Cosmas Kaje Gae "Tumbal Elite Politik"


Cosmas Kaje Gae "Tumbal Elite Politik"
Masalahnya
Cosmas Kaje Gae "Tumbal elite Politik"
Akhir Agustus Jakarta memanas, Demo “ketidak empatian”para elite politik di Gedung DPR berakhir ricuh .Korban materi tak terbilang harganya.Nyawa anak bangsa pun terenggut sia sia . Affan Kurniawan, pengemudi ojek online tewas dilindas mobil rantis yang di nakhodai prajurit yang patuh perintah, Kompol Cosmas Kaje Gae .Tragedi itu menjadi duka bangsa. Affan dan Kompol Kosmos Kaju Gae hanyalah rakyat. Namun mereka di adu dalam kisah tragis. Lagi lagi rakyat yang menjadi tumbal elite politik.
Tindakan "elite politik menumbalkan rakyat" sangat berdampak fundamental. Ketika rakyat merasa dikhianati atau dikorbankan, kepercayaan mereka terhadap pemerintah dan institusi politik akan hancur. Kepercayaan adalah fondasi dari setiap tatanan masyarakat yang stabil. Tanpa itu, legitimasi kekuasaan akan terkikis. Ini menjadi “warning” bagi pemerintah, jika dibiarkan bisa berujung pada kekacauan sosial dan politik yang berkepanjangan.
Elite politik seringkali menggunakan isu-isu sensitif seperti suku, agama, atau golongan untuk memecah belah rakyat agar agenda mereka lebih mudah dicapai. Taktik ini memperkuat polarisasi dan menciptakan konflik horizontal di antara masyarakat, sementara elite politik mengambil keuntungan di balik layar. Demokrasi seharusnya melayani rakyat. Ketika elite politik justru mengorbankan rakyat, sistem demokrasi kehilangan maknanya. Pemilu menjadi formalitas, hak-hak sipil diabaikan, dan kekuasaan cenderung disalahgunakan. Ini bisa berujung pada rezim otoriter di mana penguasa tidak lagi peduli pada aspirasi rakyat.
Ketimpangan ekonomi yang terjadi saat ini, memungkinkan People power terjadi. Seringkali, "pengorbanan" rakyat dilakukan melalui kebijakan ekonomi yang tidak adil. Lebih memperkaya segelintir elite sambil memiskinkan mayoritas masyarakat, sehingga jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Rakyat kecil menjadi korban dari kebijakan pembangunan yang tidak berpihak pada mereka.
Secara keseluruhan, tindakan elite politik yang menumbalkan rakyat adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah kekuasaan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada masalah politik atau ekonomi, tetapi juga merusak fondasi moral dan sosial dari sebuah negara. Pemulihan kepercayaan dan stabilitas akan membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa menimbulkan trauma kolektif yang sulit disembuhkan.
Vonis bagi Kompol Cosmas Kaja Gae, menyeruak rasa ketidakadilan bagi rakyat. Ia menjadi tumbal elite politik. Betapa tidak, putra daerah asal Laja Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur itu divonis tidak profesional dalam penanganan aksi unjuk rasa pada 28 Agustus 2025, yang berujung tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Cosmas adalah Komandan Batalyon A Resimen 4 Pasukan Pelopor Korps Brimob yang berada di dalam kendaraan taktis (rantis) Brimob saat peristiwa pelindasan Affan terjadi.
Dalam putusan majelis etik, Cosmas diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) sebagai anggota Polri. Tak ada pembelaan dari institusi di mana Kosmos mengabdi dengan hati dan keyakinannya. Penyelidikan pun tak dilakukan, Prajurit pemberani itu, di mata rakyat Indonesia hanyalah seorang pembunuh. Sementara para pejabat dan elite politik yang dibela olehnya duduk manis di kursinya. Sungguh ini tak adil wahai penguasa.
Demonstrasi yang memakan korban jiwa sering kali menjadi "alarm" bagi elite politik. Kematian warga sipil, terutama mahasiswa, dapat memicu kemarahan publik yang lebih luas dan memaksa para elite untuk merespons. Permintaan maaf menjadi hal standar yang dilakukan oleh pemerintah dan menjanjikan reformasi dan perubahan kebijakan. Namun ingat suara publik yang dilecehkan terus-menerus bisa meledak menjadi kemarahan besar.
Meskipun ada janji-janji perubahan, tidak ada jaminan bahwa perubahan itu akan terjadi secara signifikan. Respons dari elite politik hanya bersifat retoris atau basa-basi untuk meredam amarah publik tanpa ada implementasi nyata. Elite politik cenderung mempertahankan kekuasaan dan kepentingan kelompoknya.
Mereka mungkin menganggap demonstrasi sebagai ancaman yang harus diredam, bukan sebagai kritik yang harus didengarkan.
Aksi demonstrasi yang semula damai dapat disusupi oleh pihak ketiga atau provokator yang bertujuan menciptakan kekacauan. Hal ini seringkali digunakan untuk mendelegitimasi gerakan protes dan mengalihkan isu.
Singkatnya, demonstrasi yang memakan korban jiwa bisa menjadi pemicu perubahan yang signifikan, tetapi hal tersebut sangat bergantung pada keseriusan dan niat baik dari elite politik itu sendiri. Jika mereka tidak berbenah dan mengabaikan aspirasi rakyat, potensi terulangnya insiden serupa akan tetap ada. Saatnya kini kita bertidak agar tidak ada lagi rakyat yang dijadikam tumbal seperti Kompol Cosmas Kaji Gae.
