

Bubarkan PII, PII Disfungsi
Masalahnya
Ditujukan kepada:
Segenap Keluarga Besar, Alumni, dan Seluruh Kader Pelajar Islam Indonesia
PII hari ini menjelma seperti apa? Banyak kader bingung dan hilang arah. Mari kita renungkan
Oleh:
Barisan Teratai (Permenungan Harlah PII Wati ke-62)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pelajar Islam Indonesia adalah rumah besar yang pernah melahirkan generasi pemimpin umat: beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Di sanalah nilai-nilai Islam dahulu tumbuh subur dalam ruh pelajar.
Namun, hari ini, dengan segala rasa hormat dan cinta pada organisasi ini, kami perlu menyampaikan keprihatinan yang mendalam. Di usianya yang semakin matang, PII justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang sistemik. Jika kita berani jujur, ada tiga krisis besar yang sedang menggerogotinya:
1. Krisis Integritas Kepemimpinan (Pelanggaran Kesatuan Imamah)
Di tingkat pusat, terjadi dualisme pengurus besar yang saling mengklaim legitimasi. Energi habis untuk berseteru dan berebut proyek, bukan untuk konsentrasi dengan problematika pelajar dan pendidikan yang esensial. Lebih dari itu, mulai tampak indikasi penyalahgunaan organisasi untuk kepentingan pribadi oleh segelintir oknum.
2. Krisis Kaderisasi dan Akhlak.
Ruh Islam perlahan memudar. Para kader semakin jauh dari ulama. Ta’lim dan diskusi menjadi langka. Pelatihan yang ada lebih banyak bersifat informatif dan minim pendalaman, sehingga gagal menanamkan akar spiritual serta nalar kritis yang membawa pada kebaikan. Akibatnya, banyak kader kehilangan pemahaman mendasar tentang Tafsir Asasi, Falsafah PII, dan wawasan keummatan. Lebih memprihatinkan lagi, kita menjumpai kader yang abai terhadap shalat, puasa, bahkan terlibat dalam perbuatan zina dan mulai membuka identitas LGBT. Retorika tinggi, namun kosong literasi dan miskin keteladanan.
3. Krisis Relevansi dan Kepedulian.
PII semakin kehilangan daya tariknya di kalangan pelajar Muslim. Organisasi ini seolah berjalan di tempat, sibuk dengan dirinya sendiri. Pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas, sementara dana dan strategi dakwah sangat minim. Mayoritas kader-kader aktif bergerak tanpa arah yang jelas.
Sahabat, krisis ini tidak bisa lagi diatasi dengan tambal sulam. Akarnya telah menjalar terlalu dalam. Ia membutuhkan keberanian kita untuk berhenti dan menghentikan. Kewujudan benda tergantung dari kemanfaatannya. Untuk apa jika tidak bermanfaat? Bukankah lebih baik kita menyalurkan energi, waktu, dan biaya untuk organisasi dakwah yang lain.
Oleh karena itu, dengan penuh harap dan tanggung jawab, kami mengajak segenap pihak untuk mendesak:
Pembubaran total seluruh kepengurusan PII di semua tingkatan—Keluarga Besar (KB), Forum Alumni (FA), Pengurus Besar (PB), Pengurus Wilayah (PW), Pengurus Daerah (PD), Pengurus Komisariat (PK), hingga ke akar rumput.
Tandatangani petisi ini.
*#BUBARKANPII #PIIDisfungsi*
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

40
Masalahnya
Ditujukan kepada:
Segenap Keluarga Besar, Alumni, dan Seluruh Kader Pelajar Islam Indonesia
PII hari ini menjelma seperti apa? Banyak kader bingung dan hilang arah. Mari kita renungkan
Oleh:
Barisan Teratai (Permenungan Harlah PII Wati ke-62)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pelajar Islam Indonesia adalah rumah besar yang pernah melahirkan generasi pemimpin umat: beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Di sanalah nilai-nilai Islam dahulu tumbuh subur dalam ruh pelajar.
Namun, hari ini, dengan segala rasa hormat dan cinta pada organisasi ini, kami perlu menyampaikan keprihatinan yang mendalam. Di usianya yang semakin matang, PII justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang sistemik. Jika kita berani jujur, ada tiga krisis besar yang sedang menggerogotinya:
1. Krisis Integritas Kepemimpinan (Pelanggaran Kesatuan Imamah)
Di tingkat pusat, terjadi dualisme pengurus besar yang saling mengklaim legitimasi. Energi habis untuk berseteru dan berebut proyek, bukan untuk konsentrasi dengan problematika pelajar dan pendidikan yang esensial. Lebih dari itu, mulai tampak indikasi penyalahgunaan organisasi untuk kepentingan pribadi oleh segelintir oknum.
2. Krisis Kaderisasi dan Akhlak.
Ruh Islam perlahan memudar. Para kader semakin jauh dari ulama. Ta’lim dan diskusi menjadi langka. Pelatihan yang ada lebih banyak bersifat informatif dan minim pendalaman, sehingga gagal menanamkan akar spiritual serta nalar kritis yang membawa pada kebaikan. Akibatnya, banyak kader kehilangan pemahaman mendasar tentang Tafsir Asasi, Falsafah PII, dan wawasan keummatan. Lebih memprihatinkan lagi, kita menjumpai kader yang abai terhadap shalat, puasa, bahkan terlibat dalam perbuatan zina dan mulai membuka identitas LGBT. Retorika tinggi, namun kosong literasi dan miskin keteladanan.
3. Krisis Relevansi dan Kepedulian.
PII semakin kehilangan daya tariknya di kalangan pelajar Muslim. Organisasi ini seolah berjalan di tempat, sibuk dengan dirinya sendiri. Pembinaan kader tidak lagi menjadi prioritas, sementara dana dan strategi dakwah sangat minim. Mayoritas kader-kader aktif bergerak tanpa arah yang jelas.
Sahabat, krisis ini tidak bisa lagi diatasi dengan tambal sulam. Akarnya telah menjalar terlalu dalam. Ia membutuhkan keberanian kita untuk berhenti dan menghentikan. Kewujudan benda tergantung dari kemanfaatannya. Untuk apa jika tidak bermanfaat? Bukankah lebih baik kita menyalurkan energi, waktu, dan biaya untuk organisasi dakwah yang lain.
Oleh karena itu, dengan penuh harap dan tanggung jawab, kami mengajak segenap pihak untuk mendesak:
Pembubaran total seluruh kepengurusan PII di semua tingkatan—Keluarga Besar (KB), Forum Alumni (FA), Pengurus Besar (PB), Pengurus Wilayah (PW), Pengurus Daerah (PD), Pengurus Komisariat (PK), hingga ke akar rumput.
Tandatangani petisi ini.
*#BUBARKANPII #PIIDisfungsi*
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 31 Juli 2026