Angka Bunuh Diri Tinggi, Dukung Penempatan Psikolog Klinis di Puskesmas se-Bali!


Angka Bunuh Diri Tinggi, Dukung Penempatan Psikolog Klinis di Puskesmas se-Bali!
The Issue
Pemerintah Provinsi Bali mengajak masyarakat untuk mencari solusi agar tingkat bunuh diri (suicide rate) di Bali menurun. Sebab, Bali tercatat sebagai provinsi dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Indonesia.
Bali dinobatkan sebagai provinsi dengan tingkat bunuh diri tertinggi oleh Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri. Tingkat bunuh diri di Bali mencapai angka 3,07 persen, diikuti Yogyakarta dengan angka 1,58 persen.
"Secara umum ini perlu upaya kita bersama untuk mengajak masyarakat mencari solusi-solusi," ucap Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra seusai menghadiri rapat paripurna di DPRD Bali, Senin (1/7/2024). (sumber:detik.com)
Suicide rate atau tingkat bunuh diri dihitung berdasarkan jumlah kasus bunuh diri dibandingkan dengan jumlah penduduk. Menurut Data Pusat Informasi Kriminal Indonesia (Pusiknas) Polri, tingkat bunuh diri di Bali jauh melampaui provinsi-provinsi lain di Tanah Air. Tingkat bunuh diri di Provinsi Bali sepanjang 2023 adalah 3,07.
Peringkat kedua setelah Bali adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan angka suicide rate sebesar 1,58. Sementara di peringkat ketiga ditempati Provinsi Bengkulu dengan angka suicide rate sebesar 1,53. Lalu ada Aceh yang menempati posisi buncit dari seluruh provinsi di Indonesia, angka suicide rate-nya hanya 0,02.
Berdasarkan data Pusiknas Polri, pada 2023 ada 135 kasus bunuh diri di Bali yang dilaporkan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berkisar 4,3 juta jiwa, angka tersebut tergolong tinggi.
Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP Prof Ngoerah, Anak Ayu Sri Wahyuni membeberkan penyebab tingkat bunuh diri di Bali paling tinggi di Indonesia.
Menurut dia, ada dua penyebab di balik fenomena ini, yakni faktor biologis dan psikososial.
"Penyebab secara biologis karena memang ada kelainan mental pada seseorang seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar. Kemudian, psikososial seperti terbelit utang, terutama saat ini adalah pinjol (pinjaman online)," beber Sri saat ditemui di RSUP Prof Ngoerah, Denpasar, Bali, melansir detik, Kamis (27/6). Sumber: detik.com
Menurutnya, wilayah Bali yang kecil membuat laporan kasus bunuh diri cepat viral sehingga berpengaruh terhadap tingginya kasus bunuh diri.
"Kebanyakan yang saya amati dan dengar langsung dari tetangga atau keluarga (seseorang yang bunuh diri) biasanya karena penyakit kronis atau penyakit yang lama dan tidak sembuh-sembuh. Kemudian belitan utang, terutama karena terlibat dengan judi slot online," kata dia.
Sri mengungkapkan ada satu kasus bunuh diri yang terjadi di salah satu kabupaten di Bali pada tahun ini. Pasangan suami istri (pasutri) bunuh diri lantaran dikejar-kejar debt collector atau penagih utang setelah terbelit utang pinjol. (sumber: cnbcindonesia.com)
Penanganan pasien dengan risiko bunuh diri cukup rumit. Hal ini karena banyak pasien dengan risiko bunuh diri tidak menunjukkan gejala gangguan psikiatri berat atau menyatakan keinginan atau ide bunuh diri. Kurang lebih 10% pasien yang datang ke UGD mempunyai ide atau perilaku bunuh diri, tapi tidak mengatakannya kecuali bila ditanya.
Bunuh diri merupakan salah satu penyebab kematian terbesar. Manajemen untuk pasien dengan perilaku bunuh diri diawali dengan penilaian komprehensif untuk menilai tingkat risiko perilaku bunuh diri. Apabila terdapat kegawatdaruratan fisik, seperti intoksikasi atau syok hemoragik, maka hal tersebut harus diatasi terlebih dahulu.
Empat komponen dasar yang penting manajemen pasien dengan perilaku bunuh diri adalah komunikasi yang empatik, pengaturan keamanan bagi pasien, membatasi akses ke barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, dan dukungan sosial. Manajemen pasien dengan perilaku bunuh diri bisa dilakukan di UGD, rawat inap, maupun rawat jalan sesuai dengan tingkat risiko pada pasien.Perencanaan pemantauan dan janji temu juga sangat penting untuk pengelolaan risiko bunuh diri dalam jangka panjang.
Upaya pencegahan kasus bunuh diri di Bali yang terpenting adalah meningkatkan komunikasi dalam keluarga serta penting untuk melakukan pendekatan kultural sesuai adat di Bali. Hal yang paling sederhana yakni mulai dari saling mendengarkan dan didengarkan. Kemudian, menerima kekurangan masing-masing hingga selalu bersyukur pada segala hal dan tidak terfokus pada suatu benda.
