Mempetisi Walikota Bandung dan 3 penerima lainnya

Eks Palaguna untuk Hutan Kota dan Cagar Budaya

0

0 telah menandatangani. Mari kita ke 5.000.

Kawasan Alun-Alun Bandung saat ini menjadi kawasan yang orientasinya komersial, tak terkecuali lahan eks Palaguna seluas 10.143 m2 yang rencananya akan dibangun “The Bandung Icon” yang terdiri dari Mall, Hotel, dan Rumah Sakit oleh PD Jawi yang bekerjasama dengan LIPPO Group. Padahal warga Bandung lebih menginginkan lahan eks Palaguna tersebut dialihfungsikan menjadi ruang publik berupa hutan kota dan cagar budaya.

 

Merunut Sejarah Kawasan Alun-Alun Bandung

Kawasan Alun-Alun Bandung menjadi salah satu bagian dari rangkaian pusat-pusat kota yang berada di sepanjang Jalan Raya Pos. Penempatan Alun-Alun Bandung pun mengambil beberapa elemen alam setempat sebagai acuannya, yaitu Sungai Cikapundung dan Gunung Tangkuban Perahu.

Kawasan Alun-Alun Bandung dibangun dengan konsep tata ruang pusat kota tradisional Jawa, dengan Catur Gatra (empat wujud) komponennya adalah; 1) Alun-alun, berupa lapangan terbuka, 2) Pendopo kabupaten, 3) Masjid Agung, sebagai tempat peribadatan utama kota, dan 4) Pasar, sebagai pusat kegiatan ekonomi dan perjumpaan kultural penduduk.

Alun-Alun Bandung sebagai ruang terbuka hijau di depan Pendopo Kabupaten, menjadi pusat kota Bandung yang telah berkembang, akan tetapi kewibawaan Pendopo Kabupaten menjadi sedikit terganggu akibat peletakkan bangunan kediaman assisten residen tepat di seberang Pendopo Kabupaten.

Perubahan bentuk Alun-Alun Kota Bandung yang semula berupa ruang terbuka hijau berbentuk persegi empat dikelilingi jalan di sekitarnya, 1) menjadi halaman masjid berbentuk trapesium, 2) terjadi di awal tahun 2000-an akibat perluasan bangunan masjid yang mengambil penggal Jalan Dewi Sartika dan sebagian lahan masjid. Kondisi inilah yang secara cukup drastis mengubah keaslian bentuk dan makna Alun-Alun Bandung. Keberadaan menara Masjid Agung dan sebelumnya BRI Tower semakin mengerdilkan skala Alun-alun yang seharusnya bersifat monumental.

 

Pembangunan Lahan Eks Palaguna

Lahan eks Palaguna merupakan aset Pemprov Jabar, sedangkan secara perizinan itu berada di tangan Pemkot Bandung. Pembangunan hutan kota dan cagar budaya di lahan eks Palaguna sangatlah penting mengingat jika dibangun mall, hotel, dan rumah sakit memiliki dampak pada lingkungan dan kawasan bersejarah di area Alun-Alun Bandung.

Permasalahan yang akan muncul jika dibangun mall, hotel, dan rumah sakit yaitu bertambahnya kemacetan, limbah sampah, berpotensi mencemari sungai Cikapundung, hingga peningkatan suhu udara di kawasan alun-alun Bandung.

Mall, hotel, dan rumah sakit yang dibangun oleh LIPPO Group di lahan eks Palaguna nantinya akan menjadi milik privat, bukan lagi menjadi milik publik. Pembangunan tersebut pun kenyataannya tidak berpihak pada rakyat, namun pada investor. Sudah menjadi rahasia umum bahwa LIPPO Group merupakan barisan pebisnis kakap yang memiliki daya kapital besar yang banyak mengintimidasi rakyat lewat penyerobotan lahan-lahan dari tangan rakyat demi mengakumulasikan kapitalnya khususnya dalam bentuk properti.

Pembangunan mall, hotel, dan rumah sakit di lahan eks Palaguna berpotensi menambah sampah domestik sebesar 20 ton/hari atau sekitar 600 ton/bulan, menghasilkan limbah berbahaya dan beracun sebesar 1 ton/hari. Pembangunan ini pun berada pada zona merah Cekungan Bandung dan mengambil air tanah sebanyak 100.000 liter/hari yang menyebabkan kualitas air tanah semakin menurun. Sempadan Sungai Cikapundung pun berpotensi rusak dan pepohonan di sana terancam hilang.

 

Mengapa Harus Hutan Kota dan Cagar Budaya?

