Selamatkan Gajah Sumatra!! Percepat Penyelesaian Hukum Penyerobotan Habitat Gajah

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


Penyerobotan lahan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berakhir dengan pengerahan masa yang berujung tindakan anarkis warga kepada Petugas Balai Konservasi  Sumber Daya Alam, Sumatra Selatan sangat berdampak langsung terhadap keselamatan 10 Ekor Gajah Sumatera ( Elephas maximus sumatranus ) yang hidup di area Hutan Suaka Alam (HSA) Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau Lahat sudah terjadi sejak Bulan Agustus 2018.

baca selengkapnya:

https://tekno.tempo.co/read/1187274/konflik-lawan-warga-8-gajah-di-hutan-konservasi-lahat-dievakuasi/full&view=ok

https://kompas.id/baca/nusantara/2019/03/20/kekurangan-pakan-delapan-gajah-latih-di-lahat-dipindahkan-ke-banyuasin/

https://www.merdeka.com/peristiwa/habitat-diserobot-warga-8-gajah-sumatera-di-lahat-dievakuasi.html

https://sumeks.co/delapan-gajah-lahat-mengungsi-ke-banyuasin/?page28332434234=57

Pada Tahun 1991 Pusat Latihan Gajah Sarelo mulai beroperasi di kabupaten Lahat.

1)Tahun 1994, kawasan Suaka Alam/Pusat Latihan Gajah telah dilakukan penataan batas di lapangan serta ditandatangani Berita Acara Tata Batas oleh Panitia Tata batas Hutan Kabupaten Lahat yang diangkat oleh Gubernur Sumatera Selatan dengan Keputusan 095/SK/I/1991 tanggal 4 Februari 1991, dan diketahui luasnya adalah 210 (dua ratus sepuluh) hektar sebagai mana Berita Acara Tata Batas tanggal 24 Maret 1994.

2)Tahun 2001 sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor : 76/Kpts-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 telah menunjuk kawasan hutan dan perairan di wilayah Provinsi Sumatera Selatan seluas ± 4.416.837 Ha, diantaranya adalah kawasan Pusat Latihan Gajah seluas 210 hektar menjadi Taman Wisata Alam.

3)Tahun 2009, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia nomor : SK.737/MENHUT-II/2009 tanggal 19 Oktober 2009, kawasan hutan yang sebelumnya ditunjuk menjadi Taman Wisata Alam seperti yang dijelaskan pada butir (3) di atas berubah fungsinya dan ditetapkan menjadi Kawasan Hutan Suaka Alam /Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau, di wilayah Provinsi Sumatera Selatan dengan luas 210 (dua ratus sepuluh) hektar.

Berdasarkan status kawasan Hutan Suaka Alam (HSA) Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau :

Dengan jelas tertera bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan yang SAH dan memiliki KEKUATAN HUKUM serta berstatus sebagai Tanah Negara yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutan Republik Indonesia yang diperuntukkan sebagai tempat Konservasi Gajah Sumatra serta Edukasinya dan BUKAN MERUPAKAN TANAH YANG BEBAS UNTUK DIEXPLOITASI DILUAR PERUNTUKKANYA.

MASALAH YANG TIMBUL:

Terkait dengan masalah tersebut gajah sumatera ( Elephas maximus sumatranus ) yang berstatus sebagai hewan langka dan dilindungi Negara Republik Indonesia menjadi terancam keberadaannya oleh beberapa oknum masyarakat yang berusaha terus mendesak gajah untuk keluar dari area sumber Makanan dan Minum. Dampak yang terjadi adalah 8 dari 10 ekor Gajah dengan terpaksa harus dievakuasi ketempat yang lebih aman ke Pusat Latihan Gajah Jalur 21 di Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang berlokasi di Banyuasin, Sumatra Selatan. Gajah Sumatra tersebut akan tinggal disana sampai masalah ini bisa terselesaikan dan kondisi Pusat Latihan Gajah Sarelo, Lahat kembali aman dan kondusif.

Sejak bulan Agustus 2018 hingga bulan Maret 2019, masalah ini terus bergulir walaupun telah dilakukan berbagai upaya penyelesaian masalah oleh berbagai pihak, seperti dilakukanya beberapa kali mediasi antara pihak berwenang serta masyarakat, namun tidak pernah menghasilkan titik terang. Pada puncaknya, awal tahun 2019 terdapat peristiwa anarkis yang dilakukan oleh oknum warga dan berujung terancamnya kehidupan 10 ekor Gajah Sumatera di lokasi tersebut.

Dampak yang akan terjadi apabila masalah ini tidak terselesaikan adalah hilangnya habitat untuk 10 ekor Gajah Sumatra di tanah negara yang diperuntukkan untuk konservasi gajah dan pendidikan yang berlokasi di Kabupaten Lahat dan secara otomatis masyarakat Lahat akan kehilangan satwa kebanggaan yang selama ini menjadi ikon Lahat (Indonesia).

Efek jangka panjang yang akan timbul apabila masalah ini tidak dianggap menjadi masalah serius adalah akan ada banyak bermunculan oknum masyarakat yang mengklaim tanah/hutan negara yang secara hukum terlindungi menjadi area yang bebas untuk dieksploitasi.

Dalam hal ini kami berharap :

1) Kepada Ibu Menteri Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. segera mungkin dapat mengambil keputusan dan tindakan nyata dalam upaya penyelamatan Gajah Sumatera dan Penyelamatan area Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau Lahat, Sumatra Selatan yang keberadaannya terancam akibat masalah penyerobotan lahan yang tidak berkesudahan.

2. Kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia agar dapat meninjau dan mengawasi proses hukum yang telah berjalan serta mempercepat proses penyelesaiannya.