

Bapak Presiden Republik Indonesia, Lindungilah Ladang dan Tanaman Pangan Lokal Petani
Masalahnya
Pak Presiden Jokowi yang kami hormati,
Beberapa hari lalu di bulan April 2016 ini, puluhan hektar ladang sorghum, kacang hijau, kacang panjang dan jagung milik kelompok tani yang tergabung dalam Aliansi Petani Lembor (APEL) di Lembor, Manggarai Barat, NTT secara semena-mena telah dibuldoser oleh oknum aparat gabungan dari beberapa instasi, baik dari unsur dinas teknis maupun aparat keamanan.
Pembuldoseran ini secara arogan bahkan mengatasnamakan Nawacita, menghancurkan semua jerih payah para petani untuk menyediakan kebutuhan nutrisi yang baik dari berbagai jenis tanaman pangan lokal yang dikembangkan oleh anggota kelompok tani. Lahan yang kami tanami adalah adalah lahan kritis bekas sawah yang dibiarkan dalam kondisi terlantar. Saat hanya menunggu 3 minggu lagi untuk dipanen, sorghum, kacang hijau, kacang panjang, dan jagung dimusnahkan demi dan atas nama ”Swasembada Beras.”
Sebagaimana Bapak Presiden ketahui, sangat tidak mudah menemukan kembali benih berbagai jenis tanaman pangan lokal. Benih-benih ini nyaris punah tergusur oleh politik pangan berbasis beras yang selama hampir empat puluh terakhir ikut melanda daerah kami. Benih-benih tersebut dengan susah payah kami kumpulkan dari satu daerah ke daerah lain, lalu kami semaikan untuk kembali ditanami secara luas oleh berbagai kelompok tani yang tersebar di berbagai daerah di NTT.
Secara empirik kami berkeyakinan bahwa benih dari berbagai jenis pangan lokal ini sudah sangat teruji kemampuan adaptasinya terhadap kondisi lahan NTT yang tergolong kering dan juga curah hujan yang tergolong sangat rendah dibandingkan daerah lain di Indonesia. Dan terhadap benih-benih yang telah kami kumpulkan ini, kami memiliki kesaksian historis nenek moyang kami, yang dituturkan secara turun temurun, baik tentang kandungan nurtisi maupun relasinya dengan berbagai ritual adat-istiadat yang berkembang dalam tradisi dan kearifan lokal kami.
Peristiwa penghancuran ladang-ladang petani yang sudah ditanami berbagai jenis tanaman pangan lokal, yang bahkan dilakukan di saat saat menjelang panen, menegas sebuah ironi. Pada saat yang sama, di tanah Jawa sendiri yang nota bene adalah sentra utama produksi padi nasional, sedang gencar dikampanyekan “Go Pangan Lokal” dan “One Day No Rice”. Keragaman pangan dipromosikan, namun para petani yang berjasa membudidayakan tanaman lokal untuk kedaulatan rakyat atas pangannya malah dihancurkan untuk "tanam paksa beras"!!
Pak Jokowi yang kami hormati,
Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang membentang di sebagian besar kawasan beriklim tropis. Walaupun memiliki kekayaan keragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil, keragaman tradisi dan kearifan masyrakat lokalnya sulit dicarikan padanannya dengan negara manapun. Mulai dari pola bertani dengan spesifik agroklimatnya, pilihan dan jenis tanaman pangan yang dibudidayakan, memaknai benih sebagai sumber kehidupan dan berelasi dengan alam, semua adalah milik khas setiap etnik maupun komunitas lokal.
Karena itu, tak aneh ketika kita menemukan bibit-bibit lokal dari beragam jenis tanaman pangan lokal, seperti jewawut, jelai, sorghum yang dibudidayakan secara turun-temurun di daerah setandus NTT. Di daerah ini, berbagai jenis gandum lokal dengan mudah tumbuh subur, dan menjadi sumber nutrisi yang tidak hanya mudah dijangkau tetapi juga murah ditinjau dari kemampuan daya beli.
Perjuangan menumbuhkan kembali keragaman tanaman pangan lokal ini dilakukan oleh petani-petani penggerak di berbagai daerah. Merekalah para pahlawan yang berjuang melestarikan kekayaan plasma nutfah anugerah Tuhan dan harapan bagi kedaulatan bangsa Indonesia atas pangannya. Pangan adalah bagian hak azasi manusia, sehingga tidak boleh ada pembatasan dan pemaksaan apapun bagi kebebasan masyarakat menyediakan pangannya sendiri.
Oleh karena itu, kami memohon kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo, untuk memberikan dukungan bagi setiap inisiatif pengembangan pangan dari jenis tanaman pangan lokal melindungi para petani di dalam menekuni kegiatan melakukan budidaya, dengan:
1. Mendorong dan menguatkan pengembangan tanaman lokal yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal di manapun di Indonesia, yang dengan sendirinya akan mendukung terwujudnya kedaulatan bangsa atas pangan.
