Jatinangor Darurat Infrastruktur: Merosotnya Keamanan dan Inklusivitas di Kawasan Pendidik

Penandatangan terbaru:
vania aneira dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Jatinangor didesignasikan sebagai sebuah wilayah pendidikan pada tahun 1987, semenjak itu jumlah pelajar yang datang ke Jatinangor sudah meranjak menjadi puluhan ribu. 

Ironisnya, meskipun terdesignasikan sebagai sebuah wilayah pendidikan, Jatinangor justru menjadi salah satu wilayah dengan jalan yang sangat rawan terhadap kecelakaan. 

Indirawati (2023) menemukan bahwa setidaknya 90,9% dari jalanan yang berada di Jatinangor tergolong "sangat rawan" terhadap kecelakaan. 

Warga Jatinangor dibatasi hak bergeraknya karena fasilitas dan infrastruktur yang tidak inklusif dan memadai. Kami menuntut pemerintah Kabupaten Sumedang dan Kecamatan Jatinangor memainkan peran yang lebih sentral dalam penataan Jatinangor sebagai sebuah daerah pendidikan. 

Berikut merupakan data dari survei yang menilai tigkat kepuasan masyarakat atas fasilitas dan infrastruktur di Jatinangor.

 

Gambar tersebut merupakan hasil survei yang menunjukan bahwa 65/95 orang setuju bahwa tingkat kebersihan di Jatinangor belum maksimal

 

Berdasarkan diagram, sebagian besar responden menilai fasilitas publik di Jatinangor seperti trotoar dan halte belum memadai dan tidak ramah akses, dengan 43,6% memilih nilai 1 dan 44,7% memilih nilai 2. Hanya 4,2% responden yang merasa fasilitas tersebut sudah cukup baik.

 

 

 

Gambar tersebut merupakan hasil survei yang menunjukan bahwa 78/95 orang setuju bahwa tingkat keamanan di Jatinangor masih sangat rendah. Mayoritas responden (82,1%) merasa tidak aman saat berjalan kaki di fasilitas publik Jatinangor, baik siang maupun malam hari. Hanya 4,3% yang merasa cukup aman hingga sangat aman.

 

Berdasarkan diagram, mayoritas responden (54,7%) menilai kebersihan lingkungan dan fasilitas publik di Jatinangor kurang terjaga. Hanya 3,2% yang merasa kebersihan cukup baik, dan tidak ada yang menilai sangat bersih.

 

Oleh sebab itu kami menutut:

  • Perbaikan trotoar dan jalan berlubang yang berada di sekitar kawasan pendidikan dan tempat-tempat umum lainnya.
  • Penambahan lampu jalan di tempat-tempat yang rawan kecelakaan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi kami semua.
  • Pertegas peraturan mengemudi di jalan raya.
  • Pembangunan infrastruktur yang lebih memadai dan inklusif.
  • Pembatasan jam operasional kendaraan berat di kawasan pendidikan/pemindahan operasional kendaraan berat ke jalan tol Cisumdawu.
     

Ayo, berjuang bersama untuk perubahan ini. Mari kita ciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi generasi mendatang di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

avatar of the starter
Zulfaa MaulidyaaPembuka Petisi

108

Penandatangan terbaru:
vania aneira dan 19 lainnya baru saja menandatanganinya.

Masalahnya

Jatinangor didesignasikan sebagai sebuah wilayah pendidikan pada tahun 1987, semenjak itu jumlah pelajar yang datang ke Jatinangor sudah meranjak menjadi puluhan ribu. 

Ironisnya, meskipun terdesignasikan sebagai sebuah wilayah pendidikan, Jatinangor justru menjadi salah satu wilayah dengan jalan yang sangat rawan terhadap kecelakaan. 

Indirawati (2023) menemukan bahwa setidaknya 90,9% dari jalanan yang berada di Jatinangor tergolong "sangat rawan" terhadap kecelakaan. 

Warga Jatinangor dibatasi hak bergeraknya karena fasilitas dan infrastruktur yang tidak inklusif dan memadai. Kami menuntut pemerintah Kabupaten Sumedang dan Kecamatan Jatinangor memainkan peran yang lebih sentral dalam penataan Jatinangor sebagai sebuah daerah pendidikan. 

Berikut merupakan data dari survei yang menilai tigkat kepuasan masyarakat atas fasilitas dan infrastruktur di Jatinangor.

 

Gambar tersebut merupakan hasil survei yang menunjukan bahwa 65/95 orang setuju bahwa tingkat kebersihan di Jatinangor belum maksimal

 

Berdasarkan diagram, sebagian besar responden menilai fasilitas publik di Jatinangor seperti trotoar dan halte belum memadai dan tidak ramah akses, dengan 43,6% memilih nilai 1 dan 44,7% memilih nilai 2. Hanya 4,2% responden yang merasa fasilitas tersebut sudah cukup baik.

 

 

 

Gambar tersebut merupakan hasil survei yang menunjukan bahwa 78/95 orang setuju bahwa tingkat keamanan di Jatinangor masih sangat rendah. Mayoritas responden (82,1%) merasa tidak aman saat berjalan kaki di fasilitas publik Jatinangor, baik siang maupun malam hari. Hanya 4,3% yang merasa cukup aman hingga sangat aman.

 

Berdasarkan diagram, mayoritas responden (54,7%) menilai kebersihan lingkungan dan fasilitas publik di Jatinangor kurang terjaga. Hanya 3,2% yang merasa kebersihan cukup baik, dan tidak ada yang menilai sangat bersih.

 

Oleh sebab itu kami menutut:

  • Perbaikan trotoar dan jalan berlubang yang berada di sekitar kawasan pendidikan dan tempat-tempat umum lainnya.
  • Penambahan lampu jalan di tempat-tempat yang rawan kecelakaan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi kami semua.
  • Pertegas peraturan mengemudi di jalan raya.
  • Pembangunan infrastruktur yang lebih memadai dan inklusif.
  • Pembatasan jam operasional kendaraan berat di kawasan pendidikan/pemindahan operasional kendaraan berat ke jalan tol Cisumdawu.
     

Ayo, berjuang bersama untuk perubahan ini. Mari kita ciptakan lingkungan yang lebih aman dan berkelanjutan bagi generasi mendatang di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. 

avatar of the starter
Zulfaa MaulidyaaPembuka Petisi

Perkembangan Terakhir Petisi