

Bebaskan Peruri Dari Tronton! Hidup Kami Berat, Jangan Buat Kami Cepat Mati!


Bebaskan Peruri Dari Tronton! Hidup Kami Berat, Jangan Buat Kami Cepat Mati!
Masalahnya
Satu lubang. Satu truk ugal-ugalan. Satu nyawa melayang.
Ini bukan hiperbola. Ini adalah kenyataan yang dihadapi ribuan buruh Karawang setiap pagi. Mereka melintasi Jalan Raya Peruri hanya untuk mencari nafkah. Mereka bukan meminta mewah. Mereka hanya ingin bekerja dan pulang bertemu anak dengan selamat. Sayangnya, jalan yang seharusnya menjadi hak mereka justru telah berubah menjadi ladang maut.
Setiap hari selalu ada yang kecelakaan di Jalan Raya Peruri. Iya setiap hari, bukan setiap minggu. Silakan cek warga dan pasang CCTV jika tidak percaya. Kondisi jalan yang berlubang parah diperburuk oleh lalu lintas kendaraan berat truk dan bus besar. Kerusakan jalan akibat beban berlebih ini bukan hanya mengancam nyawa, tetapi juga menggerogoti infrastruktur yang kita bangun bersama dari uang pajak.
Satu Lubang, Dompet Kami Bocor 5 Ribu Rupiah
Jalan berlubang tidak hanya berbahaya, ia juga menguras kantong buruh setiap hari tanpa disadari. Ketika kendaraan berat merayap di jalanan yang rusak dan lalu lintas menumpuk, mesin motor dan mobil membakar bahan bakar jauh lebih boros dari seharusnya. Berdasarkan penelitian, pengguna kendaraan yang terjebak kemacetan menanggung kerugian BBM sekitar Rp5.237 per perjalanan untuk pengguna mobil, dan Rp4.983 per perjalanan untuk pengguna motor.
Kemacetan akibat jalan rusak menaikkan biaya solar truk, tentu menaikkan biaya distribusi dan akhirnya menaikkan biaya kebutuhan sehari-hari. Setiap lubang di Jalan Raya Peruri bukan sekadar lubang aspal ia adalah lubang di dompet setiap buruh yang melintasinya.
Berdasarkan data Kementerian PUPR, biaya perbaikan jalan per kilometer berkisar antara Rp3,2 miliar hingga Rp5 miliar untuk perbaikan darurat , dan bisa mencapai Rp8 miliar per kilometer. Setiap hari tanpa tindakan, kerusakan bertambah, dan biaya yang harus ditanggung rakyat Karawang pun terus membengkak.
Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karawang pada tahun 2025 mencapai Rp2,05 triliun dari target Rp2,20 triliun, dengan total pendapatan daerah sebesar Rp5,40 triliun. Anggaran ada. Kemampuan fiskal ada. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan politik dan keberanian bertindak.
Jangan Kasihani Pengusaha, Biaya Tol Bisa Mengurangi Pajak
Ada pihak yang berargumen bahwa pemasangan pembatas tinggi kendaraan akan "merugikan" pemilik perusahaan karena truk mereka terpaksa melewati jalan tol yang berbayar. Argumentasi ini tidak berdasar. Berdasarkan ketentuan perpajakan Indonesia, biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha termasuk biaya perjalanan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak Direktorat Jenderal Pajak.
Solusi Konkret: Pasang Pembatas Tinggi Kendaraan
Pemasangan pembatas tinggi kendaraan di sepanjang Jalan Raya Peruri adalah langkah paling cepat, paling efektif, dan paling hemat anggaran yang bisa diambil pemerintah daerah saat ini sebelum memperbaiki jalan. Tindakan ini akan:
- Mengalihkan kendaraan berat ke jalur yang semestinya (jalan tol atau jalur industri)
- Mengurangi kerusakan jalan secara drastis, sehingga menghemat miliaran rupiah biaya perbaikan per kilometer setiap tahunnya
- Menyelamatkan nyawa buruh, pengendara motor, dan warga yang melintas setiap hari
Tanda tangani petisi ini. Untuk buruh yang pergi pagi dan harus bisa pulang sore hari.