2. Memerintahkan seluruh jajaran Kementrian, Pemerintah Daerah, TNI, dan Polri, utk mengamankan dan mendukung semua kegiatan masyarakat yang bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan bangsa atas pangan.
3. Menghentikan segala bentuk tindakan sewenang-wenang pemusnahan hasil kerja petani membudidayakan tanaman pangan lokal. Untuk semua kesewenangan yang sudah terjadi, mohon kiranya diusut tuntas siapa pelakunya dan diberikan konsekuensi sesuai hukum yang berlaku, termasuk hukum adat setempat.
Bapak Presiden yang kami hormati,
Surat terbuka yang kami sampaikan kepada Bapak juga memperhatikan secara saksama dan merujuk pada UU Pangan No. 18/2012, Perpres no. 22/2009 tentang penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal, dan Permentan no. 43/2009 tentang gerakan percepatan konsumsi pangan lokal. Besar harapan kami agar semua mandat sebagaimana tertuang didalamnya dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh semua pihak yang terkait.
Kami akan memberikan dukungan terhadap semua kebijakan yang diambil Bapak Presiden dalam rangka memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan. Karena itu kami juga ingin memastikan kepada Bapak Presiden bahwa kita sebenarnya tidak kekurangan ahli di akar rumput yang mampu mewujudkan kedaulatan pangan dalam waktu yang relatif cepat dan secara bersamaan membantu meningkatkan kesejahteraan petani, dimanapun mereka berada.
Agar Bapak Presiden dapat menyaksikan dari dekat semua jerih payah, kesungguhan dan dan ketangguhan petani dalam mengembangkan pangan lokalnya, kami mengundang dengan segala hormat agar Bapak Presiden dapat menghadiri acara:
PANEN RAYA SORGHUM
di Likotuden Desa Kawalelo, Kec. Demon Pagong, Kab. Flores Timur, NTT
Pada 9 Mei 2016, pk.10.30 WITA
Bapak dapat melihat berbagai tanaman lokal lainnya yang merupakan kekayaan bangsa kita. Jika didukung pemerintah maka niscaya kedaulatan terwujud dari keragaman pangan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.
Kami menantikan dengan penuh harapan dan teriring doa agar Bapak Presiden senantiasa diberi kesehatan.
Salam dari kami para petani di Flores Timur,
Maria Loretha (Mama Tata), Ketua Perhimpunan Petani Pangan Lokal (P3L) Nusa Tenggara Timur
Lampiran:
- Pemusnahan hasil tanam Sorghum petani - komentar di Facebook:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=961804653940247&id=100003321631095

Masalahnya
Pak Presiden Jokowi yang kami hormati,
Beberapa hari lalu di bulan April 2016 ini, puluhan hektar ladang sorghum, kacang hijau, kacang panjang dan jagung milik kelompok tani yang tergabung dalam Aliansi Petani Lembor (APEL) di Lembor, Manggarai Barat, NTT secara semena-mena telah dibuldoser oleh oknum aparat gabungan dari beberapa instasi, baik dari unsur dinas teknis maupun aparat keamanan.
Pembuldoseran ini secara arogan bahkan mengatasnamakan Nawacita, menghancurkan semua jerih payah para petani untuk menyediakan kebutuhan nutrisi yang baik dari berbagai jenis tanaman pangan lokal yang dikembangkan oleh anggota kelompok tani. Lahan yang kami tanami adalah adalah lahan kritis bekas sawah yang dibiarkan dalam kondisi terlantar. Saat hanya menunggu 3 minggu lagi untuk dipanen, sorghum, kacang hijau, kacang panjang, dan jagung dimusnahkan demi dan atas nama ”Swasembada Beras.”
Sebagaimana Bapak Presiden ketahui, sangat tidak mudah menemukan kembali benih berbagai jenis tanaman pangan lokal. Benih-benih ini nyaris punah tergusur oleh politik pangan berbasis beras yang selama hampir empat puluh terakhir ikut melanda daerah kami. Benih-benih tersebut dengan susah payah kami kumpulkan dari satu daerah ke daerah lain, lalu kami semaikan untuk kembali ditanami secara luas oleh berbagai kelompok tani yang tersebar di berbagai daerah di NTT.
Secara empirik kami berkeyakinan bahwa benih dari berbagai jenis pangan lokal ini sudah sangat teruji kemampuan adaptasinya terhadap kondisi lahan NTT yang tergolong kering dan juga curah hujan yang tergolong sangat rendah dibandingkan daerah lain di Indonesia. Dan terhadap benih-benih yang telah kami kumpulkan ini, kami memiliki kesaksian historis nenek moyang kami, yang dituturkan secara turun temurun, baik tentang kandungan nurtisi maupun relasinya dengan berbagai ritual adat-istiadat yang berkembang dalam tradisi dan kearifan lokal kami.
