Transisi Energi Harus BERKEADILAN, Stop Pembangunan PLTA PT Poso Energy


Transisi Energi Harus BERKEADILAN, Stop Pembangunan PLTA PT Poso Energy
Masalahnya
"Awal masuk Perusahaan kami masyarakat merasa senang karena akan banyak lapangan pekerjaan untuk anak – anak kami nanti, akan ada listrik gratis untuk kami di desa Saojo, ini janji - janji yang mereka katakan pada kami. Namun sampai sekarang tidak pernah terealisasi janji –janji para bos- bos di perusahaan tersebut…” Ungkap Ibu EP
“Semenjak ada perusahaan ini saya tidak bisa menggunakan lagi air sungai untuk memasak, kami harus membeli air galon lagi untuk di pakai memasak, karena air sungai sudah kabur" Ujar Bu MB
“di atas Sungai dulu kami membuat Pagar Sogili (wayamasapi) untuk menangkap ikan sogili lalu di jual ke pasar, juga kami membuat Karamba Ikan ada ikan Mujair, Ikan Mas, dan lain – lain untuk kami jual dan sebagian untuk di konsumsi sendiri, namun sekarang sudah susah untuk menangkap ikan sogili" cerita Ibu MB
Bu E*** dan Bu M*** adalah dua dari banyak perempuan di Desa Sulewana dan Desa Saojo yang terdampak pembangunan PLTA PT Poso Energy. PT Poso Energy adalah anak perusahaan PT Bukaka Teknik Utama, yang dimiliki oleh Jusuf Kalla, mantan wakil presiden Indonesia selama dua periode. Sekarang, PLTA 1 dan 2 PT Poso Energy ini sudah beroperasi. Tapi, listriknya tentu saja tidak dinikmati langsung oleh warga sekitar.
Pembangunan PLTA Poso 2 yang dimulai sejak tahun 2003 berada di Desa Sulewana dan telah beroperasi pada tahun 2012 dengan kapasitas 195 MW (megawatt) dan PLTA 1 yang berada di Desa Saojo dengan kapasitas 120 MW (megawatt).
Sebenarnya bagus banget inisiatif pemerintah untuk bangun pembangkit listrik bersih kayak gini. Tapi, sayang sekali karena sangat banyak yang dikorbankan demi memenuhi jargon “Transisi Energi Bersih” Apalagi dari awal proses pembangunannya juga tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat.
Pembangunan PLTA 1 dan 2 telah berdampak secara masif terhadap kehidupan perempuan, tidak hanya menghancurkan sumber-sumber kehidupan mereka, pembangunan tersebut juga telah menghancurkan ekologi hingga nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Selain itu PLTA juga tidak dapat dikategorikan sebagai energi baru terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan sebagai solusi untuk mengatasi krisis iklim, faktanya PLTA hanya banyak menimbulkan dampak bagi masyarakat.
Selain pencemaran sumber air bersih dan rusaknya ekosistem perikanan, proses pembangunan PLTA 1 dan 2 juga sudah merendam lahan pertanian produktif dan lahan penggembalaan kerbau. Pencemaran air bersih itu diantaranya karena limbah semen dan minyak oli dibuang langsung ke sungai. Perempuan terpaksa menggunakan air tersebut, karena tidak mampu membeli air setiap hari untuk dipakai memasak, minum, mandi dan lain – lain.
Coba kalian bayangkan, bagaimana kalau setiap hari kalian merasakan getaran yang cukup kuat seperti gempa bumi. Hal itu terjadi ketika ada koslet atau mati lampu secara tiba – tiba, listrik di buang ke penampungan (Power Home) itulah yang menyebabkan getaran tersebut, kemudian bagaimana aktivitas PLTA Poso melakukan pemboman batu untuk menghancurkan batuan yang ada di dekat sungai, sementara perempuan bertempat tinggal didekat pinggiran sungai. Inilah yang dirasakan oleh warga Desa Sulewana dan Desa Saojo selama proses pembangunan PLTA.
