PASANG CHATTRA DI PUNCAK STUPA UTAMA CANDI BOROBUDUR

Masalahnya

Candi Borobudur adalah situs religi yang setara dengan Kabah di Mekkah bagi umat Islam, Tembok Ratapan di Yerusalem bagi umat Yahudi, Sungai Gangga di India bagi umat Hindu, Basilika Santo Petrus di Vatikan bagi umat Nasrani, dan pusat-pusat keagamaan lainnya di dunia. Candi Borobudur sendiri merupakan mandala pencapaian kesempurnaan manusia yang berisi ajaran-ajaran tentang pengumpulan sifat-sifat baik demi menolong semua makhluk tanpa kecuali.

Namun, Candi Borobudur saat ini dalam keadaan yang tidak lengkap.

Nilai filosofis Candi Borobudur luput dari perhatian karena umat Buddha tidak terlibat dalam proses pengembangannya, sampai-sampai ada bagian yang kurang dari bangunannya, yaitu chattra atau payung di puncak stupa utama.

Pada tahun 2018, muncul wacana pemasangan kembali chattra hasil rekonstruksi Theodoor Van Erp di Candi Borobudur dari pemugaran pertama Borobudur tahun 1907-1911. Walau mendapat dukungan dari umat Buddha, chattra tersebut tak kunjung dipasang sampai hari ini.

Padahal, Chattra merupakan bagian penting dari stupa Buddha yang juga ada dalam tradisi bangsa kita. Chattra adalah simbol kedamaian dan perlindungan yang hingga kini masih dipakai dalam prosesi resmi Keraton Yogyakarta ataupun untuk memayungi objek suci di Bali.

Jika Borobudur adalah mandala pencapaian kesempurnaan manusia, chattra di puncaknya ibarat perwujudan tekad untuk menggunakan kesempurnaan itu demi melindungi kedamaian semua makhluk tanpa terkecuali. Jadi, tanpa chattra, Borobudur tidaklah sempurna.

Apa Itu Chattra?

Chattra atau payung merupakan bagian dari stupa Buddha yang letaknya di puncak. Fungsinya adalah memayungi stupa yang merupakan simbol batin tercerahkan dalam filsafat Buddha.

Kita bisa dengan mudah menemukan stupa berchattra di berbagai literatur Buddhis, termasuk di relief Candi Borobudur sendiri. Di Nusantara, stupa berchattra bisa ditemukan di berbagai tempat, salah satunya di Goa Gajah, Gianyar, Bali.

Stupa lain di seluruh dunia juga memiliki chattra, misalnya Wihara Mahabodhi di India atau stupa-stupa di Thailand, Kamboja, dan Myanmar. Chattra juga ada di stupa Kumbum di Tibet yang konon terinspirasi oleh Candi Borobudur.

Dalam relief Karmawibhangga yang terukir di dasar Candi Borobudur, ada pula ajaran untuk mempersembahkan chattra sebagai cara mengumpulkan pahala yang besar.

Dari situ, kita bisa memahami bahwa keberadaan chattra di puncak stupa Borobudur ini amat penting bagi teman-teman umat Buddha. Pemasangannya tentu relevan mengingat Borobudur adalah candi Buddha. Lantas, mengapa hingga hari ini chattra itu tak kunjung dipasang dan masih jadi pajangan di museum?

Penolakan terhadap Pemasangan Chattra

Ketika memugar Candi Borobudur, Van Erp menemukan sisa-sisa batu chattra di kompleks candi. Ia pun merekonstruksi chattra tersebut dan menempatkannya di puncak stupa utama. Namun, N.J. Krom mendesak agar chattra hasil rekonstruksi diturunkan karena belum memenuhi syarat keaslian menurut ilmu arkeologi. Padahal seharusnya ditemukannya serpihan batu tersebut bisa menjadi bukti bahwa ada chattra di Candi Borobudur.

Berabad-abad kemudian, tepatnya ketika pemasangan chattra ini diajukan kembali tahun 2018 lalu, arkeolog juga menentang dengan alasan yang sama. Berdasarkan pengamatan dari berita yang beredar, penolakan ini hanya didasarkan pada alasan arkeologis, tanpa memperhatikan alasan dari sudut pandang filsafat Buddhis seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya.

