tumpu pada keindahan Danau Toba (kelestarian Lingkungan Hidup) menjadi masalah besar ketiga masuknya perusahaan-perusahaan yang justru menjadi penyebab perusakan lingkungan hidup dan pencemaran Air Danau Toba.

Danau Toba yang dahulunya sumber utama air minum (bahkan tanpa di masak dan langsung diminum) bagi masyarakat pinggir danau, kini harus mengambil air, sejauh 3 km. Pemerintah Sumatera Utara juga telah menetapkan Danau Toba dengan baku mutu air kelas 1 berdasarkan turunan Undang-Undang Pelestarian dan Pelestarian Lingkungan Hidup (UU PPLH) yang mensyaratkan baku mutu air minum, sedangkan untuk budi daya ikan hanya di perairan dengan baku mutu air kelas 2 dan 3. (lihat https://regional.kompas.com/read/2017/06/13/07000051/air.danau.toba.tercemar.warga.terpaksa.jalan.kaki.3.km.untuk.dapat.air.bersih

Kejadian pembuangan LIMBAH BANGKAI IKAN BUSUK KE DANAU TOBA dan/atau AIR LIMBAH IKAN BUSUK yang ditimbun di sekitar pinggiran Danau Toba membuka mata kita semua bahwa Kelestarian Lingkungan Hidup serta Komitmen menjadikan Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional TERANCAM.

Pada Kamis, 24 Januari 2019, salah seorang penyelam, Larry Holmes Hutapea menyelam ke dasar Danau Toba di wilayah Sirungkungon, Kabupaten Toba Samosir dan menemukan beberapa karung bangkai ikan mati yang diduga dibuang oleh pegawai Perusahaan budidaya perikanan, PT Aquafarm Nusantara. Bukti bangkai ikan mati yang diangkat dari dasar Danau Toba tersebut, disaksikan langsung oleh Darwin Siagian (Bupati Toba Samosir), Hulman Sitorus (Wakil Bupati Toba Samosir), Kasat Reskrim Polres Toba Samosir dan anak buahnya, pemerhati lingkungan hidup, masyarakat setempat, dan juga para awak media. (baca: http://medan.tribunnews.com/2019/01/25/penyelam-ini-buktikan-ke-bupati-pt-aquafarm-tenggelamkan-karung-bangkai-ikan-ke-dasar-danau-toba?page=all 

Penemuan pembuangan Bangkai Ikan berjumlah besar di dasar air Danau Toba di area perusahaan PT. Aquafarm Nusantara merupakan pelanggaran yang bersifat “Tertangkap Tangan”, terbukti nyata tanpa harus memerlukan pembuktian pengujian laboratorium lagi sebagaimana upaya ini lazim dilakukan oleh KPK.

Permasalahan Bangkai ikan mati dengan menimbulkan bau busuk menyengat juga dialami warga desa lain di wilayah beroperasinya Perusahaan PT Aquafarm Nusantara seperti Silimalombu maupun Lontung. Ikan mati yang jumlahnya ratusan hingga ribuan kilogram dikubur secara massal, di lokasi sekitar area perusahaan dan sudah berlangsung bertahun-tahun.

Permasalahan lain adalah Pakan Ikan yang ditabur lebih dari 200 ton setiap hari menambah rentetan beban pencemaran terhadap perairan Danau Toba.  Lebih mirisnya lagi, masyarakat atau pihak-pihak yang tidak berkepentingan dilarang masuk dan mendekat di sekitar area perusahaan. Sangat ironis dengan Danau Toba sebelumnya dapat dinikmati oleh masyarakat secara bebas dan bertanggungjawab.

Itu beberapa catatan mengenai Kejahatan lingkungan yang dilakukan oleh Perusahaan Budidaya Perikanan dengan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA) yang beroperasi di perairan Danau Toba.

Untuk meyakinkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders), Pemerintah RI juga sampai menggandeng Konsultan internasional yang dibiayai World Bank untuk melakukan audit dan hasilnya Pemerintah RI yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Jendral (Purn) Luhut B. Panjaitan telah mengumumkan bahwa Danau Toba statusnya tercemar parah. (baca: https://ekonomi.kompas.com/read/2018/11/20/063000126/luhut--hasil-audit-bank-dunia-kerusakan-danau-toba-parah

Selama ini telah ada upaya dan dorongan untuk memperbaiki dan juga telah mengupayakan melalui berbagai sarana komunikasi dan hukum baik ke Kepolisian maupun Pengadilan, namun belum membuahkan hasil penutupan budidaya perikanan KJA di perairan Danau Toba. Upaya-upaya hukum yang tidak mudah dan kompleks, sehingga sering tidak mudah dipahami  dan dilakukan.

Oleh karena itu, Kami dengan SEMANGAT AMANAT PENDERITAAN RAKYAT memohon PRESIDEN RI mengambil kebijakan MENUTUP KERAMBA PERUSAHAAN Budidaya Perikanan KJA di DANAU TOBA DAN MENJATUHKAN SANKSI KEPADA PARA PELAKU KEJAHATAN LINGKUNGAN HIDUP TERSEBUT demi masa depan lingkungan hidup dan rakyat di Kawasan Danau Toba !!!  #SAVELAKETOBA

Membiarkan terjadinya kejahatan lingkungan sama saja dengan sikap tidak mendukung kelestarian lingkungan hidup.

Untuk itu, Tandatangan petisi ini jika kamu setuju untuk menyelamatkan DANAU TOBA dengan mendesak Presiden Jokowi menyetop beroperasinya Perusahaan Budidaya Perikanan Keramba Jaring Apung di Danau Toba, dan memberi sanksi kepada pelakunya yang telah berlangsung sampai dengan puluhan tahun. Hal ini dilakukan agar semata-mata pelaku Kejahatan Lingkungan Hidup akan jera dan kasus semacam ini tidak terulang kembali di masa depan.

Tertanda: Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT).

didukung oleh: aliansiRakyat-DanauToba (28/1/2019)



Hari ini: Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) mengandalkanmu

Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Joko Widodo: Pembuangan Bangkai Ikan Milik Perusahaan di Danau Toba, Kejahatan Lingkungan Hidup !". Bergabunglah dengan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dan 4.690 pendukung lainnya hari ini.