Persoalan lain dimana ketika perusahaan membuka pintu air, aliran sungai semakin tinggi dan arus yang semakin kencang akan mengikis tanah disekitar pinggiran sungai yang berada di bawah rumah warga. Akibatnya, banyak bangunan yang retak, rusak, bahkan sampai amblas, tidak bisa di tinggali lagi. Keluarga yang kehilangan rumah ini akhirnya terpaksa pindah dan menumpang di rumah kerabatnya. Sejauh ini, menurut catatan kami ada 22 rumah dan 1 gereja yang rusak. Sampai sekarang juga tidak ada pertanggungjawaban yang jelas atas kerusakan ini.
Selama ini masyarakat khususnya Perempuan Desa Sulewana dan Desa Saojo sudah sering memperjuangkan hak-hak mereka. Melakukan aksi di depan PLTA PT Poso Energy, Audiensi dengan DPRD, dan membuat aduan ke Komnas HAM dan Komnas Perempuan. Tapi, sampai sekarang tidak ada respons yang berarti dari para pihak terkait. Malah, sekarang sedang direncanakan untuk dibangun PLTA Poso 3 dan 4 di Desa yang berdekatan dengan Desa Sulewana dan Desa Saojo yang jadi lokasi PLTA 1 dan 2.
Keledai aja tidak jatuh 2 kali di lubang yang sama. Jangan sampai serentetan kerusakan yang menimpa desa-desa di sekitar PLTA Poso terulang kembali. Maka dari itu, kami minta agar Kementerian ESDM, Gubernur Sulawesi Tengah, dan Pemda Kabupaten Poso untuk hentikan rencana pembangunan PLTA 3 dan 4 PT Poso Energy. Transisi energi bersih harus berkeadilan. Kalau tidak, maka ia hanya akan jadi solusi palsu atas krisis iklim.
Kalau kalian setuju dengan kami, dukung petisi ini, ya!
Salam Solidaritas,
Solidaritas Perempuan Sintuwu Raya Poso

174
Masalahnya
"Awal masuk Perusahaan kami masyarakat merasa senang karena akan banyak lapangan pekerjaan untuk anak – anak kami nanti, akan ada listrik gratis untuk kami di desa Saojo, ini janji - janji yang mereka katakan pada kami. Namun sampai sekarang tidak pernah terealisasi janji –janji para bos- bos di perusahaan tersebut…” Ungkap Ibu EP
“Semenjak ada perusahaan ini saya tidak bisa menggunakan lagi air sungai untuk memasak, kami harus membeli air galon lagi untuk di pakai memasak, karena air sungai sudah kabur" Ujar Bu MB
“di atas Sungai dulu kami membuat Pagar Sogili (wayamasapi) untuk menangkap ikan sogili lalu di jual ke pasar, juga kami membuat Karamba Ikan ada ikan Mujair, Ikan Mas, dan lain – lain untuk kami jual dan sebagian untuk di konsumsi sendiri, namun sekarang sudah susah untuk menangkap ikan sogili" cerita Ibu MB
Bu E*** dan Bu M*** adalah dua dari banyak perempuan di Desa Sulewana dan Desa Saojo yang terdampak pembangunan PLTA PT Poso Energy. PT Poso Energy adalah anak perusahaan PT Bukaka Teknik Utama, yang dimiliki oleh Jusuf Kalla, mantan wakil presiden Indonesia selama dua periode. Sekarang, PLTA 1 dan 2 PT Poso Energy ini sudah beroperasi. Tapi, listriknya tentu saja tidak dinikmati langsung oleh warga sekitar.
Pembangunan PLTA Poso 2 yang dimulai sejak tahun 2003 berada di Desa Sulewana dan telah beroperasi pada tahun 2012 dengan kapasitas 195 MW (megawatt) dan PLTA 1 yang berada di Desa Saojo dengan kapasitas 120 MW (megawatt).
