Hapus Komponen Nilai USM SD/MI untuk PPDB SMAN di DIY

0 telah menandatangani. Mari kita ke 1.000.


Awalnya JUKNIS PPDB SMAN TA 2020/2021 menggunakan NILAI RAPOR untuk seleksi penerimaan jalur zonasi maupun prestasi. Namun, kemudian muncul petisi FORTUNA yang menyangsikan standarisasi nilai rapor. Petisi itu mengusulkan INDEKS LINIERISASI, yang intinya mengkonversi nilai rapor siswa sebuah SMP dengan rata-rata nilai UN 4 tahun terakhir. Ini agar nilai rapor pada sekolah yang terlalu bermurah hati memberi nilai pada siswa, bisa dikoreksi dengan indeks rata-rata UN 4 tahun terakhir dari SMP tersebut.

Mengakomodir petisi itu, panitia PPDB Tingkat SMA di Provinsi DIY membuat perubahan rumus nilai gabungan untuk PPDB SMAN 2020/2021. Tapi sayang, meskipun maksudnya baik, sebagian dari perubahan rumus tersebut TIDAK TEPAT.

Rumus terbaru nilai gabungan PPDB SMAN 2020/2021 adalah sebagai berikut:

Nilai gabungan=((rata2 rapor SMP x 60%)+nilai rata USM SD/MI x40%)× 80% ) + (rata2UN 4th x10%) + (akreditasi x10%)"

Dari rumus di atas, diketahui terdapat komponen rata-rata UN 4 tahun terakhir (yang ini mengakomodir tuntutan Fortuna) dan rata-rata akreditasi sekolah dalam perhitungan nilai gabungan. Kedua komponen ini SUDAH BAIK, karena ia menandakan bobot sekolah. Agar nilai gabungan bisa sudah mencerminkan skor kualitas asal sekolah.

Yang dianggap TIDAK TEPAT adalah memasukkan nilai siswa rata-rata USM SD/MI kedalam rumus tersebut. Apalagi bobotnya hingga mencapai 40%.

Apakah kualitas monitoring proses KBM dan prestasi siswa SLTP oleh Disdikpora DIY SEBEGITU BURUKNYA, sehingga harus mengambil nilai USM SD/MI untuk menjadi bagian dalam menghitung nilai prestasi siswa SMP untuk masuk ke SMAN?

Menurut hemat kami tidak. Disdikpora DIY telah sangat baik memonitor prestasi siswa SMP di DIY. Siswa-siswa SMP di DIY selama 3 tahun proses KBM, diwajibkan mengikuti ujian semester ataupun ujian kenaikan kelas yang didalamnya digunakan soal-soal standar dari Dinas Pendidikan, terkhusus untuk pelajaran-pelajaran UN. Itu artinya, NILAI-NILAI MURNI siswa telah diambil secara REGULER melalui ujian-ujian dengan soal-soal terstandar dari Dinas Pendidikan selama 6 semester.

Jadi, kalau nilai rapor sekolah diragukan kredibilitasnya sementara UN juga tidak dilakukan, maka penggunaan NILAI-NILAI MURNI UJIAN SISWA dari soal-soal dinas itulah yang mestinya menjadi jalan keluar. Maka sangat aneh kalau PPDB SMAN 2020 harus mengambil dari nilai USM SD/MI.

Memasukkan komponen nilai USM SD/MI kedalam rumus nilai gabungan PPDB SMAN menurut hemat kami juga melenceng dari slogan Pak Nadiem Makarim MERDEKA BELAJAR. Slogan ini salah satunya diartikan sebagai terbebas dari keterkekangan atas SATU METODE PENILAIAN TUNGGAL (semacam UN). Namun, alih-alih menggunakan NILAI-NILAI MURNI dari ujian reguler siswa sepanjang 6 semester, PPDB SMAN justru kembali kepada nilai UN, dan lebih parahnya menggunakan nilai UN (USM) SD/MI yang telah lampau.

Menurut hemat kami, Disdikpora DIY harus berani untuk sedikit bersusah payah mengumpulkan nilai MURNI dari para siswa SMP yang sepanjang 6 semester. Disdikpora harus menghargai jerih payah Siswa SMP yang mengerjakan soal-soal Dinas dalam berbagai ujian selama 6 semester. Jangan karena UN SMP tidak diselenggarakan, lantas Disdikpora mengambil jalan pintas menggunakan nilai USM SD/MI untuk pendaftaran SMAN. Ini sesat akal.  

Kebijakan PPDB SMAN DIY 2020 dalam konteks ini berpotensi menimbulkan kedzoliman. Misalkan ada seorang anak yang dulu tidak beruntung dan mendapatkan nilai buruk pada saat USM SD/MI. Seharusnya ia masih layak berkesempatan untuk masuk SMAN favorit seandainya selama 6 semester di SMP prestasinya sangat baik. Tapi, keinginan itu dapat terberangus dikarenakan nilai jeleknya dulu saat USB SD/MI terus menempel sebagai KARMA yang harus ia bawa-bawa tidak hanya pada saat mendaftar SMP, tapi juga pada saat ia mendaftar di SMAN. Kalau terjadi, ini dzolim.

Oleh karena itu, kami mengusulkan agar PENGGUNAAN nilai USM SD/MI dalam rumus nilai gabungan untuk PPDB SMAN untuk DIHAPUSKAN. Sebagai gantinya, kami mengusulkan penggunaan NILAI-NILAI MURNI siswa pada saat mereka ujian semesteran dan ujian akhir kenaikan kelas yang menggunakan soal dari Dinas.

Jadi, kami usulkan perubahan rumus nilai gabungan berubah menjadi:

Nilai gabungan=((rata2 nilai raport x 60%)+ nilai rata-rata murni siswa dalam ujian soal Diknas selama 6 semester di KBM SMP x40%)× 80% ) + (rata2UN 4th x10%) + (akreditasi x10%).