Petition Closed

2,515
Supporters

Pertama, karena Miss World adalah peradaban dan budaya asing (Barat) yang sekuler dan liberal. Ini jelas tidak sesuai dg budaya lokal dan nilai-nilai Pancasila terutama sila pertama. Peradaban Barat memang bukan menolak agama dan menolak kebaradaan Tuhan, tetapi, tidak memberi peran yang penting kepada Tuhan dan agama dalam sistem berpikir mereka. Itu yang dikatakan Muhammad Asad dalam bukunya “Islam at The Crossroads”: “Western Civilization does not strictly deny God, but has simply no room and no use for Him in its present intellectual system.” (Muhammad Asad, Islam at The Crossroads, (Kuala Lumpur: The Other Press).

Logika berpikir “membuang Tuhan” itulah yang kita jumpai pada logika kontes Miss World. Jangan bicara Tuhan di sini! Jangan bicara moral! Yang ada adalah nilai seni, hiburan, devisa, popularitas, dan keuntungan materi. Ketika “Tuhan” sudah dibuang, maka manusia merasa berhak menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Padahal, ketika itu, manusia pada hakekatnya sedang menjadikan ‘hawa nafsunya’ sebagai Tuhannya. (QS 45:23)

Kedua. Karena tidak sesuai dengan nilai Pancasila sila ke-2, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Terlebih masalah adab. sangat tidak baik untuk pendidikan moral anak bangsa. Inikah yang akan diberikan kepada para anak didik, untuk memperbaiki moral yang semakin merosot? atau acara ini adalah pembuktian bahwa bangsa Indonesia telah dengan suka rela dijajah moralnya utk tidak diper'adab'kan, yakni dengan aktivitas pola fikir sekuler-liberal.

Letter to
Panitia penyelenggara Miss World di Indonesia
Melihat keresahan masyarakat tentang akan diadakannya kontes Miss World 2013 di Indonesia, tentunya Tim Panitia Penyelenggara Miss World juga telah mengetahui keadaan ini. Kontroversi pun muncul, ada pihak yang pro dan ada yang kontra. Sedikit kami ingin sampaikan pandangan kami, tentang Kontes Miss World yang rencana akan diselenggarakan di Indonesia ini.

Mengingat :
Kontes Miss World sudah menjadi ajang kontroversi sejak kontes ini diselenggarakan tahun 1951 dalam bentuk kontes pakaian renang, dengan berbagai argumen di antaranya adalah kutipkan kritik yang pernah ditulis oleh mantan Menteri P&K, Dr.Daoed Joesoef seperti ditulis dalam memoarnya “Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran” (Jakarta: Kompas, 2006)

”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.

”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”

”Apa kata inteleknya tidak perlu dipersoalkan, karena sekarang ini keintelektualan bisa disewa per hari, per minggu, per bulan, per tahun, bahkan permanen, dengan honor yang lumayan. Artinya, even seorang intelek bisa saja melacurkan kemurnian inteleknya karena nurani sudah diredam oleh uang,”

”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang…”

“… setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”

Menimbang:
Pertama, tinjauan sebagai warga Negara yang berideologi Pancasila, berketuhanan yang Maha Esa (agama), kami melihat sebagai umat yang beragama Islam, Kontes Miss World ini jelas melanggar norma-norma Islam, acara ini sangat kontra produktif dan melecehkan status kami sebagai negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia.

Kedua, tinjauan kami dalam sila ke-2 Pancasila, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kemanusiaan yang mendefinisikan manusia sebagaimana hakikat manusia yang sesungguhnya, yang berharkat dan bermartabat tinggi, dibuktikan dengan sikap adil memandang keadaan bangsa yang menginginkan perbaikan moral, adab dan etika yang diterapkan dalam masyarakat. Ajang kontes Miss World ini yang secara garis besar hanya mengeksploitasi wanita secara fisik, sebagaimana telah disampaikan dalam kritisi Dr. Daoed Joesoef di atas, adalah jelas tidak mencerminkan perbaikan moral, etika dan adab.

Dari sisi keagamaan, kami yang mengetahui bahwa pihak yang paling berwewenang adalah pemeluk agama Kristen, dalam ajarannya pun ada data bahwa keharusan perempuan Kristen untuk mengenakan tudung kepala, berpakaian yang sopan. 1Korintus 11:5-6.

Banyak pula argumen lain, seperti yang ada dalam link ini, : http://voices.yahoo.com/should-christian-woman-wear-immodest-dress-like-6014534.html, menjelaskan pula himbauan agar umat kristiani memakai pakaian yang sopan dan beradab. Kontes Miss World sungguh jelas mencerminkan aktifitas yang menciderai harkat dan martabat manusia yang beradab, secara seutuhnya dan seluruhnya (khususnya perempuan).

Maka, dengan penjelasan yang singkat tersebut di atas, kami pemuda pemudi Indonesia memutuskan bahwa kami keberatan dan menolak keras diselenggarakannya Kontes Miss World 2013 di Indonesia.

Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.