Sebagai masyarakat yang bersifat komunal, peranan Desa Adat di Bali sangat vital dalam mendukung program penurunan angka bunuh diri dengan terlibat aktif serta melakukan pembenahan-pembenahan mental spiritual di lingkungan internal warga desa adatnya. Untuk diketahui jumlah Desa Adat di Bali saat ini sudah mencapai 1.500 Desa Adat.
Sebagai langkah pencegahan dan pertolongan pertama, Pusat Kesehatan Masyarakat (Pukesmas) yang tersebar di seluruh kecamatan di Bali memiliki peran strategis dalam me-mitigasi semakin tingginya angka bunuh diri. Untuk itu, dibutuhkan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugas mulia ini. Sehingga tenaga Psikolog Klinis sangat urgent dibutuhkan oleh Puskesmas seluruh Bali.
Program penempatan psikolog klinis di seluruh Puskesmas di Bali dinilai akan efektif guna mewujudkan masyarakat yang memiliki kesadaran akan kesehatan mental serta menjauhkan niatan untuk bunuh diri. Keberadaan psikolog klinis pada Puskesmas di Provinsi Bali diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa, menekan angka bunuh diri kedepannya serta memberikan promosi, serta edukasi mengenai hidup sehat dengan menjaga kesehatan mental (Isfandari, Siti, et al., 2011). Sumber: https://cpmh.psikologi.ugm.ac.id/
Dewan Pimpinan Daerah Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dalam Tri Bhakti-nya dibidang bhakti warga (Kemanusiaan), mendukung penuh pengadaan, penempatan tenaga psikolog klinis di seluruh Puskesmas se-Bali dalam upaya menekan angka kematian akibat bunuh diri serta gangguan mental lainnya. Sebagai daerah sentra pariwisata, dalam beberapa kasus, pelaku bunuh diri bahkan ada diantaranya adalah warga negara asing yang berlibur dan tinggal di Bali. Penanganan holistik sangat dibutuhkan agar Bali tidak menjadi daerah darurat bunuh diri!
Psikolog klinis di Puskesmas dapat memberikan edukasi mengenai kesehatan mental sebagai upaya preventif terhadap munculnya masalah kesehatan mental termasuk bunuh diri pada masyarakat Bali. Mari kita dukung penempatan psikolog klinis pada Puskemas di seluruh Bali! Men Sana In Corpore Sano!
29
The Issue
Pemerintah Provinsi Bali mengajak masyarakat untuk mencari solusi agar tingkat bunuh diri (suicide rate) di Bali menurun. Sebab, Bali tercatat sebagai provinsi dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Indonesia.
Bali dinobatkan sebagai provinsi dengan tingkat bunuh diri tertinggi oleh Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri. Tingkat bunuh diri di Bali mencapai angka 3,07 persen, diikuti Yogyakarta dengan angka 1,58 persen.
"Secara umum ini perlu upaya kita bersama untuk mengajak masyarakat mencari solusi-solusi," ucap Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bali Dewa Made Indra seusai menghadiri rapat paripurna di DPRD Bali, Senin (1/7/2024). (sumber:detik.com)
Suicide rate atau tingkat bunuh diri dihitung berdasarkan jumlah kasus bunuh diri dibandingkan dengan jumlah penduduk. Menurut Data Pusat Informasi Kriminal Indonesia (Pusiknas) Polri, tingkat bunuh diri di Bali jauh melampaui provinsi-provinsi lain di Tanah Air. Tingkat bunuh diri di Provinsi Bali sepanjang 2023 adalah 3,07.
Peringkat kedua setelah Bali adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan angka suicide rate sebesar 1,58. Sementara di peringkat ketiga ditempati Provinsi Bengkulu dengan angka suicide rate sebesar 1,53. Lalu ada Aceh yang menempati posisi buncit dari seluruh provinsi di Indonesia, angka suicide rate-nya hanya 0,02.
Berdasarkan data Pusiknas Polri, pada 2023 ada 135 kasus bunuh diri di Bali yang dilaporkan. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berkisar 4,3 juta jiwa, angka tersebut tergolong tinggi.
Dokter spesialis kejiwaan atau psikiater RSUP Prof Ngoerah, Anak Ayu Sri Wahyuni membeberkan penyebab tingkat bunuh diri di Bali paling tinggi di Indonesia.
Menurut dia, ada dua penyebab di balik fenomena ini, yakni faktor biologis dan psikososial.
"Penyebab secara biologis karena memang ada kelainan mental pada seseorang seperti depresi, skizofrenia, atau gangguan bipolar. Kemudian, psikososial seperti terbelit utang, terutama saat ini adalah pinjol (pinjaman online)," beber Sri saat ditemui di RSUP Prof Ngoerah, Denpasar, Bali, melansir detik, Kamis (27/6). Sumber: detik.com
Menurutnya, wilayah Bali yang kecil membuat laporan kasus bunuh diri cepat viral sehingga berpengaruh terhadap tingginya kasus bunuh diri.
