

Bebaskan Nadiem Makarim! Founder Gojek yang Tinggalkan Kekayaan untuk Membantu Pendidikan


Bebaskan Nadiem Makarim! Founder Gojek yang Tinggalkan Kekayaan untuk Membantu Pendidikan
Masalahnya
Kepada Yth.
Presiden Republik Indonesia
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
Masyarakat Indonesia yang Peduli Pendidikan
Kami, rakyat Indonesia yang peduli dengan masa depan pendidikan bangsa, datang dengan hati yang prihatin.
Nadiem Anwar Makarim bukanlah politisi biasa. Ia adalah founder Gojek — anak bangsa yang berhasil membangun startup pertama Indonesia yang bernilai lebih dari US$10 miliar. Seorang pria yang sudah sangat kaya, sukses, dan bisa menikmati hidup mewah bersama keluarganya. Tapi ia memilih jalan yang berbeda.
Pada tahun 2019, Nadiem meninggalkan posisinya sebagai CEO Gojek. Ia meninggalkan kekayaan, privasi, dan kenyamanan hidupnya untuk menerima panggilan moral menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tujuannya hanya satu: membawa teknologi dan inovasi ke dunia pendidikan Indonesia agar jutaan anak bangsa, terutama di daerah terpencil, bisa belajar lebih baik.
Di masa pandemi COVID-19 yang paling gelap, ketika jutaan siswa tidak bisa sekolah tatap muka, Nadiem dan timnya bergerak cepat menyediakan laptop Chromebook agar pembelajaran daring bisa berjalan. Bagi banyak anak di pelosok, itu adalah satu-satunya jembatan agar mereka tidak tertinggal total.
Sekarang, pria yang rela meninggalkan segalanya demi bangsa ini sedang dihukum berat. Jaksa menuntut 18 tahun penjara plus denda dan uang pengganti triliunan rupiah atas program yang dibuat di tengah darurat nasional.
Kami percaya:
- Nadiem Makarim masuk pemerintahan bukan untuk memperkaya diri, melainkan mengorbankan dirinya untuk kepentingan anak-anak Indonesia.
- Ia sudah kaya raya sebelum jadi menteri. Tidak ada motif logis baginya untuk korupsi.
- Program teknologi pendidikan di masa pandemi adalah keputusan darurat yang dilakukan banyak negara di dunia.
- Kasus ini terasa seperti kriminalisasi kebijakan terhadap seorang technocrat yang berani berinovasi.
Kami tidak ingin talenta terbaik bangsa ini takut melayani negara. Kami tidak ingin generasi muda melihat bahwa “semakin kamu membantu negara, semakin besar risikonya”.
Nadiem Makarim adalah contoh anak bangsa yang rela berkorban.
Sekarang giliran kita berdiri di belakangnya.
Kami menuntut:
- Pembebasan Nadiem Makarim dari segala tuduhan yang tidak mendasar.
- Peninjauan ulang kasus ini secara adil dan proporsional.
- Dukungan terhadap semangat inovasi dan penggunaan teknologi dalam pendidikan Indonesia.
Setiap tanda tangan Anda adalah dukungan untuk anak-anak Indonesia yang pernah terbantu program pendidikan teknologi.
Setiap tanda tangan Anda adalah pesan: “Kami menghargai orang-orang baik yang mau berkorban untuk negeri ini.”
Mari kita tunjukkan bahwa rakyat Indonesia masih punya empati dan keadilan.
Tanda tangani petisi ini sekarang.
Bagikan ke keluarga, teman, dan komunitas Anda.
Untuk Nadiem, untuk pendidikan Indonesia, untuk masa depan anak cucu kita.
Hormat kami,
Para pendukung pendidikan Indonesia yang adil
306
Masalahnya
Kepada Yth.
Presiden Republik Indonesia
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
Masyarakat Indonesia yang Peduli Pendidikan
Kami, rakyat Indonesia yang peduli dengan masa depan pendidikan bangsa, datang dengan hati yang prihatin.
Nadiem Anwar Makarim bukanlah politisi biasa. Ia adalah founder Gojek — anak bangsa yang berhasil membangun startup pertama Indonesia yang bernilai lebih dari US$10 miliar. Seorang pria yang sudah sangat kaya, sukses, dan bisa menikmati hidup mewah bersama keluarganya. Tapi ia memilih jalan yang berbeda.
Pada tahun 2019, Nadiem meninggalkan posisinya sebagai CEO Gojek. Ia meninggalkan kekayaan, privasi, dan kenyamanan hidupnya untuk menerima panggilan moral menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tujuannya hanya satu: membawa teknologi dan inovasi ke dunia pendidikan Indonesia agar jutaan anak bangsa, terutama di daerah terpencil, bisa belajar lebih baik.
Di masa pandemi COVID-19 yang paling gelap, ketika jutaan siswa tidak bisa sekolah tatap muka, Nadiem dan timnya bergerak cepat menyediakan laptop Chromebook agar pembelajaran daring bisa berjalan. Bagi banyak anak di pelosok, itu adalah satu-satunya jembatan agar mereka tidak tertinggal total.
Sekarang, pria yang rela meninggalkan segalanya demi bangsa ini sedang dihukum berat. Jaksa menuntut 18 tahun penjara plus denda dan uang pengganti triliunan rupiah atas program yang dibuat di tengah darurat nasional.
Kami percaya:
- Nadiem Makarim masuk pemerintahan bukan untuk memperkaya diri, melainkan mengorbankan dirinya untuk kepentingan anak-anak Indonesia.
- Ia sudah kaya raya sebelum jadi menteri. Tidak ada motif logis baginya untuk korupsi.
- Program teknologi pendidikan di masa pandemi adalah keputusan darurat yang dilakukan banyak negara di dunia.
- Kasus ini terasa seperti kriminalisasi kebijakan terhadap seorang technocrat yang berani berinovasi.
Kami tidak ingin talenta terbaik bangsa ini takut melayani negara. Kami tidak ingin generasi muda melihat bahwa “semakin kamu membantu negara, semakin besar risikonya”.
Nadiem Makarim adalah contoh anak bangsa yang rela berkorban.
Sekarang giliran kita berdiri di belakangnya.
Kami menuntut:
- Pembebasan Nadiem Makarim dari segala tuduhan yang tidak mendasar.
- Peninjauan ulang kasus ini secara adil dan proporsional.
- Dukungan terhadap semangat inovasi dan penggunaan teknologi dalam pendidikan Indonesia.
Setiap tanda tangan Anda adalah dukungan untuk anak-anak Indonesia yang pernah terbantu program pendidikan teknologi.
Setiap tanda tangan Anda adalah pesan: “Kami menghargai orang-orang baik yang mau berkorban untuk negeri ini.”
Mari kita tunjukkan bahwa rakyat Indonesia masih punya empati dan keadilan.
Tanda tangani petisi ini sekarang.
Bagikan ke keluarga, teman, dan komunitas Anda.
Untuk Nadiem, untuk pendidikan Indonesia, untuk masa depan anak cucu kita.
Hormat kami,
Para pendukung pendidikan Indonesia yang adil
306
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 13 Mei 2026