Umat Buddha Tidak Terlibat

Persoalan chattra ini bukan kali pertama umat Buddha tidak didengarkan dalam pengembangan Borobudur. Ternyata selama ini, umat Buddha sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan seputar Candi Borobudur.

Kalau kita berkunjung ke situs agama lain di dunia seperti Gereja Vatikan atau Angkor Wat, kita bisa sedikit banyak merasakan ketenangan dan belajar tentang tradisi teman-teman Nasrani atau Buddhis di sana. Lain halnya dengan Borobudur. Kebanyakan orang hanya datang untuk belanja dan foto-foto saja. Situs resmi Candi Borobudur pun bahkan masih mencantumkan informasi makna candi yang tidak up to date dan sudah dibantah oleh pakar filsafat Buddhis.

Baru-baru ini gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerbitkan video berjudul “The New Order of Borobudur”. Di situ diceritakan rencana pengembangan Candi Borobudur dengan pendekatan kebudayaan. Aktivitas yang terlihat adalah belajar kesenian, piknik, dan resort. Kalau begitu, apa bedanya Borobudur dengan tempat wisata lain? Di akhir video juga disebutkan lembaga-lembaga yang akan bersinergi untuk menjalankan rencana ini. Kementerian agama maupun perwakilan umat Buddha tidak disebutkan sama sekali.

Sebagai umat beragama dan pecinta Candi Borobudur, miris rasanya menyaksikan kejadian seperti ini. Saya bahkan tidak sanggup membayangkan kalau Kabah tidak dikelola oleh umat Islam, atau Basilika Santo Petrus tidak dikelola oleh umat Nasrani. Sementara itu, umat Buddha sudah puluhan tahun tidak dilibatkan dalam pengelolaan Candi Borobudur. Bahkan memasang chattra untuk penghormatan sesuai ajarannya pun tidak boleh.

Buat Apa Chattra Dipasang?

Itulah pertanyaan yang dilontarkan pihak yang tidak menyetujui pemasangan chattra hasil rekonstruksi van Erp. Saya pun sempat mempertanyakan hal yang sama. Ketika mencari tahu lebih lanjut, saya pun menemukan jawabannya.

Dalam ikonografi Buddhis, chattra atau payung berharga melambangkan perlindungan dari penyakit dan marabahaya bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Kita tentu ingat ada begitu banyak bencana yang menimpa negeri kita belakangan ini, mulai dari pandemi dan bencana alam yang secara langsung mengancam penghidupan sampai ancaman terhadap kerukunan dan toleransi seperti pengeboman gereja yang terjadi di Hari Paskah baru-baru ini. Memasang chattra yang memiliki makna perlindungan universal bisa jadi ibarat simbol persatuan sekaligus doa agar negeri kita pun senantiasa dilindungi dari marabahaya yang mengancam.

Lebih jauh lagi, tak dapat dipungkiri bahwa umat Buddha berhak dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait situs keagamaan mereka. Memasang chattra di Candi Borobudur bisa menjadi bukti bahwa keseriusan pemerintah untuk mendengarkan aspirasi umat Buddha yang minoritas secara jumlah.

Pemasangan chattra berarti mengembalikan keutuhan makna Candi Borobudur sebagai mandala pencapaian kesempurnaan manusia yang ditujukan untuk melindungi semua tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, bahkan spesies. Ini bisa menjadi titik awal pengembangan Candi Borobudur sebagai situs ziarah dunia dengan mengedepankan nilai-nilai filosofisnya, bukan hanya untuk hiburan saja.

Dengan demikian, Candi Borobudur benar-benar akan hidup sebagai warisan dunia yang unik dan tiada tara. Bukan hanya umat Buddha, seluruh Indonesia pun bisa turut bangga.

Agar itu semua bisa terwujud, mari bersatu dan tandatangani petisi ini!

