Bapak Presiden, Tolong Tindak Tegas Pelaku Karhutla dan Atasi Karhutla Secepatnya

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan dan juga Sumatra pada tahun 2019 ini sudah memasuki tahap yang berbahaya.

Saat dikonfirmasi terkait kondisi kabut asap di Provinsi Riau, Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Agus Wibowo mengatakan kondisi karhutla terutama di Riau sudah parah. Pasalnya selain terjadi di hampir sebagian wilayah, juga ada kiriman kabut asap dari Sumatera Selatan. (Kompas)

Tidak hanya di Sumatra, masyarakat Kalimantan juga merasakan hal yang sama. Justru lebih parah dan sangat-sangat menggangu aktivitas.

Polusi udara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, selama empat hari terakhir berada dalam taraf membahayakan. Pada Senin, 16 September 2019, kandungan polusi PM2,5 tercatat mencapai 1.413,4 mikrogram per meter kubik. Padahal, ambang batas normal polusi PM2,5 yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) adalah 65 mikrogram per meter kubik. (Viva)

Saya mewakili teman-teman lainnya yang juga memiliki visi yang sama, meminta ketegasan bapak presiden Joko Widodo selaku kepala negara untuk menindak tegas pelaku kebakaran hutan. Kami juga meminta untuk menindak tegas perusahaan-perusahaan yang tidak taat pada aturan. Serta meminta aksi tanggapnya dalam mengatasi kebakaran hutan ini agar cepat terselesaikan dan masyarakat bisa beraktivitas kembali.

Kami ingin aksi nyata yang tampak dari keputusan-keputusan bapak presiden terkait dengan tindakan tegas menutup, menyegel, ataupun mencabut izin perusahaan-perusahaan yang terindikasi melakukan pembakaran lahan. Selain itu juga menindak tegas oknum-oknum masyarakat yang juga ikut andil dalam peristiwa kebakaran ini agar kedepannya peristiwa ini tidak lagi terjadi atau menurun.

Kami juga mengharapkan upaya yang lebih lagi dalam mengatasi permasalahan ini dengan terus berkoordinasi antar kementerian dan juga antar pemerintah daerah, sehingga tidak ada lagi korban-korban yang jatuh sakit atau bahkan meninggal akibat penyakit yang muncul dari kabut asap ini.

Salam, 

Agung Putra Dwijaya