Pembangunan lahan eks Palaguna perlu mempertimbangkan nilai-nilai signifikasi budaya kawasan alun-alun, baik bersifat ragawi (tangible) dan non-ragawi (intangible). Pembangunan kawasan alun-alun perlu mempertahankan kondisinya sebagai pusat budaya kota dan ruang publik yang terbuka bagi seluruh warga kota, tempat interaksi sosial masyarakat.

Selain menyelamatkan Kawasan Alun-Alun Bandung sebagai cagar budaya dan ruang publik, pembangunan ini pun akan diperuntukkan menjadi hutan kota dan menambah ruang terbuka hijau alami di kota Bandung. Dengan dibangunnya hutan kota di lahan eks Palaguna, Bandung memiliki hutan kota yang tidak hanya memiliki nilai estetika saja tetapi memiliki fungsi ekologis. Suasana di Kawasan Alun-Alun Bandung pun akan lebih nyaman dan sejuk, selain itu akan menambah resapan air, menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dan emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan dan bangunan. Nantinya pula masyarakat kota Bandung akan mendapatkan ruang publik baru untuk rekreasi sekaligus tempat belajar keluarga agar lebih mengenal hal-hal bersejarah di Kawasan Alun-Alun Kota Bandung.

Kenyataannya saat ini RTH Kota Bandung baru mencapai 12,15 % (2.032,21 Ha) dari tota luas lahan Kota Bandung. Padahal sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 % dari luas wilayah kota.

Sampah yang dihasilkan pun lebih sedikit dibanding dibangun mall, hotel, dan rumah sakit sehingga pohon-pohon, burung-burung, ataupun binatang lain di Kawasan Alun-Alun Bandung akan terselamatkan.

Hal lain yang muncul ketika lahan eks Palaguna dibangun hutan kota dan cagar budaya, Kota Bandung akan lebih tercitrakan sebagai kota yang ramah terhadap warganya karena lebih mengutamakan pembangunan ruang publik bukan milik privat. Citra Bandung sebagai kota kembang pun akan makin terasa, bukan Bandung sebagai kota beton.

Jadi tunggu apalagi, mari kita dukung pembangunan lahan eks Palaguna menjadi hutan kota dan cagar budaya. Viralkan pula #saveXpalaguna di setiap postingan akun media sosial kamu sebagai bentuk dukungan pembangunan lahan eks Palaguna menjadi hutan kota dan cagar budaya.

Selain petisi online, kami menyediakan pula petisi dalam bentuk hardcopy yang dapat diambil di sekretariat Walhi Jabar (Jalan Cikutra Baru X No. 5 Bandung).

Salam,

#saveXpalaguna

[ ALIANSI WARGA BANDUNG ]

http://savexpalaguna.com/

Kawan-kawan juga dapat membaca tulisan-tulisan lain yang mendukung pembangunan hutan kota dan cagar budaya di lahan eks palaguna.

  1. Urgensi Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Perkotaan oleh Dadan Ramdan https://www.facebook.com/dadan.r.harja/posts/10210777154218312
  2. Kembalikan ke Alunalun Bandung oleh T Bachtiar http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2017/02/11/kembali-ke-alunalun-bandung-393163
  3. Komersialisasi Eks Palaguna: Gurita Kapitalisme Akut di Jantung Kota Bandung! Oleh Tim Divisi Kajian Strategis GEMA Pembebasan Kota Bandung http://kabarkampus.com/2017/02/komersialisasi-eks-palaguna-gurita-kapitalisme-akut-di-jantung-kota-bandung/
  4. Hutan di Pusat Kota oleh Herry Dim http://www.pikiran-rakyat.com/opini/2017/02/03/hutan-di-pusat-kota-392404
  5. Tinjauan Sejarah dan Signifikansi Budaya Kawasan Alun-Alun Bandung oleh Aji Bimarsono https://drive.google.com/open?id=0BzJOkhmbu44iRXVGVVRabGpEdjFrYU9YUFgzQmtPaGk3a2lV
  6. "Berjalan Mundur Strategi menghadapi Kemajuan" https://syahrazade.com/bandung-savexpalaguna-berjalan-mundur-strategi-menghadapi-kemajuan/
Petisi ini akan dikirim ke:
  • Walikota Bandung
  • Gubernur Jawa Barat
  • DPRD Jawa Barat
  • dprd kota bandung

Sahabat Walhi Jabar telah mulai petisi ini dengan satu tanda tangan dan sekarang memiliki 2.572 pendukung. Mulai petisi hari ini untuk mengubah sesuatu yang kamu pedulikan.




Hari ini: Sahabat mengandalkanmu

Sahabat Walhi Jabar membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Gubernur Jawa Barat: Eks Palaguna untuk Hutan Kota dan Cagar Budaya". Bergabunglah dengan Sahabat dan 2.571 pendukung lainnya hari ini.