Sebenarnya bagus banget inisiatif pemerintah untuk bangun pembangkit listrik bersih kayak gini. Tapi, sayang sekali karena sangat banyak yang dikorbankan demi memenuhi jargon “Transisi Energi Bersih” Apalagi dari awal proses pembangunannya juga tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat.
Pembangunan PLTA 1 dan 2 telah berdampak secara masif terhadap kehidupan perempuan, tidak hanya menghancurkan sumber-sumber kehidupan mereka, pembangunan tersebut juga telah menghancurkan ekologi hingga nilai-nilai sosial budaya masyarakat. Selain itu PLTA juga tidak dapat dikategorikan sebagai energi baru terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan sebagai solusi untuk mengatasi krisis iklim, faktanya PLTA hanya banyak menimbulkan dampak bagi masyarakat.
Selain pencemaran sumber air bersih dan rusaknya ekosistem perikanan, proses pembangunan PLTA 1 dan 2 juga sudah merendam lahan pertanian produktif dan lahan penggembalaan kerbau. Pencemaran air bersih itu diantaranya karena limbah semen dan minyak oli dibuang langsung ke sungai. Perempuan terpaksa menggunakan air tersebut, karena tidak mampu membeli air setiap hari untuk dipakai memasak, minum, mandi dan lain – lain.
Coba kalian bayangkan, bagaimana kalau setiap hari kalian merasakan getaran yang cukup kuat seperti gempa bumi. Hal itu terjadi ketika ada koslet atau mati lampu secara tiba – tiba, listrik di buang ke penampungan (Power Home) itulah yang menyebabkan getaran tersebut, kemudian bagaimana aktivitas PLTA Poso melakukan pemboman batu untuk menghancurkan batuan yang ada di dekat sungai, sementara perempuan bertempat tinggal didekat pinggiran sungai. Inilah yang dirasakan oleh warga Desa Sulewana dan Desa Saojo selama proses pembangunan PLTA.
Persoalan lain dimana ketika perusahaan membuka pintu air, aliran sungai semakin tinggi dan arus yang semakin kencang akan mengikis tanah disekitar pinggiran sungai yang berada di bawah rumah warga. Akibatnya, banyak bangunan yang retak, rusak, bahkan sampai amblas, tidak bisa di tinggali lagi. Keluarga yang kehilangan rumah ini akhirnya terpaksa pindah dan menumpang di rumah kerabatnya. Sejauh ini, menurut catatan kami ada 22 rumah dan 1 gereja yang rusak. Sampai sekarang juga tidak ada pertanggungjawaban yang jelas atas kerusakan ini.
Selama ini masyarakat khususnya Perempuan Desa Sulewana dan Desa Saojo sudah sering memperjuangkan hak-hak mereka. Melakukan aksi di depan PLTA PT Poso Energy, Audiensi dengan DPRD, dan membuat aduan ke Komnas HAM dan Komnas Perempuan. Tapi, sampai sekarang tidak ada respons yang berarti dari para pihak terkait. Malah, sekarang sedang direncanakan untuk dibangun PLTA Poso 3 dan 4 di Desa yang berdekatan dengan Desa Sulewana dan Desa Saojo yang jadi lokasi PLTA 1 dan 2.
Keledai aja tidak jatuh 2 kali di lubang yang sama. Jangan sampai serentetan kerusakan yang menimpa desa-desa di sekitar PLTA Poso terulang kembali. Maka dari itu, kami minta agar Kementerian ESDM, Gubernur Sulawesi Tengah, dan Pemda Kabupaten Poso untuk hentikan rencana pembangunan PLTA 3 dan 4 PT Poso Energy. Transisi energi bersih harus berkeadilan. Kalau tidak, maka ia hanya akan jadi solusi palsu atas krisis iklim.
Kalau kalian setuju dengan kami, dukung petisi ini, ya!
Salam Solidaritas,
Solidaritas Perempuan Sintuwu Raya Poso

174
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 3 April 2024