Jangan Hentikan Transportasi Online di Cirebon

0 telah menandatangani. Mari kita ke 2.500.


Dalam dunia bisnis, persaingan adalah keniscayaan. Tak ubahnya warung bersaing dengan minimarket. Begitu pula transportasi angkutan umum dengan transportasi online.

Sebagai konsumen, kami tidak membutuhkan bagaimana metode bisnis itu. Yang kami butuhkan hanya moda transportasi murah, fleksibel, dan cepat. Kami ingin tarif murah karena kebutuhan kami sudah banyak. Kami ingin angkutan fleksibel karena kami ingin mobilitas tinggi. Kami ingin cepat untuk mendukung mobilitas tersebut. Begitu keinginan kami, sebagai cerminan manusia modern saat ini.

Sebenarnya tidak harus tranportasi online yang kami inginkan. Apa pun transportasinya, asalkan semua aspek tadi terpenuhi. Kami tidak melihat jenisnya, tetapi kami melihat bagaimana transportasi itu bekerja.

Masalahnya, belakangan, di Cirebon, transportasi online muncul dan memenuhi keinginan kami. Jadi, kami pilih moda transportasi pribadi yang bisa diakses online itu. Kami tetap ingin ada transportasi online di Cirebon. Tetapi, kalau pemerintah siap menyediakan transportasi umum yang baik dan sesuai aspek tadi, sudah barang tentu kami pilih transportasi pilihan pemerintah. 

Ketahuilah, Bapak/Ibu di pemerintahan, kami ingin moda transportasi yang aman. Jangan sampai banyak copet di dalamnya. Jangan sampai sang supir ugal-ugalan hingga mengancam keselamatan. Jangan sampai banyak ngetem hingga membuang waktu kami sebagai konsumen. 

Kalau perizinan transportasi online dipertanyakan, lantas bagaimana dengan rental mobil atau ojek pangkalan? Bagaimana membedakan transpotasi online dan non-online? Bagaimana membedakan ojek pangkalan dengan ojek online? Bagaimana membedakan mobil rental yang bawa penumpang? 

Kalau transportasi online dilarang, itu artinya sama saja kami konsumen dilarang menggunakan ojek pangkalan, dilarang menggunakan becak, dilarang menggunakan mobil rental.

Saya pernah dengar, di kota lua Cirebon, supir angkot bersahabat dengan supir taksi online. Katanya, si supir angkot itu paham bahwa zaman teknologi mengubah keadaan sosial. Semua serba online. Pesan makanan via online. Urus ktp via online. Ini itu serba online, hingga transportasi pun inginnya online. 

Bukan cuma itu, ternyata si supir angkot itu tahu betul bagaimana bisnis. Di dalam bisnis, persaingan adalah hal yang wajar. Yang tidak wajar adalah persaiangan yang tidak sehat, menggunakan cara-cara curang. 

Nah, dari sisi supir taksi online, kabarnya mereka senang karena dapat bonus. Ada iming-iming bonus dari perusahaan penyedia transportasi online. Inilah yang membuat transportasi online jadi murah. Si supir mau mengantarkan penumpang dengan tarif yang cukup beli permen, namun ia bakal diganjar bonus. Kalau saja pemerintah berani seperti perusahaan itu, saya yakin tarif akan sangat bersaing antara transportasi online dan non online. Inilah salah satu sumber masalahnya, supir angkot dibebani iuran dan setoran ini itu sementara supir taksi online diberi bonus. 

Intinya, supir taksi online dan supir angkot sama-sama menawarkan jasa. Sama-sama mencari rezeki. Sama-sama hidup di jalan raya. Bedanya, yang online melayani dari pintu ke pintu melalui akses online serta dapat bonus. Sedangkan supir angkot menaikkan dan menurunkan penumpang di pinggir jalan, halte, dan terminal, serta dibebani setoran. 

Apa pun itu, sekali lagi, saya dan konsumen lainnya hanya ingin transportasi yang aman, nyaman, murag, dan fleksibel. Ingatlah Bapak/Ibu, katanya mereka yang gabung jadi supir ojek dan taksi online di Cirebon sudah mencapai ribuan orang. Jika dihentikan, itu artinya ribuan orang tersebut kehilangan pekerjaan. 



Hari ini: Nana mengandalkanmu

Nana Cirebon membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Dinas Perhubungan: Jangan Hentikan Transportasi Online di Cirebon". Bergabunglah dengan Nana dan 1.719 pendukung lainnya hari ini.