Actualización de la peticiónTragedi Kanjuruhan, Desak Ketua Umum dan Pengurus PSSI Mengundurkan DiriTidak Ada Jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian
Suhari EteBatam, Indonesia
11 oct 2022

Dear Pak Iwan Bule dan pengurus PSSI, anda perlu belajar dari sikap pengurus federasi sepakbola di negara lain, yang memilih mundur sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukannya, atau kesalahan yang dilakukan oleh bawahannya.

1.Carlo Tavecchio

Kegagalan Timnas Italia lolos dari kualifikasi Piala Dunia 2018 membuat Carlo Tavecchio mundur dari jabatannya sebagai presiden federasi sepak bola Italia pada November 2017 lalu.

Dia malu timnas Italia, yang dikenal sebagai tim tangguh, tidak bisa melaju ke turnamen di Rusia 2018 dan sebagai bentuk pertanggungjawabannya, ia memilih mengundurkan diri.

Pengunduran diri dari kursi Presiden federasi sepakbola italia bukan hal yang asing karena pada tahun 2006 Franco Carraro juga sempat meletakkan jabatan karena skandal sepak bola Calciopoli yang melibatkan klub-klub besar Serie A.

2. Tunku Ismail Sultan Ibrahim

Serupa dengan Carlo Tavecchio, Tunku Ismail Sultan Ibrahim juga tak lagi menjadi presiden asosiasi sepak bola Malaysia setelah timnas Malaysia menempati peringkat ke-178 dalam daftar rangking FIFA.

Putra Mahkota Johor itu resmi meninggalkan kursi jabatannya pada Maret 2018, namun tetap menjabat sebagai bos penyelenggara Liga Malaysia (FMLLP)

3. Musa Bility

Ketua Umum Asosiasi Sepak Bola Liberia Musa Bility mundur pada Maret 2018 atau sebulan sebelum pemelihan ketua umum.

Bility bisa saja menjadi ketua umum untuk periode ketiga, namun pria yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA itu ingin memberi contoh bahwa kepemimpinan dua periode sudah cukup bagi seorang ketua umum.

4. Wolfgang Niersbach

Berbeda dengan dua ketua federasi di Malaysia dan Italia. Wolfgang memutuskan untuk mundur dari jabatannya karena dianggap terlibat dalam skandal Piala Dunia 2006.

Menurut kabar yang beredar, ia menyuap FIFA agar Jerman menjadi tuan rumah Piala Dunia saat itu. Walaupun belum terbukti bersalah tapi demi kebaikan sepak bola Jerman, ia memutuskan untuk berhenti dari jabatannya.

Meski ditekan oleh publik untuk mundur, tapi Iwan Bule dengan tegas menolak mundur dari jabatannya sebagai pemimpin tertinggi sepakbola tanah air. Hal ini semakin mencerminkan sikap dan ego pemimpin di Indonesia, yang gila akan jabatan dan kekuasaan. Mirip seperti ketum-ketum PSSI pendahulunya.

Apa PSSI tidak punya rasa malu? 131 nyawa manusia melayang. Harusnya PSSI sadar diri. Pertandingan antara Arema vs Persebaya berada dibawah naungannya. PSSI merupakan pihak yang punya wenenang, punya aturan, dan segala macamnya.

Publik sudah menilai Iwan Bule sebagai salah satu sosok yang harus bertanggung jawab, atas hilangnya ratusan nyawa di Kanjuruhan. Publik sudah geram dengan sikap PSSI. PSSI dianggap tak becus mengurus sepakbola.

Mengundurkan diri dari PSSI juga sebagai bentuk respek kepada korban tragedi Kanjuruhan. Ketika publik sudah menekan pak Iwan Bule mundur beserta jajarannya, maka saya berharap Pak Iwan Bule segera sadar diri dan mengakui bahwa tragedi di Kanjuruhan adalah bagian dari tanggungjawabnya. Keputusan untuk mundur menurut saya juga itu artinya Pak Iwan Bule bisa menghormati suporter dan elemen-elemen lain sepakbola di Indonesia

Copiar enlace
WhatsApp
Facebook
X
Email