Evaluasi Tarif Grab Car, Wujudkan Tarif yang adil bagi driver

16

Ayo dapatkan 25 tanda tangan!
Petisi dengan lebih dari 1.000 pendukung 5 kali lebih mungkin untuk menang!

Masalahnya

SURAT TERBUKA UNTUK GRAB INDONESIA


Tarif GrabCar, Potongan Biaya, dan Kesejahteraan Driver


Kepada Yth.
Manajemen Grab Indonesia


Saya menulis ini sebagai driver GrabCar sekaligus pengguna GrabCar.


Ketika sedang tidak menarik penumpang, saya juga menggunakan Grab sebagai salah satu sarana untuk menunjang aktivitas dan pekerjaan saya. Karena itu, saya bisa melihat persoalan ini dari dua sisi: sebagai driver dan sebagai penumpang.


Ada beberapa hal yang ingin saya pertanyakan secara terbuka kepada Grab Indonesia.
1. Apakah tarif GrabCar saat ini sudah manusiawi?
Sebagai contoh, tarif GrabCar standar dari Ciledug menuju kawasan Permata Hijau bisa berada di kisaran Rp21.000.
Rp21.000 untuk sebuah perjalanan menggunakan mobil dengan pengemudi.
Driver harus mengeluarkan BBM, menanggung biaya perawatan, oli, ban, pajak, penyusutan kendaraan, biaya cuci kendaraan, serta waktu dan tenaga di jalan.
Belum lagi driver harus menuju titik penjemputan, yang juga membutuhkan waktu dan BBM.
Apakah dengan kondisi seperti ini Rp21.000 masih merupakan tarif yang manusiawi bagi driver?
Bahkan secara sederhana kita bisa bertanya:
Becak dan bemo saja mungkin akan berpikir dua kali kalau dihargai Rp21.000 untuk perjalanan dengan kondisi lalu lintas seperti di Jakarta. Lalu bagaimana dengan kendaraan roda empat yang memiliki biaya operasional jauh lebih besar?


2. Penumpang sebenarnya tidak selalu keberatan membayar lebih
Saya ingin meluruskan satu hal.
Tidak semua penumpang menginginkan tarif semurah-murahnya.
Saya sendiri sebagai pengguna GrabCar justru bersedia membayar sedikit lebih mahal, apabila tarif tersebut membuat driver mendapatkan penghasilan yang lebih layak dan pada akhirnya mampu memberikan pelayanan yang lebih baik.
Karena saya percaya:
Driver yang sejahtera akan lebih mampu memberikan pelayanan yang maksimal.
Kita tentu ingin naik mobil yang:
AC-nya dingin,
bersih,
wangi dan nyaman,
kendaraannya terawat,
dan drivernya tidak harus mengejar order secara berlebihan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jangan sampai kita terus menekan harga perjalanan, tetapi pada saat yang sama menuntut pelayanan yang semakin tinggi.
Pelayanan berkualitas membutuhkan biaya.


3. Bagaimana dengan berbagai potongan dan biaya lainnya?
Ini juga menjadi pertanyaan penting bagi kami sebagai driver.
Selain persoalan tarif, kami ingin mengetahui secara transparan: apakah seluruh potongan dan biaya yang dibebankan kepada driver benar-benar sesuai dengan perjanjian kemitraan yang telah disepakati?
Kami ingin mengetahui dengan jelas:
Berapa tarif sebenarnya yang dibayar penumpang?
Berapa yang menjadi hak driver?
Berapa yang dipotong sebagai biaya layanan/platform?
Apakah masih terdapat potongan atau biaya lainnya?
Dan yang paling penting:
Apakah seluruh komponen potongan tersebut sudah sesuai dengan perjanjian kemitraan yang disepakati antara Grab dan driver?
Jika memang seluruhnya sesuai, mohon dijelaskan secara transparan dan mudah dipahami oleh para driver.
Kami tidak ingin hanya melihat angka pendapatan akhir di aplikasi.
Kami ingin memahami bagaimana angka tersebut terbentuk.
Karena transparansi bukan hanya mengenai "berapa persen potongannya", tetapi juga mengenai ke mana setiap rupiah dari tarif yang dibayarkan konsumen dialokasikan.


4. Jangan sampai tarif murah mengorbankan kualitas pelayanan
Grab memiliki kepentingan untuk menjaga agar penumpang mendapatkan harga yang kompetitif.
Driver juga memiliki kepentingan untuk mendapatkan penghasilan yang layak.
Dan penumpang memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik.
Ketiganya sebenarnya tidak harus bertentangan.
Yang dibutuhkan adalah sistem tarif yang lebih seimbang.
Saya percaya banyak penumpang yang akan mengatakan:
"Saya tidak masalah membayar Rp5.000–Rp10.000 lebih mahal, asal driver mendapatkan bagian yang layak dan pelayanan yang saya terima memang lebih baik."
Daripada tarif dibuat serendah mungkin, tetapi driver harus mengejar order sebanyak-banyaknya, kendaraan kurang terawat, AC kurang dingin, mobil kurang bersih, dan akhirnya penumpang juga yang dirugikan.


GRAB, KAMI TIDAK MEMINTA BELAS KASIHAN
Kami hanya meminta sistem yang adil dan manusiawi.
Tarif yang wajar bagi penumpang.
Penghasilan yang layak bagi driver.
Kendaraan yang terawat.
Pelayanan yang maksimal.
Dan transparansi mengenai seluruh potongan serta biaya yang dikenakan kepada driver.
Karena di balik setiap perjalanan GrabCar ada manusia yang mengemudi.
Ada kendaraan yang harus dirawat.
Ada BBM yang harus dibeli.
Ada waktu yang harus diberikan.
Dan ada keluarga yang harus dinafkahi.
Jangan hanya melihat driver sebagai angka dalam sistem.
Lihat kami sebagai mitra dan manusia yang menjalankan layanan Grab di lapangan.


Saya adalah driver GrabCar.
Saya juga pengguna GrabCar.
Dan justru karena saya berada di kedua sisi tersebut, saya berharap Grab Indonesia mau mendengarkan suara ini :
Kami tidak menuntut tarif yang mahal tetapi
Kami menuntut tarif yang wajar,
Kami tidak menolak keuntungan perusahaan.
Kami hanya meminta pembagian yang transparan dan adil.


Karena Grab yang kuat bukan hanya Grab yang memiliki banyak penumpang, tetapi Grab yang juga mampu membuat driver dan penumpangnya merasa dihargai.


Hormat saya,
Seorang Driver GrabCar sekaligus Pengguna GrabCar

avatar of the starter
Pasar LawasanPembuka Petisi

Perkembangan Terakhir Petisi