"Kebanyakan yang saya amati dan dengar langsung dari tetangga atau keluarga (seseorang yang bunuh diri) biasanya karena penyakit kronis atau penyakit yang lama dan tidak sembuh-sembuh. Kemudian belitan utang, terutama karena terlibat dengan judi slot online," kata dia.
Sri mengungkapkan ada satu kasus bunuh diri yang terjadi di salah satu kabupaten di Bali pada tahun ini. Pasangan suami istri (pasutri) bunuh diri lantaran dikejar-kejar debt collector atau penagih utang setelah terbelit utang pinjol. (sumber: cnbcindonesia.com)
Penanganan pasien dengan risiko bunuh diri cukup rumit. Hal ini karena banyak pasien dengan risiko bunuh diri tidak menunjukkan gejala gangguan psikiatri berat atau menyatakan keinginan atau ide bunuh diri. Kurang lebih 10% pasien yang datang ke UGD mempunyai ide atau perilaku bunuh diri, tapi tidak mengatakannya kecuali bila ditanya.
Bunuh diri merupakan salah satu penyebab kematian terbesar. Manajemen untuk pasien dengan perilaku bunuh diri diawali dengan penilaian komprehensif untuk menilai tingkat risiko perilaku bunuh diri. Apabila terdapat kegawatdaruratan fisik, seperti intoksikasi atau syok hemoragik, maka hal tersebut harus diatasi terlebih dahulu.
Empat komponen dasar yang penting manajemen pasien dengan perilaku bunuh diri adalah komunikasi yang empatik, pengaturan keamanan bagi pasien, membatasi akses ke barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, dan dukungan sosial. Manajemen pasien dengan perilaku bunuh diri bisa dilakukan di UGD, rawat inap, maupun rawat jalan sesuai dengan tingkat risiko pada pasien.Perencanaan pemantauan dan janji temu juga sangat penting untuk pengelolaan risiko bunuh diri dalam jangka panjang.
Upaya pencegahan kasus bunuh diri di Bali yang terpenting adalah meningkatkan komunikasi dalam keluarga serta penting untuk melakukan pendekatan kultural sesuai adat di Bali. Hal yang paling sederhana yakni mulai dari saling mendengarkan dan didengarkan. Kemudian, menerima kekurangan masing-masing hingga selalu bersyukur pada segala hal dan tidak terfokus pada suatu benda.
Sebagai masyarakat yang bersifat komunal, peranan Desa Adat di Bali sangat vital dalam mendukung program penurunan angka bunuh diri dengan terlibat aktif serta melakukan pembenahan-pembenahan mental spiritual di lingkungan internal warga desa adatnya. Untuk diketahui jumlah Desa Adat di Bali saat ini sudah mencapai 1.500 Desa Adat.
Sebagai langkah pencegahan dan pertolongan pertama, Pusat Kesehatan Masyarakat (Pukesmas) yang tersebar di seluruh kecamatan di Bali memiliki peran strategis dalam me-mitigasi semakin tingginya angka bunuh diri. Untuk itu, dibutuhkan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam melaksanakan tugas mulia ini. Sehingga tenaga Psikolog Klinis sangat urgent dibutuhkan oleh Puskesmas seluruh Bali.
Program penempatan psikolog klinis di seluruh Puskesmas di Bali dinilai akan efektif guna mewujudkan masyarakat yang memiliki kesadaran akan kesehatan mental serta menjauhkan niatan untuk bunuh diri. Keberadaan psikolog klinis pada Puskesmas di Provinsi Bali diharapkan mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa, menekan angka bunuh diri kedepannya serta memberikan promosi, serta edukasi mengenai hidup sehat dengan menjaga kesehatan mental (Isfandari, Siti, et al., 2011). Sumber: https://cpmh.psikologi.ugm.ac.id/
Dewan Pimpinan Daerah Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali dalam Tri Bhakti-nya dibidang bhakti warga (Kemanusiaan), mendukung penuh pengadaan, penempatan tenaga psikolog klinis di seluruh Puskesmas se-Bali dalam upaya menekan angka kematian akibat bunuh diri serta gangguan mental lainnya. Sebagai daerah sentra pariwisata, dalam beberapa kasus, pelaku bunuh diri bahkan ada diantaranya adalah warga negara asing yang berlibur dan tinggal di Bali. Penanganan holistik sangat dibutuhkan agar Bali tidak menjadi daerah darurat bunuh diri!
Psikolog klinis di Puskesmas dapat memberikan edukasi mengenai kesehatan mental sebagai upaya preventif terhadap munculnya masalah kesehatan mental termasuk bunuh diri pada masyarakat Bali. Mari kita dukung penempatan psikolog klinis pada Puskemas di seluruh Bali! Men Sana In Corpore Sano!
29
The Decision Makers
Petition Updates
Share this petition
Petition created on 17 September 2024