Desak Jokowi Pecat Nadiem Makarim Sebagai Mendikbud-Ristek


Desak Jokowi Pecat Nadiem Makarim Sebagai Mendikbud-Ristek
Masalahnya
Nadiem Makarim selaku Mendikbud-Ristek sampai saat ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan Pendidikan di Indonesia, selama pandemi Covid-19 praktik pendidikan di seluruh daerah nyaris lumpuh dan tidak ada inovasi apapun yang membuat pendidikan berjalan lebih baik. Apalagi kebijakan yang di keluarkan oleh nadiem makarim di rasa tidak epektif dan tepat sasaran mulai dari pemberian bantuan leptop kepada guru yang tertinggal, terdalam dan terluar (3T) yang menghabiskan anggaran negara sebesar Rp. 2,4 trilliun dengan harga satu unit leptop kisaran 10 Juta dengan spesifikasi leptop yang standar, kurang pantas rasanya bila laptop dengan spesifikasi leptop yang standar ini dibanderol di harga 10 Jutaan.
Nadiem Makarim seharusnya menilai bahwa persoalan pendidikan di tengah pandemic seperti saat ini harus dipandang secara komprehensif. Bila hal itu tak dilakukan solusi yang dimunculkan tidak akan ada hasil, dan melihat lebih jauh persoalan Pendidikan pada hari ini adalah banyaknya siswa yang terkendala dengan Pembelajaran jarak jauh salah satu kendalanya adalah siswa yang tidak memiliki gadget, Padahal anggaran sebesar Rp. 3,7 Triliun yang di anggarkan untuk bantaun leptop ini lebih baik di anggarkan untuk pemberian bantuan gadget kepada siswa yang belum memiliki gadget untuk menunjang pembelajaran siswa, nadiem makarim seharusnya bisa mempertimbangkan mana yang lebih Urgensi..
Selain dari Gagalnya Nadiem Makarim dalam mengelola Pendidikan selama masa pandemic Nadiem juga gagal dalam memenuhi janjinya dalam memberikan keringanan UKT bagi PTS di masa pandemik, sudah dua tahun masa pandemic ini berlangsung tetapi belum ada kebijakan keringanan Pendidikan yang menyeluruh, Perkemendikbud No 25 tahun 2020 yang mengatur keringanan UKT bukan kebijakan yang memiliki Perspektif krisis masa pandemic, melainkan kebijakan yang bersipat diskriminatif dan Normatif, Permendikbud tersebut pun tidak mengatur perihal keringan UKT bagi PTS.
Kebebasan Akademik di era kepemimpinan nadiem selaku Mendikbud-Ristek terus di berengus, ketika banyak mahasiswa yang melakukan banyak perlawanan terhadap biyaya Pendidikan di tengah pandemic, kebanyakan dari perlawanan tersebut berujung kepada represifitas bahkan tidak sedikit juga yang mengalami kriminalisasi,hal ini bertentangan dengan kontitusi 28, 28C, 28E, 28F, UUD RI 1945.
Contohnya Pemberangusan kebebasan akademik tersebut terjadi di BEM FH UNIB yang mengkritik kebijakan Birokrat Kampus, hingga berujung pembekuan terhadap BEM FH UNIB, Ada juga mahasiswa STAI Al-Amanah Jeneponto yang di Droup Out karena membuat sebuah puisi, dan sampai saat ini Nadiem Makarim masih bungkam ketika banyaknya mahasiswa yang di berengus dan mengalami represifitas, ini menjadi tanda tanya besar apakah nadiem makarim Menteri Pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi tidak mampu menjaga iklim kebebasan kampus.
bangsa ini butuh Mendikbud-Ristek yang paham arah dan orientasi Pendidikan, Pendidikan itu proses kebudayaan dan membutuhkan peran seseorang yang paham dan mempunyai Besik Pendidikan. Jangan sampai pemerintah gagal paham. Hingga pendidikan ini tak membebaskan. Malah mempertajam kesenjangan dan kemiskinan akibat kebijakan yang tak jelas. Sejatinya, pendidikan mengatasi problem struktural itu sehingga membebaskan.
Maka dari itu saya Irwan Hendrawan Ketua Umum terpilih BEM FKIP Unpas Mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menandatangani petisi ini untuk mendesak Presiden Jokowi widodo memecat Nadiem Makarim. Sebagai Mendikbud-Ristek

