Audit PT KPC yang Tenggelamkan Permukiman di Kampung Tator Sangatta


Audit PT KPC yang Tenggelamkan Permukiman di Kampung Tator Sangatta
Masalahnya
Sore itu, Rina, sebut saja begitu namanya, sudah mengenakan seragam kremnya rapi-rapi. Sebagai administrasi di sebuah gudang logistik, dia terbiasa berangkat sebelum matahari benar-benar terbenan. Ibunya, yang duduk di kursi kayu sambil
Dia tahu, di balik bukit kecil, terbentang kolam penampungan air raksasa milik PT Kaltim Prima Coal. Dugaannya sebagian dinding atau pipa pembuangan bermasalah. Air coklat pekat mengalir deras dari celah sepanjang puluhan meter, menerjang semua yang dilewati. Tidak ada alarm. Hanya suara gemuruh air yang seolah menertawakan nasib 25 keluarga di bawah.
Rina membidikkan ponselnya. Rekam. Foto. Video. Dia mengirimkannya ke grup warga, lalu ke akun media sosialnya. Tangan yang memegang ponsel itu bergetar—bukan karena dingin, tapi karena marah yang tertahan. “Tidak ada yang boleh lolos,” bisiknya. Di kepalanya sudah tersusun kata-kata yang akan dia sampaikan kepada siapa pun. Pekerjaannya? Sudah lewat. Manajer gudang pasti akan menghubunginya.
Tapi biarlah. Rina sudah bulat: PT KPC harus diperiksa, dan jika terbukti lalai, mereka harus dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Untuk satu petang yang menghancurkan seluruh hidupnya, dia tidak akan diam. Air itu kini surut, tapi dendamnya akan terus mengalir seperti banjir itu sendiri.

1
Masalahnya
Sore itu, Rina, sebut saja begitu namanya, sudah mengenakan seragam kremnya rapi-rapi. Sebagai administrasi di sebuah gudang logistik, dia terbiasa berangkat sebelum matahari benar-benar terbenan. Ibunya, yang duduk di kursi kayu sambil
Dia tahu, di balik bukit kecil, terbentang kolam penampungan air raksasa milik PT Kaltim Prima Coal. Dugaannya sebagian dinding atau pipa pembuangan bermasalah. Air coklat pekat mengalir deras dari celah sepanjang puluhan meter, menerjang semua yang dilewati. Tidak ada alarm. Hanya suara gemuruh air yang seolah menertawakan nasib 25 keluarga di bawah.
Rina membidikkan ponselnya. Rekam. Foto. Video. Dia mengirimkannya ke grup warga, lalu ke akun media sosialnya. Tangan yang memegang ponsel itu bergetar—bukan karena dingin, tapi karena marah yang tertahan. “Tidak ada yang boleh lolos,” bisiknya. Di kepalanya sudah tersusun kata-kata yang akan dia sampaikan kepada siapa pun. Pekerjaannya? Sudah lewat. Manajer gudang pasti akan menghubunginya.
Tapi biarlah. Rina sudah bulat: PT KPC harus diperiksa, dan jika terbukti lalai, mereka harus dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Untuk satu petang yang menghancurkan seluruh hidupnya, dia tidak akan diam. Air itu kini surut, tapi dendamnya akan terus mengalir seperti banjir itu sendiri.

1
Perkembangan terakhir petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 9 April 2026