Tutup Tambang Batu Bara Penyebab Banjir Bengkulu

0 telah menandatangani. Mari kita ke 75.000.


Saya bukan aktivis, cuman videografer yang suka main drone. Saya gak pernah nyangka akan dokumentasiin salah satu banjir paling parah di Bengkulu.

Bulan Maret lalu, saya sedang asyik main drone. Bayangkan betapa kagetnya, waktu layar drone penuh sama gambar area bukaan lahan tambang batu bara di hulu sungai Bengkulu. Padahal, drone saya terbang di ketinggian 300 meter!

Ada 8 izin tambang batubara di hulu sungai Bengkulu. Luasnya ada 21.694 hektar, atau 42% dari total DAS Bengkulu.

Saya inget dulu daerah ini hutan, ada yang daerah konservasi dan hutan lindung. Tapi statusnya diturunkan, mungkin untuk bikin tambang ini. Saya jadi takut, kalau hujan deras dan agak lama, sepertinya habis nih kena banjir.

Ternyata ketakutan saya beneran terjadi sebulan kemudian. Waktu itu Jumat, tanggal 26 April. Hujan gak berenti dari jam 2 siang. Perasaan saya udah gak enak, dan saya kasih tau istri dan mertua saya untuk jaga-jaga.

Besoknya, jam setengah 6 pagi, banjir udah sampai ke rumah tetangga. Istri dan mertua saya pun ngungsi. Jam 9, saya terbangkan drone di ketinggian 300 meter. Gila kagetnya, udah hampir setengah Bengkulu terendam!

24 orang meninggal karena banjir. Ribuan rumah terendam, dan milyaran kerugian. Kita semua mungkin tau penyebabnya. Hutan dan area resapan air untuk tahan air hujan udah jadi galian batu bara.

Sejak ada tambang, banjir makin intens. Dulu setahun sekali, jadi dua kali setahun, dan akhirnya, setengah Bengkulu harus berenang. Tahun 1989, banjir sebesar ini sebabnya hujan 1 minggu, sekarang 8 jam aja tanah kita ga bisa tahan.

Saya mau ajak kalian minta ke Gubernur Bengkulu dan Presiden Jokowi untuk:

  1. Tutup Tambang Batu Bara yang melakukan kerusakan hutan di Daerah Hulu Sungai penyebab Banjir Bengkulu
  2. Lakukan pengawasan dan penegakan hukum terhadap pemegang konsesi pertambangan terkait pelanggaran konsesi, kewajiban reklamasi dan restorasi bekas tambang
  3. Lanjutkan moratorium perizinan konsesi pertambangan dan perkebunan sawit.

Biar hal serupa gak terjadi lagi. Di Bengkulu, dan di tempat lainnya.

 

Salam,

Edi Prayekno