TURUNKAN TARIF KERETA API JARAK JAUH, PT KAI JANGAN HANYA KEJAR LABA!

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Berdasarkan katadata, Jumlah Penumpang Kereta APi Jarak Jauh (Non Jabodetabek) relatif stabil di atas angka 50juta penumpang. Tahun 2017 = 70,5 juta penumpang, tahun 2016 = 65,2 juta penumpang, tahun 2015 63,1 juta penumpang, tahun 2014 64,1 juta penumpang. Sedangkan penumpang kereta api jabodetabek mengalami peningkatan yang sangat tinggi dari 208,5 juta penumpang tahun 2014 menjadi 315,9 juta penumpang di tahun 2017.

Berdasarkan media daring Okezone, Tempo, dan Bisnis, Laba Bersih PT KAI sejak tahun 2016 selalu di atas Rp 1 triliun. Pada 2016, KAI berhasil membukukan laba bersih Rp 1,02 triliun. Tahun 2017, perolehan laba perusahaan naik menjadi Rp 1,4 triliun. Sedangkan pada 2018, Laba bersih diproyeksikan sebesar Rp 1,7 triliun.

Dalam pemberitaan Liputan 6, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menyatakan telah menghapus subsidi Public Service Obligation (PSO) untuk lima kereta api (KA) ekonomi pada 2019, yaitu KA Logawa (Purwokerto–Jember), KA Brantas (Blitar–Pasar Senen), KA Pasundan (Surabaya Gubeng–Kiaracondong Bandung), KA Gaya Baru Malam Selatan (Surabaya Gubeng–Pasar Senen), dan KA Matarmaja (Malang–Pasar Senen).

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, mengatakan bahwa harga tiket kelima kereta api ekonomi tersebut tidak akan naik meskipun PSO telah dicabut. Padahal, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kembali menaikkan besaran subsidi Public Service Obligation (PSO) untuk pelayanan kereta api kelas ekonomi pada 2019. Anggaran sebesar Rp 2,373 triliun untuk subsidi PSO pada 2019, meningkat 4,5 persen dari total PSO 2018 yang mencapai Rp 2,270 triliun. 

Untuk PSO 2019 ini, pihaknya fokus pada pemberian subsidi bagi kereta commuter. Besaran subsidi PSO Tahun 2019 yang dialokasikan untuk kereta commuter sebesar kurang lebih Rp 1,3 triliun. Artinya penikmat subsidi mayoritas adalah masyarakat Jabodetabek.

Praktik subsidi adalah sebuah fasilitas pelayanan pemerintah kepada rakyatnya di seluruh wilayah negara, tidak hanya jabodetabek. Menurut Analis Kebijakan Transportasi Azas Tigor Nainggolan, langkah penghapusan atau pencabutan subsidi tarif beberapa kereta api kelas ekonomi tidak tepat. Dampak kebijakan itu akan memberatkan masyarakat secara ekonomi jika ingin melakukan perjalanan antarprovinsi. Negara maju sekali pun, seperti di Eropa, memberikan subsidi hingga 60 persen kepada pengguna transportasi umum massal kereta.

Menurut UU No. 19 tahun 2003, salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN memang antara lain adalah mengejar keuntungan. Namun demikian, meskipun maksud dan tujuan Persero adalah untuk mengejar keuntungan, namun dalam hal-hal tertentu untuk melakukan pelayanan umum, Persero dapat diberikan tugas khusus dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan yang sehat. Salah satu diantara penugasan khusus adalah dterkait penugasan PSO.

Berdasarkan pantauan di web Traveloka pada Rabu, 16 Januari 2019 sekira pukul 22.30 WIB, harga tiket Majapahit dan Jayabaya relasi Pasar Senen (Jakarta) - Malang tanggal 1 Maret 2019 sebesar Rp350rb untuk kelas ekonomi. Sedangkan relasi Pasar Senen (Jakarta) - Yogyakarta Rp300rb-Rp350rb untuk kelas ekonomi. Sementara tiket pesawat paling murah pada tanggal yang sama Jakarta-Yogyakarta hanya Rp358.800. Harga tiket tanggal 18 Januari 2019 pun sama dengan harga tiket tanggal 1 Maret 2019. Biasanya, tarif tiket kereta-kereta tersebut hanya sekira Rp200rb an. 

Pada Rabu 5 Juli 2017 silam, saat ditemui di Kompleks DPR/MPR RI, Menhub mengatakan bahwa presiden telah memberikan instruksi agar keputusan dalam menaikan tarif kereta api dilakukan dengan perhitungan yang matang.

"Bapak Presiden juga menginstruksikan kepada kami dalam memberikan kenaikan tiket kereta khususnya di ekonomi harus hati-hati. Jadi kami akan mempertimbangkan subsidi akan tetap dilakukan atau kita minta justru kereta api kurangi keuntungan supaya harganya tetap," imbuhnya dikutip dari Okezone.

Di negara yang luas seperti Indonesia, keberadaan kereta api berperan penting dalam perkembangan dan kemajuan negara. Namun, kenaikan harga tiket kereta cukup mencekik masyarakat Indonesia yang akan bepergian menggunakan kereta. Apalagi, tak sedikit masyarakat Indonesia yang menjadi perantau Pulang Jumat Kembali Ahad (PJKA) yang bekerja di luar kampung halaman. 

Ditambah dengan gerakan promosi "Wonderful Indonesia" yang saat ini digalakkan Pemerintah Indonesia dalam menarik wisatawan. Naiknya tiket kereta sampai ke tarif batas atas di waktu yang normal (bukan liburan) tentu menjadi hambatan tersendiri bagi wisatawan untuk menjelajah sebagian wilayah Indonesia. Ironi.

Maka daripada itu mari kita ajukan petisi agar PT Kereta Api Indonesia lebih memikirkan kemajuan pariwisata Indonesia dan kemampuan masyarakat Indonesia dalam membeli tiket kereta. PT. KAI jangan semata-mata hanya murni mengejar keuntungan semata. Pencapaian laba sebesar lebih dari Rp1 triliun sudah cukup besar bagi BUMN.

Turunkan harga tiket kereta api, PT KAI jangan hanya mengejar untung semata! 
Berikan alokasi PSO kepada kereta api jarak jauh yang lebih besar agar PSO dinikmati tidak hanya oleh masyarakat jabodetabek!