11
Masalahnya
Satu lubang. Satu truk ugal-ugalan. Satu nyawa melayang.
Ini bukan hiperbola. Ini adalah kenyataan yang dihadapi ribuan buruh Karawang setiap pagi. Mereka melintasi Jalan Raya Peruri hanya untuk mencari nafkah. Mereka bukan meminta mewah. Mereka hanya ingin bekerja dan pulang bertemu anak dengan selamat. Sayangnya, jalan yang seharusnya menjadi hak mereka justru telah berubah menjadi ladang maut.
Setiap hari selalu ada yang kecelakaan di Jalan Raya Peruri. Iya setiap hari, bukan setiap minggu. Silakan cek warga dan pasang CCTV jika tidak percaya. Kondisi jalan yang berlubang parah diperburuk oleh lalu lintas kendaraan berat truk dan bus besar. Kerusakan jalan akibat beban berlebih ini bukan hanya mengancam nyawa, tetapi juga menggerogoti infrastruktur yang kita bangun bersama dari uang pajak.
Satu Lubang, Dompet Kami Bocor 5 Ribu Rupiah
Jalan berlubang tidak hanya berbahaya, ia juga menguras kantong buruh setiap hari tanpa disadari. Ketika kendaraan berat merayap di jalanan yang rusak dan lalu lintas menumpuk, mesin motor dan mobil membakar bahan bakar jauh lebih boros dari seharusnya. Berdasarkan penelitian, pengguna kendaraan yang terjebak kemacetan menanggung kerugian BBM sekitar Rp5.237 per perjalanan untuk pengguna mobil, dan Rp4.983 per perjalanan untuk pengguna motor.
Kemacetan akibat jalan rusak menaikkan biaya solar truk, tentu menaikkan biaya distribusi dan akhirnya menaikkan biaya kebutuhan sehari-hari. Setiap lubang di Jalan Raya Peruri bukan sekadar lubang aspal ia adalah lubang di dompet setiap buruh yang melintasinya.
Berdasarkan data Kementerian PUPR, biaya perbaikan jalan per kilometer berkisar antara Rp3,2 miliar hingga Rp5 miliar untuk perbaikan darurat , dan bisa mencapai Rp8 miliar per kilometer. Setiap hari tanpa tindakan, kerusakan bertambah, dan biaya yang harus ditanggung rakyat Karawang pun terus membengkak.
Sementara itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Karawang pada tahun 2025 mencapai Rp2,05 triliun dari target Rp2,20 triliun, dengan total pendapatan daerah sebesar Rp5,40 triliun. Anggaran ada. Kemampuan fiskal ada. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan politik dan keberanian bertindak.
Jangan Kasihani Pengusaha, Biaya Tol Bisa Mengurangi Pajak
Ada pihak yang berargumen bahwa pemasangan pembatas tinggi kendaraan akan "merugikan" pemilik perusahaan karena truk mereka terpaksa melewati jalan tol yang berbayar. Argumentasi ini tidak berdasar. Berdasarkan ketentuan perpajakan Indonesia, biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha termasuk biaya perjalanan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak Direktorat Jenderal Pajak.
Solusi Konkret: Pasang Pembatas Tinggi Kendaraan
Pemasangan pembatas tinggi kendaraan di sepanjang Jalan Raya Peruri adalah langkah paling cepat, paling efektif, dan paling hemat anggaran yang bisa diambil pemerintah daerah saat ini sebelum memperbaiki jalan. Tindakan ini akan:
- Mengalihkan kendaraan berat ke jalur yang semestinya (jalan tol atau jalur industri)
- Mengurangi kerusakan jalan secara drastis, sehingga menghemat miliaran rupiah biaya perbaikan per kilometer setiap tahunnya
- Menyelamatkan nyawa buruh, pengendara motor, dan warga yang melintas setiap hari
Tanda tangani petisi ini. Untuk buruh yang pergi pagi dan harus bisa pulang sore hari.
11
Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 20 April 2026