Peristiwa penghancuran ladang-ladang petani yang sudah ditanami berbagai jenis tanaman pangan lokal, yang bahkan dilakukan di saat saat menjelang panen, menegas sebuah ironi. Pada saat yang sama, di tanah Jawa sendiri yang nota bene adalah sentra utama produksi padi nasional, sedang gencar dikampanyekan “Go Pangan Lokal” dan “One Day No Rice”. Keragaman pangan dipromosikan, namun para petani yang berjasa membudidayakan tanaman lokal untuk kedaulatan rakyat atas pangannya malah dihancurkan untuk "tanam paksa beras"!!
Pak Jokowi yang kami hormati,
Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang membentang di sebagian besar kawasan beriklim tropis. Walaupun memiliki kekayaan keragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil, keragaman tradisi dan kearifan masyrakat lokalnya sulit dicarikan padanannya dengan negara manapun. Mulai dari pola bertani dengan spesifik agroklimatnya, pilihan dan jenis tanaman pangan yang dibudidayakan, memaknai benih sebagai sumber kehidupan dan berelasi dengan alam, semua adalah milik khas setiap etnik maupun komunitas lokal.
Karena itu, tak aneh ketika kita menemukan bibit-bibit lokal dari beragam jenis tanaman pangan lokal, seperti jewawut, jelai, sorghum yang dibudidayakan secara turun-temurun di daerah setandus NTT. Di daerah ini, berbagai jenis gandum lokal dengan mudah tumbuh subur, dan menjadi sumber nutrisi yang tidak hanya mudah dijangkau tetapi juga murah ditinjau dari kemampuan daya beli.
Perjuangan menumbuhkan kembali keragaman tanaman pangan lokal ini dilakukan oleh petani-petani penggerak di berbagai daerah. Merekalah para pahlawan yang berjuang melestarikan kekayaan plasma nutfah anugerah Tuhan dan harapan bagi kedaulatan bangsa Indonesia atas pangannya. Pangan adalah bagian hak azasi manusia, sehingga tidak boleh ada pembatasan dan pemaksaan apapun bagi kebebasan masyarakat menyediakan pangannya sendiri.
Oleh karena itu, kami memohon kepada Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo, untuk memberikan dukungan bagi setiap inisiatif pengembangan pangan dari jenis tanaman pangan lokal melindungi para petani di dalam menekuni kegiatan melakukan budidaya, dengan:
1. Mendorong dan menguatkan pengembangan tanaman lokal yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal di manapun di Indonesia, yang dengan sendirinya akan mendukung terwujudnya kedaulatan bangsa atas pangan.
2. Memerintahkan seluruh jajaran Kementrian, Pemerintah Daerah, TNI, dan Polri, utk mengamankan dan mendukung semua kegiatan masyarakat yang bertujuan untuk mewujudkan kedaulatan bangsa atas pangan.
3. Menghentikan segala bentuk tindakan sewenang-wenang pemusnahan hasil kerja petani membudidayakan tanaman pangan lokal. Untuk semua kesewenangan yang sudah terjadi, mohon kiranya diusut tuntas siapa pelakunya dan diberikan konsekuensi sesuai hukum yang berlaku, termasuk hukum adat setempat.
Bapak Presiden yang kami hormati,
Surat terbuka yang kami sampaikan kepada Bapak juga memperhatikan secara saksama dan merujuk pada UU Pangan No. 18/2012, Perpres no. 22/2009 tentang penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal, dan Permentan no. 43/2009 tentang gerakan percepatan konsumsi pangan lokal. Besar harapan kami agar semua mandat sebagaimana tertuang didalamnya dapat dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh semua pihak yang terkait.
Kami akan memberikan dukungan terhadap semua kebijakan yang diambil Bapak Presiden dalam rangka memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan. Karena itu kami juga ingin memastikan kepada Bapak Presiden bahwa kita sebenarnya tidak kekurangan ahli di akar rumput yang mampu mewujudkan kedaulatan pangan dalam waktu yang relatif cepat dan secara bersamaan membantu meningkatkan kesejahteraan petani, dimanapun mereka berada.
Agar Bapak Presiden dapat menyaksikan dari dekat semua jerih payah, kesungguhan dan dan ketangguhan petani dalam mengembangkan pangan lokalnya, kami mengundang dengan segala hormat agar Bapak Presiden dapat menghadiri acara:
PANEN RAYA SORGHUM
di Likotuden Desa Kawalelo, Kec. Demon Pagong, Kab. Flores Timur, NTT
Pada 9 Mei 2016, pk.10.30 WITA
Bapak dapat melihat berbagai tanaman lokal lainnya yang merupakan kekayaan bangsa kita. Jika didukung pemerintah maka niscaya kedaulatan terwujud dari keragaman pangan yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.
Kami menantikan dengan penuh harapan dan teriring doa agar Bapak Presiden senantiasa diberi kesehatan.
Salam dari kami para petani di Flores Timur,
Maria Loretha (Mama Tata), Ketua Perhimpunan Petani Pangan Lokal (P3L) Nusa Tenggara Timur
Lampiran:
- Pemusnahan hasil tanam Sorghum petani - komentar di Facebook:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=961804653940247&id=100003321631095

Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 1 Mei 2016
