Dukungan untuk K.H. Yahya Cholil Staquf agar Tetap Mengemban Amanah di MWA UI


Dukungan untuk K.H. Yahya Cholil Staquf agar Tetap Mengemban Amanah di MWA UI
Masalahnya
Dengan penuh hormat dan rasa tanggung jawab kebangsaan, kami menyampaikan dukungan dan penghargaan setinggi-tingginya kepada K.H. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, untuk tetap mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia.
Keberadaan K.H. Yahya Cholil Staquf di MWA UI bukan sekadar representasi individu, melainkan simbol hadirnya nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa: integritas moral, kearifan keagamaan, dan komitmen kebangsaan. Sebagai pemimpin organisasi Islam terbesar di dunia sekaligus tokoh dengan pengalaman panjang dalam membangun dialog lintas agama dan peradaban, beliau menghadirkan jembatan kokoh antara moralitas keagamaan, kebangsaan, dan dunia akademik. Kehadiran beliau sejalan dengan visi Universitas Indonesia sebagai kampus unggulan yang menjunjung keberagaman, keterbukaan, dan komitmen kebangsaan.
Kami menaruh hormat pada sikap ksatria dan kerendahan hati K.H. Yahya Cholil Staquf yang dengan tulus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kekhilafan dalam mencermati latar belakang narasumber pada sebuah forum akademik. Langkah tersebut bukanlah kelemahan, melainkan cerminan kedewasaan moral, kejujuran, dan integritas—nilai-nilai yang amat berharga bagi dunia pendidikan tinggi. Di tengah era yang kerap dipenuhi pembenaran diri, sikap berani mengakui kekhilafan justru menunjukkan kualitas kepemimpinan sejati.
Lebih jauh, keberadaan K.H. Yahya Cholil Staquf di MWA UI adalah pengingat bahwa universitas tidak hanya berhimpun untuk membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan nurani kemanusiaan. Sosok beliau menegaskan bahwa moralitas, spiritualitas, dan intelektualitas dapat bersinergi secara harmonis. Dukungan terhadap beliau berarti juga menjaga integrasi antara ilmu dan nilai, antara kecerdasan dan kebijaksanaan, antara keberanian akademik dan kehalusan budi.
Atas dasar itu, kami menolak segala bentuk tekanan, penghakiman sepihak, maupun upaya menyeragamkan pandangan yang mengabaikan konteks, niat baik, serta pengabdian tulus beliau. Sebaliknya, kami percaya bahwa keberadaan K.H. Yahya Cholil Staquf di MWA UI akan terus menghadirkan kontribusi besar bagi terciptanya ruang akademik yang inklusif, terbuka, dan berpihak pada kemaslahatan umat serta bangsa.
Dukungan ini bukan semata-mata pengakuan atas reputasi pribadi, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga marwah kebangsaan, keluhuran nilai akademik, serta keberlangsungan tradisi intelektual yang beradab. K.H. Yahya Cholil Staquf adalah teladan moral yang menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian, kerendahan hati, dan komitmen pada kebenaran.
Mari kita dukung bersama beliau untuk tetap mengemban amanah di Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia—demi UI yang berwawasan kebangsaan, demi generasi muda yang berkarakter, dan demi bangsa yang senantiasa dijaga martabatnya.
1.918
Masalahnya
Dengan penuh hormat dan rasa tanggung jawab kebangsaan, kami menyampaikan dukungan dan penghargaan setinggi-tingginya kepada K.H. Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, untuk tetap mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia.
Keberadaan K.H. Yahya Cholil Staquf di MWA UI bukan sekadar representasi individu, melainkan simbol hadirnya nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa: integritas moral, kearifan keagamaan, dan komitmen kebangsaan. Sebagai pemimpin organisasi Islam terbesar di dunia sekaligus tokoh dengan pengalaman panjang dalam membangun dialog lintas agama dan peradaban, beliau menghadirkan jembatan kokoh antara moralitas keagamaan, kebangsaan, dan dunia akademik. Kehadiran beliau sejalan dengan visi Universitas Indonesia sebagai kampus unggulan yang menjunjung keberagaman, keterbukaan, dan komitmen kebangsaan.
Kami menaruh hormat pada sikap ksatria dan kerendahan hati K.H. Yahya Cholil Staquf yang dengan tulus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas kekhilafan dalam mencermati latar belakang narasumber pada sebuah forum akademik. Langkah tersebut bukanlah kelemahan, melainkan cerminan kedewasaan moral, kejujuran, dan integritas—nilai-nilai yang amat berharga bagi dunia pendidikan tinggi. Di tengah era yang kerap dipenuhi pembenaran diri, sikap berani mengakui kekhilafan justru menunjukkan kualitas kepemimpinan sejati.
Lebih jauh, keberadaan K.H. Yahya Cholil Staquf di MWA UI adalah pengingat bahwa universitas tidak hanya berhimpun untuk membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga menumbuhkan nurani kemanusiaan. Sosok beliau menegaskan bahwa moralitas, spiritualitas, dan intelektualitas dapat bersinergi secara harmonis. Dukungan terhadap beliau berarti juga menjaga integrasi antara ilmu dan nilai, antara kecerdasan dan kebijaksanaan, antara keberanian akademik dan kehalusan budi.
Atas dasar itu, kami menolak segala bentuk tekanan, penghakiman sepihak, maupun upaya menyeragamkan pandangan yang mengabaikan konteks, niat baik, serta pengabdian tulus beliau. Sebaliknya, kami percaya bahwa keberadaan K.H. Yahya Cholil Staquf di MWA UI akan terus menghadirkan kontribusi besar bagi terciptanya ruang akademik yang inklusif, terbuka, dan berpihak pada kemaslahatan umat serta bangsa.
Dukungan ini bukan semata-mata pengakuan atas reputasi pribadi, melainkan bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga marwah kebangsaan, keluhuran nilai akademik, serta keberlangsungan tradisi intelektual yang beradab. K.H. Yahya Cholil Staquf adalah teladan moral yang menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian, kerendahan hati, dan komitmen pada kebenaran.
Mari kita dukung bersama beliau untuk tetap mengemban amanah di Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia—demi UI yang berwawasan kebangsaan, demi generasi muda yang berkarakter, dan demi bangsa yang senantiasa dijaga martabatnya.
1.918
Perkembangan terakhir petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 28 September 2025