Noviana Kusumawardhani
Pecinta Candi Borobudur

Petisi ini mencapai 12.108 pendukung

Masalahnya

Candi Borobudur adalah situs religi yang setara dengan Kabah di Mekkah bagi umat Islam, Tembok Ratapan di Yerusalem bagi umat Yahudi, Sungai Gangga di India bagi umat Hindu, Basilika Santo Petrus di Vatikan bagi umat Nasrani, dan pusat-pusat keagamaan lainnya di dunia. Candi Borobudur sendiri merupakan mandala pencapaian kesempurnaan manusia yang berisi ajaran-ajaran tentang pengumpulan sifat-sifat baik demi menolong semua makhluk tanpa kecuali.

Namun, Candi Borobudur saat ini dalam keadaan yang tidak lengkap.

Nilai filosofis Candi Borobudur luput dari perhatian karena umat Buddha tidak terlibat dalam proses pengembangannya, sampai-sampai ada bagian yang kurang dari bangunannya, yaitu chattra atau payung di puncak stupa utama.

Pada tahun 2018, muncul wacana pemasangan kembali chattra hasil rekonstruksi Theodoor Van Erp di Candi Borobudur dari pemugaran pertama Borobudur tahun 1907-1911. Walau mendapat dukungan dari umat Buddha, chattra tersebut tak kunjung dipasang sampai hari ini.

Padahal, Chattra merupakan bagian penting dari stupa Buddha yang juga ada dalam tradisi bangsa kita. Chattra adalah simbol kedamaian dan perlindungan yang hingga kini masih dipakai dalam prosesi resmi Keraton Yogyakarta ataupun untuk memayungi objek suci di Bali.

Jika Borobudur adalah mandala pencapaian kesempurnaan manusia, chattra di puncaknya ibarat perwujudan tekad untuk menggunakan kesempurnaan itu demi melindungi kedamaian semua makhluk tanpa terkecuali. Jadi, tanpa chattra, Borobudur tidaklah sempurna.

Apa Itu Chattra?

Chattra atau payung merupakan bagian dari stupa Buddha yang letaknya di puncak. Fungsinya adalah memayungi stupa yang merupakan simbol batin tercerahkan dalam filsafat Buddha.

Kita bisa dengan mudah menemukan stupa berchattra di berbagai literatur Buddhis, termasuk di relief Candi Borobudur sendiri. Di Nusantara, stupa berchattra bisa ditemukan di berbagai tempat, salah satunya di Goa Gajah, Gianyar, Bali.

Stupa lain di seluruh dunia juga memiliki chattra, misalnya Wihara Mahabodhi di India atau stupa-stupa di Thailand, Kamboja, dan Myanmar. Chattra juga ada di stupa Kumbum di Tibet yang konon terinspirasi oleh Candi Borobudur.

Dalam relief Karmawibhangga yang terukir di dasar Candi Borobudur, ada pula ajaran untuk mempersembahkan chattra sebagai cara mengumpulkan pahala yang besar.

Dari situ, kita bisa memahami bahwa keberadaan chattra di puncak stupa Borobudur ini amat penting bagi teman-teman umat Buddha. Pemasangannya tentu relevan mengingat Borobudur adalah candi Buddha. Lantas, mengapa hingga hari ini chattra itu tak kunjung dipasang dan masih jadi pajangan di museum?

Penolakan terhadap Pemasangan Chattra

Ketika memugar Candi Borobudur, Van Erp menemukan sisa-sisa batu chattra di kompleks candi. Ia pun merekonstruksi chattra tersebut dan menempatkannya di puncak stupa utama. Namun, N.J. Krom mendesak agar chattra hasil rekonstruksi diturunkan karena belum memenuhi syarat keaslian menurut ilmu arkeologi. Padahal seharusnya ditemukannya serpihan batu tersebut bisa menjadi bukti bahwa ada chattra di Candi Borobudur.

Berabad-abad kemudian, tepatnya ketika pemasangan chattra ini diajukan kembali tahun 2018 lalu, arkeolog juga menentang dengan alasan yang sama. Berdasarkan pengamatan dari berita yang beredar, penolakan ini hanya didasarkan pada alasan arkeologis, tanpa memperhatikan alasan dari sudut pandang filsafat Buddhis seperti yang sudah disebutkan di bagian sebelumnya.

