Tutup dan Hukum Perusahaan Pemilik Lubang Tambang Batubara Samarinda yang membunuh anak-anak

0 telah menandatangani. Mari kita ke 15.000.


ENGLISH TRANSLATION BELOW

Saat semua ibu mendapatkan kado dari anak-anaknya pada Hari Ibu, aku justru mendapatkan duka. Putra kesayanganku, Muhammad Raihan Saputra (10 tahun) tewas di lubang bekas tambang batubara. Lubang itu berada di kawasan pemukiman dan dibiarkan menganga begitu saja.

Siang itu begitu jelas. Tetanggaku dengan tergesa lapor kalau Raihan tenggelam di kolam tambang batubara. Sambil tergopoh keluar rumah dan berteriak histeris, aku menanyakan siapa yang bisa membantu membawa menuju lokasi Raihan dikabarkan tenggelam.

Para tetangga berbondong-bondong keluar. Sebagian memeluk dan berusaha menenangkan. Raihan tadi siang memang dijemput oleh beberapa kawan bermainnya. Namun aku tak menyangka bahwa itu terakhir kalinya aku melihat putraku hidup. Pukul 17.30 sore setelah 2 jam proses evakuasi berlangsung, tubuh anakku Raihan ditemukan dengan keadaan putih pucat, kaku dan tidak bernyawa. Sebelumnya warga tidak berani terjun ke air untuk menolong sehingga menunggu evakuasi dari Basarnas dan BNPB Setempat. Nyawa anakku tidak dapat tertolong.

Kehilangan Raihan amat memukul hatiku. Suamiku hanya seorang pekerja biasa di sebuah toko alat-alat kapal. Sementara aku hanya ibu rumah tangga biasa yang membantu nafkah keluarga berjualan gorengan dan nasi campur di depan rumah. Aku masih ingat perkataan Raihan saat saya sedang sedih, “Jangan sedih bu, seandainya Raihan sudah gede, raihan pengen naik hajiin Ibu sama Bapak”.

Musibah ini tak hanya menimpaku. Sudah banyak ibu-ibu sepertiku yang kehilangan anaknya akibat 150 lubang bekas tambang batubara beracun yang dibiarkan menganga karena Pemerintah Kota Samarinda yang Menerbitkan Ijin Tambang, mengkapling 71 persen luas kota Samarinda. Sejak 2011 hingga 2014, sudah 9 anak menjadi korban. Tak ada tindakan apa-apa dari pemerintah dan penegak hukum. Perusahaan tak pernah dihukum karena kelalaiannya.

Apa jadinya kalau kejadian ini menimpa anak atau keluarga anda? Aku tidak menuntut uang. Berapapun ganti rugi yang perusahaan tawarkan itu tidak akan bisa mengembalikan nyawa anak kami. Kami hanya tidak ingin kejadian ini terulang lagi, dan memutus rantai kejahatan tambang yang dilindungi justru oleh pemangku kebijakan.

Kini satu bulan setelah kepergian anakku Raihan, namun bayang-bayang akan tingkahnya masih begitu jelas dipikiranku, masih begitu terasa dihatiku, teringat canda tawanya bersama saudara-saudaranya tiga anakku yang lainnya.

saya memohon kepada ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, sebagai sesema perempuan dan seorang ibu saya yakin ibu pasti bisa merasakan dan mengerti bagaimana perasaan saya, untuk itu segera menutup perusahaan tambang, dan menegakan hukum lingkungan bagi perusahaan tambang dan pemberi izin tambang yang lalai dan tidak bertanggung jawab hingga menyebabkan kematian. beri hukuman paksa kepada perusahaan pertambangan untuk segera melakukan penutupan lubang tambang dan merahabilitasi kawasan menjadi kawasan yang berfungsi baik secara ekologis.

ENGLISH TRANSLATION

all mothers will get gifts from their children on Mother's Day, Iwill just get grief. On December 22, 2014 my beloved son, Mohammad Raihan Saputra (10 years old) was killed in the coal pits. The coal pit was located in a residential area and left gaping for granted.

I was preparing food when my neighbor hastily reported that Raihan drowned in the coal minel. I ran out of the house and was screaming hysterically, " Who can help me bringing me to the location where Raihan drowned".

The neighbors flocked out, hugged me and tried to calm me down. Raihan was picked up after school by some friends to play. But I could not imagine that would be the last time to see my son alive. At 5:30 pm, we finally could reach to Raihan's body, he  was found pale white, stiff and lifeless. No resident did dare to plunge into the water to evacuate him, so we had to wait for the local fire brigade to reach his body.

My husband is just a worker at a hardware store, while I'm just an ordinary housewife who sells fried and mixed rice in front of the house to help generate income for our family. I feel so sad, I remember Raihan's words and smile so lively. When I felt sad before, he always told me "Don't be sad mammy, when I grow up, I will ride the motorbike with you and daddy." These words always made me smile .

This disaster did not just happen to me. More mothers have lost children like me due to the 150 toxic coal pits which are left abandoned all over Samarinda. The City Government issued Mining Permits covering 71 percent of the total surface city of Samarinda. From 2011 to 2014,  9 children have drowned in one of those pits. It's so sad to see there is not any action taken from the government and nor police. No single company has been sued nor convicted for negligence.

I do not request money. No compensation offered by the mining company will be able to bring back the lives of our children. We just do not want this to happen again, and we want to break the chains that are protecting the mining companies from bringing justice.

One month after the loss of my son, Raihan, i can see his shadow  so clear in my mind, and feel my deep love for him in my heart, remembering his jokes and laughter with his 3 brothers.


TERTANDA

Rahmawati, Ibunda Raihan, Korban Ke 9,
Lubang Tambang Batubara Samarinda

Rahmawati, Raihan's mother, victim no° 9 of Coal Mine Pit in Samarinda January 22, 2015

 


Hari ini: Rahma mengandalkanmu

Rahma Wati membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Bu @bravonur, Tutup dan Hukum Perusahaan Pemilik Lubang Tambang Batubara Samarinda yg membunuh anak2". Bergabunglah dengan Rahma dan 11.893 pendukung lainnya hari ini.