Bantu 123 Ribu Mitra Pohon Korban Investasi Jabon Dapatkan Haknya

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


SAAT ini sekitar 123 ribu lebih mitra pohon di seluruh Indonesia dan beberapa negara sedang berjuang menuntut hak hasil panen kepada PT Global Media Nusantara (GMN).

PT GMN yang  berbasis di Kota Bandung menghimpun dana dari investor/penanam modal yang disebut mitra pohon melalui pembelian bibit jati kebon (jabon) yang akan ditanam, dirawat, dipelihara, sampai panen di lahan sewa milik petani yang tersebar di penjuru pulau Jawa.

Mitra pohon dijanjikan panen lima tahun dengan pembagian keuntungan 70:30 antara mitra sebagai pemilik pohon dan petani sebagai perawat yang bekerja sama dengan GMN. Panen kedua jangka waktu 3,5 tahun dengan pembagian 50:50.

Bisnis ini kemudian terintegrasi menjadi International Green Invesment System disingkat IGIST. Klaimnya, bisnis ini menyelamatkan bumi, sedekah oksigen, penghijauan dan gerakan mulia lanniya yang membuat banyak orang berminat menanamkan modalnya.

Berikut ilustrasi perhitungannya. Misal jika Bapak A memiliki 84 pohon seharga Rp23 juta, dengan jaminan harga jabon berusia lima tahun seharga Rp1.050.000 per kubik, maka total hasil penen seharga Rp84 juta. Sebanyak 30 persen untuk pemilik lahan, 70 persen pemilik pohon. Maka Bapak A akan dapat Rp58 juta. Uang tersebut dapat diambil semuanya, atau bisa dipakai membeli bibit jabon di lahan yang lain. Dari hasil investasi pada panen kedua dan seterusnya, mitra pohon diilustrasikan berpotensi mendapat sampai miliaran rupiah.

Lalu dari mana PT GMN dapat keuntungan? Tidak lain bibit pohon yang dijual ke mitra pohon. Ini bukan bisnis jual beli putus. Ada kontrak yang ditandatangani, dan dalam salah satu klausulnya PT GMN berkewajiban mencarikan lahan yang sesuai, pengurusan legalitas, perawatan, penyedia tenaga perawat (petani), hingga memfasilitasi panen dari mulai dari pengukuran kubikasi, lelang, pemutusan pemenang lelang, penebangan, distribusi ke pabrik, penagihan, sampai pembayaran hasil panen.

Perusahaan berjanji akan menyerap hasil panen jabon para mitra pohon karena telah memiliki pabrik pengolahan yang mengonversi jabon menjadi produk premium yang layak jual seperti mebel, jam tangan, kerajinan berbahan jabon lainnya melalui jaringan pasar yang telah dimiliki.

 

Masalah

Apa yang diharapkan mitra pohon tidak sesuai kenyataan karena ilustrasi yang indah- indah itu jauh dari kenyataan. Masalah dimulai ketika jabon yang menjadi bisnis inti bergeser ke bisnis lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan jabon seperti umrah, pembelian apartemen, bahkan sampai cincin alat pembesar kelamin pria.

Berbagai pemberitaan negatif pun sudah mewarnai bisnis investasi IGIST ini, seperti IGIST yang masuk daftar hitam Otoritas Jasa keuangan (OJK) sebagai investasi tidak terdaftar di OJK alias bodong.

Berikut analisis mendalam jabon IGIST berdasarkan informasi dari para mitra pohon dan leader yang menyadari bahwa bisnis yang dijalankan bergerak ke arah yang salah sedari awal. Leader adalah orang - orang yang berada di puncak -puncak piramida dan membawahi banyak mitra pohon.

1. Hasil panen tahun 2012 dijadikan alat mendongkrak pasar akan tetapi beda fakta pada saat mitra mulai masuk masa panen.

2. Ilustrasi hasil panen mencapai 0,9 kubik akan tetapi faktanya dijelaskan begitu masa panen hanya 0,3 kubik.

3. Harga tegakan pohon per meter kubik Rp1 juta per meter kubik (dipotong biaya panen), sementara harga setelah dikonversi ke produk Rp1.050.000 per kubik, faktanya saat ini juga berbeda.

4. Ilustrasi panen dua kali bagi setiap mitra pemilik pohon, faktanya saat ini panen satu kali saja sudah bermasalah.

5. Perusahaan tidak menggarap serius bisnis hilir untuk serapan kayu jabon. Malah fokus mencari mitra pohon sebagai investor.

6. Di materi presentasi sudah memiliki pabrik pengolahan menjadi balken akan tetapi faktanya pabrik masih sewa.

7. Di materi presentasi sudah memiliki mesin dan pabrik untuk mengolah kayu jabon menjadi kayu keras, faktanya belum punya atau masih mencari investor lain lagi.

8. Di materi presentasi sudah MOU dengan beberapa pabrik di wilayah Jabotabek yang membutuhkan balken dan pohon gelondongan jabon. Fakanya tidak ada MOU tersebut.

9. Di materi presentasi sudah ada kontrak kerja sama untuk impor dengan pembeli dari China. Faktanya masih mencari dan tidak pernah dapat, padahal sudah habiskan uang banyak keliling ikut pameran ke beberapa negara.

10. Program produk jam tangan kayu dan lain-lain yang jelas mahal dan tidak masuk kategori layak jual, itu juga gagal. Parahnya produk assesoris jabon tersebut pesan di kerajinan Yogyakarta dan bukan pabrik sendiri.

11. Di materi presentasi IGIST memiliki tim ahli jabon yang bergelar profesor, akan tetapi faktanya profesor tersebut tidak paham apa-apa dengan bisnis IGIST.