Umat Buddha Tidak Terlibat

Persoalan chattra ini bukan kali pertama umat Buddha tidak didengarkan dalam pengembangan Borobudur. Ternyata selama ini, umat Buddha sama sekali tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan seputar Candi Borobudur.

Kalau kita berkunjung ke situs agama lain di dunia seperti Gereja Vatikan atau Angkor Wat, kita bisa sedikit banyak merasakan ketenangan dan belajar tentang tradisi teman-teman Nasrani atau Buddhis di sana. Lain halnya dengan Borobudur. Kebanyakan orang hanya datang untuk belanja dan foto-foto saja. Situs resmi Candi Borobudur pun bahkan masih mencantumkan informasi makna candi yang tidak up to date dan sudah dibantah oleh pakar filsafat Buddhis.

Baru-baru ini gubernur Jateng Ganjar Pranowo menerbitkan video berjudul “The New Order of Borobudur”. Di situ diceritakan rencana pengembangan Candi Borobudur dengan pendekatan kebudayaan. Aktivitas yang terlihat adalah belajar kesenian, piknik, dan resort. Kalau begitu, apa bedanya Borobudur dengan tempat wisata lain? Di akhir video juga disebutkan lembaga-lembaga yang akan bersinergi untuk menjalankan rencana ini. Kementerian agama maupun perwakilan umat Buddha tidak disebutkan sama sekali.

Sebagai umat beragama dan pecinta Candi Borobudur, miris rasanya menyaksikan kejadian seperti ini. Saya bahkan tidak sanggup membayangkan kalau Kabah tidak dikelola oleh umat Islam, atau Basilika Santo Petrus tidak dikelola oleh umat Nasrani. Sementara itu, umat Buddha sudah puluhan tahun tidak dilibatkan dalam pengelolaan Candi Borobudur. Bahkan memasang chattra untuk penghormatan sesuai ajarannya pun tidak boleh.

Buat Apa Chattra Dipasang?

Itulah pertanyaan yang dilontarkan pihak yang tidak menyetujui pemasangan chattra hasil rekonstruksi van Erp. Saya pun sempat mempertanyakan hal yang sama. Ketika mencari tahu lebih lanjut, saya pun menemukan jawabannya.

Dalam ikonografi Buddhis, chattra atau payung berharga melambangkan perlindungan dari penyakit dan marabahaya bagi semua makhluk tanpa terkecuali. Kita tentu ingat ada begitu banyak bencana yang menimpa negeri kita belakangan ini, mulai dari pandemi dan bencana alam yang secara langsung mengancam penghidupan sampai ancaman terhadap kerukunan dan toleransi seperti pengeboman gereja yang terjadi di Hari Paskah baru-baru ini. Memasang chattra yang memiliki makna perlindungan universal bisa jadi ibarat simbol persatuan sekaligus doa agar negeri kita pun senantiasa dilindungi dari marabahaya yang mengancam.

Lebih jauh lagi, tak dapat dipungkiri bahwa umat Buddha berhak dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait situs keagamaan mereka. Memasang chattra di Candi Borobudur bisa menjadi bukti bahwa keseriusan pemerintah untuk mendengarkan aspirasi umat Buddha yang minoritas secara jumlah.

Pemasangan chattra berarti mengembalikan keutuhan makna Candi Borobudur sebagai mandala pencapaian kesempurnaan manusia yang ditujukan untuk melindungi semua tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama, bahkan spesies. Ini bisa menjadi titik awal pengembangan Candi Borobudur sebagai situs ziarah dunia dengan mengedepankan nilai-nilai filosofisnya, bukan hanya untuk hiburan saja.

Dengan demikian, Candi Borobudur benar-benar akan hidup sebagai warisan dunia yang unik dan tiada tara. Bukan hanya umat Buddha, seluruh Indonesia pun bisa turut bangga.

Agar itu semua bisa terwujud, mari bersatu dan tandatangani petisi ini!

Noviana Kusumawardhani
Pecinta Candi Borobudur

Pengambil Keputusan

Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Balai Konservasi Borobudur
Balai Konservasi Borobudur

Perkembangan Terakhir Petisi

Bagikan petisi ini

Petisi dibuat pada 16 April 2021