Masalahnya
Nadiem Makarim selaku Mendikbud-Ristek sampai saat ini tidak mampu menyelesaikan permasalahan Pendidikan di Indonesia, selama pandemi Covid-19 praktik pendidikan di seluruh daerah nyaris lumpuh dan tidak ada inovasi apapun yang membuat pendidikan berjalan lebih baik. Apalagi kebijakan yang di keluarkan oleh nadiem makarim di rasa tidak epektif dan tepat sasaran mulai dari pemberian bantuan leptop kepada guru yang tertinggal, terdalam dan terluar (3T) yang menghabiskan anggaran negara sebesar Rp. 2,4 trilliun dengan harga satu unit leptop kisaran 10 Juta dengan spesifikasi leptop yang standar, kurang pantas rasanya bila laptop dengan spesifikasi leptop yang standar ini dibanderol di harga 10 Jutaan.
Nadiem Makarim seharusnya menilai bahwa persoalan pendidikan di tengah pandemic seperti saat ini harus dipandang secara komprehensif. Bila hal itu tak dilakukan solusi yang dimunculkan tidak akan ada hasil, dan melihat lebih jauh persoalan Pendidikan pada hari ini adalah banyaknya siswa yang terkendala dengan Pembelajaran jarak jauh salah satu kendalanya adalah siswa yang tidak memiliki gadget, Padahal anggaran sebesar Rp. 3,7 Triliun yang di anggarkan untuk bantaun leptop ini lebih baik di anggarkan untuk pemberian bantuan gadget kepada siswa yang belum memiliki gadget untuk menunjang pembelajaran siswa, nadiem makarim seharusnya bisa mempertimbangkan mana yang lebih Urgensi..
Selain dari Gagalnya Nadiem Makarim dalam mengelola Pendidikan selama masa pandemic Nadiem juga gagal dalam memenuhi janjinya dalam memberikan keringanan UKT bagi PTS di masa pandemik, sudah dua tahun masa pandemic ini berlangsung tetapi belum ada kebijakan keringanan Pendidikan yang menyeluruh, Perkemendikbud No 25 tahun 2020 yang mengatur keringanan UKT bukan kebijakan yang memiliki Perspektif krisis masa pandemic, melainkan kebijakan yang bersipat diskriminatif dan Normatif, Permendikbud tersebut pun tidak mengatur perihal keringan UKT bagi PTS.
Kebebasan Akademik di era kepemimpinan nadiem selaku Mendikbud-Ristek terus di berengus, ketika banyak mahasiswa yang melakukan banyak perlawanan terhadap biyaya Pendidikan di tengah pandemic, kebanyakan dari perlawanan tersebut berujung kepada represifitas bahkan tidak sedikit juga yang mengalami kriminalisasi,hal ini bertentangan dengan kontitusi 28, 28C, 28E, 28F, UUD RI 1945.
Contohnya Pemberangusan kebebasan akademik tersebut terjadi di BEM FH UNIB yang mengkritik kebijakan Birokrat Kampus, hingga berujung pembekuan terhadap BEM FH UNIB, Ada juga mahasiswa STAI Al-Amanah Jeneponto yang di Droup Out karena membuat sebuah puisi, dan sampai saat ini Nadiem Makarim masih bungkam ketika banyaknya mahasiswa yang di berengus dan mengalami represifitas, ini menjadi tanda tanya besar apakah nadiem makarim Menteri Pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi tidak mampu menjaga iklim kebebasan kampus.
bangsa ini butuh Mendikbud-Ristek yang paham arah dan orientasi Pendidikan, Pendidikan itu proses kebudayaan dan membutuhkan peran seseorang yang paham dan mempunyai Besik Pendidikan. Jangan sampai pemerintah gagal paham. Hingga pendidikan ini tak membebaskan. Malah mempertajam kesenjangan dan kemiskinan akibat kebijakan yang tak jelas. Sejatinya, pendidikan mengatasi problem struktural itu sehingga membebaskan.
Maka dari itu saya Irwan Hendrawan Ketua Umum terpilih BEM FKIP Unpas Mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia agar menandatangani petisi ini untuk mendesak Presiden Jokowi widodo memecat Nadiem Makarim. Sebagai Mendikbud-Ristek

Petisi ditutup
Sebarkan petisi ini
Petisi dibuat pada 24 Agustus 2021
