Kelalaian Sistem e-Commerce AKULAKU Merugikan Customer

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


AKULAKU merupakan salah satu platform e-commerce yang menyediakan berbagai macam produk dengan tawaran metode pembayaran baru melalui cicilan tanpa kartu kredit. Banyak sekali kemudahan yang ditawarkan AKULAKU. Namun, tidak sedikit juga review negatif dari customer berkaitan dengan: ketidakjelasan pengiriman barang, barang yang datang cacat/tidak dapat berfungsi dengan baik, dan yang paling banyak dan merupakan ujung dari semua komplain adalah ketidakberdayaan Customer Service menyediakan opsi yang solutif dalam menanggapi komplain customer.

Selain itu, terdapat laporan berupa Tagihan Pesanan yang bermasalah dan tiba-tiba muncul hingga menghabiskan limit kredit. Dan lagi-lagi, Customer Service dinilai gagal dalam mengadvokasi customer.

Pada kasus penulis, penulis merupakan salah satu customer AKULAKU. Mulanya, tidak ada tagihan/bills pada akun penulis dan limit kredit yang disedikan masih utuh. Tanggal 6 November 2019,  penulis melihat ada tagihan yang menguras limit kreditnya yang semula Rp 2.860.000,- menjadi tersisa Rp 50.000,- dimana telah digunakan sebesar Rp 2.810.000,-. Hingga saat petisi ini dibuat pada tanggal 15 November 2019, akun penulis masih saja diretas. Saat ini terdapat lebih dari 30 kali percobaan pesanan dan 5 di antaranya berhasil.

Tagihan-tagihan yang masuk dimulai pada tanggal 5 November 2019 pukul 03:28 WIB dan kesemuanya berasal dari Shopee. Sebelumnya, TIDAK PERNAH ADA ada SMS yang masuk mengirimkan Kode Verifikasi OTP seperti biasa ketika melakukan transaksi di AKULAKU. Tidak ada juga panggilan yang masuk dari seseorang yang berusaha menipu dan mengambil alih akun AKULAKU. Dan aktivitas pemesanan dimulai saat penulis sedang tidur.

Penulis menghubungi CS AKULAKU untuk menanyakan hal ini kemudian diminta menghubungi Shopee untuk mengklarifikasi kejelasan pesanan. Sayangnya, pihak Shopee tidak bisa membantu karena nomor pesanan yang tertera di AKULAKU tidak sesuai dengan Shopee (Nomor pesanan di AKULAKU sebanyak 21 digit: 157xxxx sedangkan seharusnya Shopee 15 digit dan dimulai dengan angka 191xxxx) sehingga sistem Shopee tidak bisa melacak pesanan. Penulis kembali menghubungi CS AKULAKU dan mendapat informasi bahwa semua transaksi yang ada digunakan untuk pembayaran Top Up Saldo OVO.

Satu-satunya "kinerja yang positif" yang dilakukan CS AKULAKU dalam handling masalah ini adalah dengan mengosongkan limit kredit penulis untuk menghindari peretasan lebih lanjut. Akan tetapi, tagihan tetap dibebankan pada customer karena transaksi dilakukan atas nama customer.

Di sini penulis melihat tidak ada solusi yang menguntungkan customer. Penulis juga menemukan beberapa korban dengan kasus yang sama dengan kerugian yang tidak sedikit jika ditotal. Sayangnya, belum ada penyelesaian hingga tuntas dari pihak AKULAKU. Tagihan tetap berjalan dengan bunganya jika telah melewati jatuh tempo. Customer-customer yang menjadi korban ini juga sangat dirugikan dengan aktivitas debt collector yang mengganggu dalam proses penagihan bills.

___________________

UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

___________________

Mari bersama-sama dengan penulis menuntut pihak AKULAKU untuk menghapuskan tagihan akibat dari kelalaian proses authorization system!

# Jangan bebankan tagihan pada Customer atas kecacatan sistem!

# AWASI AKULAKU!

#LAPOR OJK!