

🇮🇩 CEGAH PERZINAHAN, LINDUNGI GENERASI MUDA INDONESIA
Masalahnya
Usulan Pembatasan Penjualan Kondom kepada Pasangan yang Telah Menikah dan Penguatan Perlindungan Generasi Muda
Petisi untuk Memperkuat Nilai Perkawinan, Tanggung Jawab Seksual, dan Perlindungan Generasi Muda
Kepada Yth. Pemerintah Republik Indonesia dan instansi terkait,
Kami yang menandatangani petisi ini menyampaikan keprihatinan terhadap hubungan seksual di luar perkawinan dan dampaknya terhadap generasi muda, keluarga, serta kehidupan sosial masyarakat.
Kami percaya bahwa perkawinan bukan sekadar status administratif, tetapi merupakan bentuk komitmen, tanggung jawab, dan ikatan dalam membangun keluarga.
Karena itu, kami mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan yang dapat membantu generasi muda memahami konsekuensi hubungan seksual dan pentingnya menjaga diri sebelum memasuki kehidupan perkawinan.
MENGAPA KAMI BERSUARA?
Kami tidak ingin generasi muda hanya diajarkan bagaimana menghadapi akibat dari hubungan seksual.
Kami ingin mereka memahami mengapa menjaga diri, menghormati komitmen, menunggu hingga menikah, dan mempersiapkan diri untuk membangun keluarga merupakan hal yang penting.
Kami menyadari bahwa alat kontrasepsi memiliki fungsi dalam kesehatan reproduksi. Namun, kami juga berpandangan bahwa kebijakan mengenai kontrasepsi perlu berjalan bersama dengan pendidikan mengenai tanggung jawab seksual, nilai perkawinan, keluarga, dan konsekuensi hubungan seksual di luar perkawinan.
Pemerintah sendiri telah menjelaskan bahwa penyediaan alat kontrasepsi bagi remaja tidak ditujukan untuk seluruh remaja, melainkan bagi remaja yang sudah menikah dalam konteks tertentu. (Kementerian Kesehatan)
Karena itu, kami meminta agar kebijakan dan praktik di lapangan terus diperjelas, dievaluasi, dan dikaji secara transparan.
KAMI MEMINTA PEMERINTAH UNTUK:
1. MENGKAJI PEMBATASAN PENJUALAN KONDOM BERDASARKAN STATUS PERKAWINAN
Kami meminta pemerintah mengkaji kemungkinan penerapan pembatasan penjualan kondom berdasarkan status perkawinan, dengan mempertimbangkan aspek hukum, kesehatan masyarakat, perlindungan generasi muda, serta dampak sosialnya.
2. MENGKAJI MEKANISME VERIFIKASI STATUS PERKAWINAN
Apabila pembatasan tersebut dinilai layak, kami meminta pemerintah mengkaji mekanisme verifikasi yang efektif, proporsional, mudah diterapkan, dan tetap melindungi data pribadi masyarakat.
3. MEMPERKUAT PENCEGAHAN HUBUNGAN SEKSUAL DI LUAR PERKAWINAN
Pendidikan kepada generasi muda perlu membahas bukan hanya risiko kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial, emosional, keluarga, dan tanggung jawab dari hubungan seksual di luar perkawinan.
4. MEMPERKUAT PENDIDIKAN NILAI PERKAWINAN DAN KELUARGA
Generasi muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai komitmen, kesetiaan, tanggung jawab, kesiapan menikah, serta konsekuensi dari keputusan seksual yang mereka ambil.
5. MEMPERKUAT PERAN ORANG TUA DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama perlu mendapatkan ruang untuk ikut membangun lingkungan yang membantu generasi muda mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
6. MELAKUKAN KAJIAN BERBASIS DATA DAN MEMBUKA KONSULTASI PUBLIK
Kami meminta pemerintah melibatkan ahli kesehatan, hukum, pendidikan, perlindungan data pribadi, tokoh masyarakat, tokoh agama, orang tua, serta perwakilan generasi muda dalam mengkaji kebijakan ini.
KAMI TIDAK INGIN HANYA BICARA TENTANG AKIBAT.
Kami ingin berbicara tentang pencegahan.
Kami ingin generasi muda memiliki keberanian untuk berkata:
“Saya memilih menjaga diri.”
“Saya memilih menghormati pasangan saya.”
“Saya memilih mempersiapkan diri sebelum membangun keluarga.”
“Saya memilih menempatkan hubungan seksual dalam ikatan perkawinan dan tanggung jawab keluarga.”
Petisi ini bukan ajakan untuk menghakimi individu.
Ini adalah ajakan kepada pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat pendidikan, keluarga, tanggung jawab, dan nilai perkawinan sebagai bagian dari upaya mencegah hubungan seksual di luar perkawinan.
Kami percaya bahwa melindungi generasi muda bukan hanya tentang memberikan mereka informasi mengenai risiko, tetapi juga membantu mereka memahami nilai, tanggung jawab, dan konsekuensi dari setiap pilihan.
🇮🇩 CEGAH PERZINAHAN.
🇮🇩 LINDUNGI GENERASI MUDA.
🇮🇩 PERKUAT KELUARGA INDONESIA.
Kami mengajak masyarakat Indonesia untuk membaca petisi ini, mempertimbangkan usulannya, dan memberikan dukungan apabila sejalan dengan pandangan masing-masing.
Mari dorong pemerintah untuk membuka kajian dan dialog publik mengenai kebijakan ini secara transparan, berbasis data, serta tetap mempertimbangkan kesehatan masyarakat dan perlindungan data pribadi.