47
Masalahnya
Cosmas Kaje Gae "Tumbal elite Politik"
Akhir Agustus Jakarta memanas, Demo “ketidak empatian”para elite politik di Gedung DPR berakhir ricuh .Korban materi tak terbilang harganya.Nyawa anak bangsa pun terenggut sia sia . Affan Kurniawan, pengemudi ojek online tewas dilindas mobil rantis yang di nakhodai prajurit yang patuh perintah, Kompol Cosmas Kaje Gae .Tragedi itu menjadi duka bangsa. Affan dan Kompol Kosmos Kaju Gae hanyalah rakyat. Namun mereka di adu dalam kisah tragis. Lagi lagi rakyat yang menjadi tumbal elite politik.
Tindakan "elite politik menumbalkan rakyat" sangat berdampak fundamental. Ketika rakyat merasa dikhianati atau dikorbankan, kepercayaan mereka terhadap pemerintah dan institusi politik akan hancur. Kepercayaan adalah fondasi dari setiap tatanan masyarakat yang stabil. Tanpa itu, legitimasi kekuasaan akan terkikis. Ini menjadi “warning” bagi pemerintah, jika dibiarkan bisa berujung pada kekacauan sosial dan politik yang berkepanjangan.
Elite politik seringkali menggunakan isu-isu sensitif seperti suku, agama, atau golongan untuk memecah belah rakyat agar agenda mereka lebih mudah dicapai. Taktik ini memperkuat polarisasi dan menciptakan konflik horizontal di antara masyarakat, sementara elite politik mengambil keuntungan di balik layar. Demokrasi seharusnya melayani rakyat. Ketika elite politik justru mengorbankan rakyat, sistem demokrasi kehilangan maknanya. Pemilu menjadi formalitas, hak-hak sipil diabaikan, dan kekuasaan cenderung disalahgunakan. Ini bisa berujung pada rezim otoriter di mana penguasa tidak lagi peduli pada aspirasi rakyat.
Ketimpangan ekonomi yang terjadi saat ini, memungkinkan People power terjadi. Seringkali, "pengorbanan" rakyat dilakukan melalui kebijakan ekonomi yang tidak adil. Lebih memperkaya segelintir elite sambil memiskinkan mayoritas masyarakat, sehingga jurang antara si kaya dan si miskin semakin lebar. Rakyat kecil menjadi korban dari kebijakan pembangunan yang tidak berpihak pada mereka.
Secara keseluruhan, tindakan elite politik yang menumbalkan rakyat adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah kekuasaan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada masalah politik atau ekonomi, tetapi juga merusak fondasi moral dan sosial dari sebuah negara. Pemulihan kepercayaan dan stabilitas akan membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa menimbulkan trauma kolektif yang sulit disembuhkan.
Vonis bagi Kompol Cosmas Kaja Gae, menyeruak rasa ketidakadilan bagi rakyat. Ia menjadi tumbal elite politik. Betapa tidak, putra daerah asal Laja Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur itu divonis tidak profesional dalam penanganan aksi unjuk rasa pada 28 Agustus 2025, yang berujung tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan. Cosmas adalah Komandan Batalyon A Resimen 4 Pasukan Pelopor Korps Brimob yang berada di dalam kendaraan taktis (rantis) Brimob saat peristiwa pelindasan Affan terjadi.
Dalam putusan majelis etik, Cosmas diberhentikan tidak dengan hormat (PTDH) sebagai anggota Polri. Tak ada pembelaan dari institusi di mana Kosmos mengabdi dengan hati dan keyakinannya. Penyelidikan pun tak dilakukan, Prajurit pemberani itu, di mata rakyat Indonesia hanyalah seorang pembunuh. Sementara para pejabat dan elite politik yang dibela olehnya duduk manis di kursinya. Sungguh ini tak adil wahai penguasa.
Demonstrasi yang memakan korban jiwa sering kali menjadi "alarm" bagi elite politik. Kematian warga sipil, terutama mahasiswa, dapat memicu kemarahan publik yang lebih luas dan memaksa para elite untuk merespons. Permintaan maaf menjadi hal standar yang dilakukan oleh pemerintah dan menjanjikan reformasi dan perubahan kebijakan. Namun ingat suara publik yang dilecehkan terus-menerus bisa meledak menjadi kemarahan besar.
Meskipun ada janji-janji perubahan, tidak ada jaminan bahwa perubahan itu akan terjadi secara signifikan. Respons dari elite politik hanya bersifat retoris atau basa-basi untuk meredam amarah publik tanpa ada implementasi nyata. Elite politik cenderung mempertahankan kekuasaan dan kepentingan kelompoknya.
Mereka mungkin menganggap demonstrasi sebagai ancaman yang harus diredam, bukan sebagai kritik yang harus didengarkan.
Aksi demonstrasi yang semula damai dapat disusupi oleh pihak ketiga atau provokator yang bertujuan menciptakan kekacauan. Hal ini seringkali digunakan untuk mendelegitimasi gerakan protes dan mengalihkan isu.
Singkatnya, demonstrasi yang memakan korban jiwa bisa menjadi pemicu perubahan yang signifikan, tetapi hal tersebut sangat bergantung pada keseriusan dan niat baik dari elite politik itu sendiri. Jika mereka tidak berbenah dan mengabaikan aspirasi rakyat, potensi terulangnya insiden serupa akan tetap ada. Saatnya kini kita bertidak agar tidak ada lagi rakyat yang dijadikam tumbal seperti Kompol Cosmas Kaji Gae.
47
Perkembangan terakhir petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 8 September 2025