12. Di materi presentasi banyak publik figur dan pejabat publik dari mulai binarawagan, pejabat kepolisian, bupati bahkan sampai menteri kehutanan dan Presiden RI dikatakan mendukung dan merestui gerakan ini. Nyatanya hanya pajangan untuk menaikkan nilai GMN.

13. Di materi presentasi dimana Program Jumbo akan mendapatkan panen bertahap setiap tahun. Faktanya semua bermasalah dan wanprestasi (3 tahun berlalu tanpa kepastian selain info antrean panen yang tidak jelas).

14. Di materi presentasi ada program jumbo spesial (1 miliar) dengan waktu 1 tahun sudah panen. Faktanya sampai saat ini juga gagal total.

15. Direksi telah mengakui cashflow perusahaan tidak memungkinkan untuk menutupi panen yang “hilang”. Kini mitra pohon malah diminta ikut memperbaiki keadaan dengan mencari “downline” dan memasarkan produknya.

 16. Di dalam kontrak, perusahaan bertindak sebagai perawat pohon, nyatanya banyak mitra menemukan pohonnya ada tapi tidak dirawat atau jumlahnya tidak sesuai, bahkan ada mitra yang menemukan pohon mereka tidak ada sama sekali.

17. Dalam kontrak dengan pemilik lahan, PT GMN haru membayarkan pajak bumi dan bangunan (PBB) namun realitanya tidak konsisten (hanya sekali), sehingga pemilik lahan banyak yang menebang pohon jabon dan menjualnya untuk membayar pajak.

 

Omzet dan Potensi Hasil

Berdasarkan keterangan materi presentasi, mitra yang sudah memiliki pohon cadangan sekitar 2 juta pohon. Pohon cadangan perusahaan sama jumlahnya dengan jumlah pohon milik para mitra pohon/investor IGIST. Dengan asumsi 1 hektare ditanam 1.000 pohon, berarti sudah masuk nilai investasi dari sekitar 2.000 hektare.

Jika 1 hektare pada saat itu harganya Rp275 juta maka total omzet sekitar 550 miliar (belum lagi tambahan dari harga paket JUMBO). Beban atau alokasi bonus sistem sekitar 50 persen atau sekitar Rp275 miliar yang menjadi bonus para leader atau mitra aktif secara berjenjang. Sisanya 50 persen  atau sekitar Rp275 milliar untuk alokasi pembibitan, sewa lahan, penanaman, pupuk, pemilharaan sampai panen 5 tahun.

Dengan ilustrasi hasil panen yang ada di materi adalah setiap hektare potensi hasilnya sekitar Rp650 juta berdasarakan asumsi target per pohon 0,9 kubik dengan harga sekitar Rp1.050.000 per kubik (dipotong biaya panen).

Dengan demikian perusahaan dalam lima tahun pada saat panen semua dapat hasilkan pendapatan sekitar Rp650 juta per hektare x 2.000 hektare maka total sekitar Rp1,3 triliun.

Bisa kita hitung dan bayangkan beban perusahaan dari uang yang dialokasikan untuk pohon hanya sekitar Rp275 miliar harus hasilkan Rp1,3 triliun (sekitar 550 persen selama lima tahun).

Mari Bikin Perubahan

PETISI ini adalah upaya para mitra pohon di seluruh Indonesia sampai luar negeri yang sudah panen tapi hasilnya “zonk”, mitra pohon harusnya panen 2020, dan akan panen setelahnya, serta para leader insaf menuntut pertanggung jawaban PT GMN atas kerugian materil yang dialami mitra pohon (kebanyakan menjadi leader).

Mitra pohon berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pekerja migran (TKI) di luar negeri, guru yang menggunakan uang pensiunnya untuk investasi, orang yang mau berangkat haji, ada yang sampai berhutang demi investasi ini, hingga tenaga kesehatan yang saat ini sedang berjuang merawat pasien COVID-19 di rumah sakit pun ikut jadi korban.

Satu per satu grup mitra pohon yang menyadari bahwa bisnis ini tidak lebih dari permainan uang, mulai membuat perlawanan dan saat ini sedang berkonsolidasi.

Para korban IGIST ini menjerit. Jabon impian melayang. Sedekah pohon dan oksigen sia- sia. Gerakan penghijauan dan penyelematan bumi ternyata hanya kedok.

Kami meminta keadilan. Uang kami investasikan pada penanaman jabon melalui PT GMN ternyata tidak pernah kembali. Sementara perusahaan terkesan mengulur- ngulur waktu dengan menjanjikan hasilnya melalui model bisnis lain yang lebih tidak masuk akal. Metode tambal sulam, gali lubang tutup lubang.

Untuk diketahui, uang yang diinvestasikan para mitra pohon beragam dari mulai hanya ratusan ribu, puluhan juta, ratusan juta, hingga Rp1 miliar pun ada.

Kami mengajak semua mitra pohon dari Sabang sampai Merauke, serta negara - negara seperti Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, dll yang berjumlah sekitar 123 ribu untuk bergabung dalam gerakan melawan PT GMN.

Petisi juga terbuka bagi masyarakat yang menaruh atensi terhadap permasalahan investasi bodong, antiponzi, dan praktik tiput- tipu lain yang mengatasnamakan investasi atau gerakan mulia sejahtera. Mari kita sudahi sampai di sini. Jangan sampai ada lagi korban berjatuhan.

Yuk bantu petisi ini agar para penegak hukum terutama polisi  (Polri, Polda, Polres, Polsek) turun tangan mengusut kasus ini dan mendalami pelaporan demi pelaporan yang akan dimasukkan para mitra pohon dari berbagai daerah.

 

Kembalikan hak para mitra pohon !!!

 

Salam,

 

Aliansi Korban Jabon IGIST (PT GMN)

#antijabon

#investasibodong

#penipuan

#hukum