35
Masalahnya
Usulan Pembatasan Penjualan Kondom kepada Pasangan yang Telah Menikah dan Penguatan Perlindungan Generasi Muda
Petisi untuk Memperkuat Nilai Perkawinan, Tanggung Jawab Seksual, dan Perlindungan Generasi Muda
Kepada Yth. Pemerintah Republik Indonesia dan instansi terkait,
Kami yang menandatangani petisi ini menyampaikan keprihatinan terhadap hubungan seksual di luar perkawinan dan dampaknya terhadap generasi muda, keluarga, serta kehidupan sosial masyarakat.
Kami percaya bahwa perkawinan bukan sekadar status administratif, tetapi merupakan bentuk komitmen, tanggung jawab, dan ikatan dalam membangun keluarga.
Karena itu, kami mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan yang dapat membantu generasi muda memahami konsekuensi hubungan seksual dan pentingnya menjaga diri sebelum memasuki kehidupan perkawinan.
MENGAPA KAMI BERSUARA?
Kami tidak ingin generasi muda hanya diajarkan bagaimana menghadapi akibat dari hubungan seksual.
Kami ingin mereka memahami mengapa menjaga diri, menghormati komitmen, menunggu hingga menikah, dan mempersiapkan diri untuk membangun keluarga merupakan hal yang penting.
Kami menyadari bahwa alat kontrasepsi memiliki fungsi dalam kesehatan reproduksi. Namun, kami juga berpandangan bahwa kebijakan mengenai kontrasepsi perlu berjalan bersama dengan pendidikan mengenai tanggung jawab seksual, nilai perkawinan, keluarga, dan konsekuensi hubungan seksual di luar perkawinan.
Pemerintah sendiri telah menjelaskan bahwa penyediaan alat kontrasepsi bagi remaja tidak ditujukan untuk seluruh remaja, melainkan bagi remaja yang sudah menikah dalam konteks tertentu. (Kementerian Kesehatan)
Karena itu, kami meminta agar kebijakan dan praktik di lapangan terus diperjelas, dievaluasi, dan dikaji secara transparan.
KAMI MEMINTA PEMERINTAH UNTUK:
1. MENGKAJI PEMBATASAN PENJUALAN KONDOM BERDASARKAN STATUS PERKAWINAN
Kami meminta pemerintah mengkaji kemungkinan penerapan pembatasan penjualan kondom berdasarkan status perkawinan, dengan mempertimbangkan aspek hukum, kesehatan masyarakat, perlindungan generasi muda, serta dampak sosialnya.
2. MENGKAJI MEKANISME VERIFIKASI STATUS PERKAWINAN
Apabila pembatasan tersebut dinilai layak, kami meminta pemerintah mengkaji mekanisme verifikasi yang efektif, proporsional, mudah diterapkan, dan tetap melindungi data pribadi masyarakat.
3. MEMPERKUAT PENCEGAHAN HUBUNGAN SEKSUAL DI LUAR PERKAWINAN
Pendidikan kepada generasi muda perlu membahas bukan hanya risiko kesehatan, tetapi juga konsekuensi sosial, emosional, keluarga, dan tanggung jawab dari hubungan seksual di luar perkawinan.
4. MEMPERKUAT PENDIDIKAN NILAI PERKAWINAN DAN KELUARGA
Generasi muda perlu mendapatkan pemahaman mengenai komitmen, kesetiaan, tanggung jawab, kesiapan menikah, serta konsekuensi dari keputusan seksual yang mereka ambil.
5. MEMPERKUAT PERAN ORANG TUA DAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama perlu mendapatkan ruang untuk ikut membangun lingkungan yang membantu generasi muda mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
6. MELAKUKAN KAJIAN BERBASIS DATA DAN MEMBUKA KONSULTASI PUBLIK
Kami meminta pemerintah melibatkan ahli kesehatan, hukum, pendidikan, perlindungan data pribadi, tokoh masyarakat, tokoh agama, orang tua, serta perwakilan generasi muda dalam mengkaji kebijakan ini.
KAMI TIDAK INGIN HANYA BICARA TENTANG AKIBAT.
Kami ingin berbicara tentang pencegahan.
Kami ingin generasi muda memiliki keberanian untuk berkata:
“Saya memilih menjaga diri.”
“Saya memilih menghormati pasangan saya.”
“Saya memilih mempersiapkan diri sebelum membangun keluarga.”
“Saya memilih menempatkan hubungan seksual dalam ikatan perkawinan dan tanggung jawab keluarga.”
Petisi ini bukan ajakan untuk menghakimi individu.
Ini adalah ajakan kepada pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat pendidikan, keluarga, tanggung jawab, dan nilai perkawinan sebagai bagian dari upaya mencegah hubungan seksual di luar perkawinan.
Kami percaya bahwa melindungi generasi muda bukan hanya tentang memberikan mereka informasi mengenai risiko, tetapi juga membantu mereka memahami nilai, tanggung jawab, dan konsekuensi dari setiap pilihan.
🇮🇩 CEGAH PERZINAHAN.
🇮🇩 LINDUNGI GENERASI MUDA.
🇮🇩 PERKUAT KELUARGA INDONESIA.
Kami mengajak masyarakat Indonesia untuk membaca petisi ini, mempertimbangkan usulannya, dan memberikan dukungan apabila sejalan dengan pandangan masing-masing.
Mari dorong pemerintah untuk membuka kajian dan dialog publik mengenai kebijakan ini secara transparan, berbasis data, serta tetap mempertimbangkan kesehatan masyarakat dan perlindungan data pribadi.
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 30 September 2026