

Tolak Sistem Eksploitasi Digital dan Ketidakadilan Sosial terhadap Mitra Driver ShopeeFood


Tolak Sistem Eksploitasi Digital dan Ketidakadilan Sosial terhadap Mitra Driver ShopeeFood
Masalahnya
Saya menulis petisi ini sebagai perwakilan bagi seluruh mitra driver ShopeeFood yang merasa terpinggirkan dan diperlakukan tidak adil. Setiap hari, kami menghadapi tantangan besar di jalan, menghadapi berbagai kondisi cuaca, lalu lintas, dan risiko keselamatan. Namun, banyak dari kami yang merasa bahwa upaya dan dedikasi yang kami berikan tidak dihargai oleh perusahaan.
Sistem pembagian pendapatan dan bonus saat ini sering kali tidak transparan dan sering kali tidak menguntungkan bagi para mitra driver. Banyak dari kami yang mengalami penurunan pendapatan signifikan karena perubahan kebijakan yang mendadak tanpa adanya komunikasi yang jelas. Terlebih lagi, biaya operasional yang harus kami tanggung terus meningkat, sedangkan tarif perjalanan tetap stagnan.
Kami mengerti bahwa platform harus tetap kompetitif dan efisien, namun hal ini tidak seharusnya mengorbankan kami, para pekerja di garis depan yang tiap harinya menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Kami hanya mengharapkan keadilan, transparansi, dan penghargaan yang layak atas kerja keras kami.
Untuk:
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia
DPR RI
Komnas HAM
Masyarakat Indonesia
Kami, para mitra driver, masyarakat Indonesia, pelanggan, pelaku UMKM, dan seluruh pihak yang peduli terhadap keadilan sosial, menyatakan keresahan mendalam terhadap kondisi kerja yang dialami mitra driver platform digital ShopeeFood.
Di balik slogan ekonomi digital dan kemajuan teknologi, ada ribuan bahkan jutaan driver yang setiap hari bekerja di jalanan menghadapi panas, hujan, kemacetan, risiko kecelakaan, begal, kendaraan rusak, hingga tekanan mental akibat sistem algoritma yang tidak transparan.
Ironisnya, pihak yang bekerja paling keras justru menjadi pihak yang paling lemah.
Pancasila sila ke-5 berbunyi:
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Namun bagaimana keadilan bisa disebut ada ketika perusahaan digital bernilai triliunan rupiah terus memperbesar keuntungan, sementara para driver yang menjadi tulang punggung operasional justru hidup dalam ketidakpastian?
Hari ini banyak driver bekerja lebih dari 10–14 jam per hari hanya untuk membawa pulang penghasilan yang semakin kecil. Biaya operasional naik. Harga kebutuhan pokok naik. Tetapi tarif pengantaran justru terus ditekan.
Driver dipaksa menerima order dengan tarif yang kadang bahkan tidak masuk akal secara logika ekonomi. Perjalanan jauh dihargai murah. Order bertingkat membuat waktu habis di jalan. Sistem prioritas tidak transparan. Sementara perusahaan tetap mengambil potongan besar dari setiap transaksi.
Banyak mitra mengeluhkan bahwa total potongan dan skema biaya dapat membuat pendapatan yang hilang terasa mendekati hampir 50% dalam kondisi tertentu. Driver yang bekerja di lapangan akhirnya hanya menerima sisa kecil dari hasil kerja kerasnya.
Kami melihat pola ini bukan lagi sekadar masalah aplikasi atau teknis sistem, melainkan bentuk ketimpangan kekuasaan dalam ekonomi digital.
Platform memiliki kontrol penuh terhadap:
1. Algoritma pembagian order
2.Suspend akun
3.Sistem prioritas
4.Insentif dan bonus
5.Penilaian performa
6.Tarif perjalanan
7.Sistem penerimaan order
Sementara driver hampir tidak memiliki ruang untuk membela diri.
Ketika akun terkena suspend, banyak driver kehilangan sumber penghasilan utama. Ketika sistem berubah, driver hanya bisa menerima tanpa penjelasan yang jelas. Ketika tarif turun, driver dipaksa beradaptasi sendiri.
Apakah ini yang disebut kemitraan?
Kemitraan seharusnya menghadirkan hubungan yang setara. Namun yang terjadi hari ini adalah relasi yang timpang antara korporasi teknologi raksasa dengan pekerja lapangan yang bergantung pada aplikasi untuk bertahan hidup.
Kami juga menyoroti dugaan manipulasi sistem order instant dan paket yang sering dikeluhkan driver.
Banyak mitra merasa:
Order tertentu sengaja diprioritaskan untuk kelompok tertentu
Sistem pembagian order tidak transparan
Jarak pengambilan dan pengantaran sering tidak sebanding dengan tarif
Orderan spx marketplace bisa sampai 10 paket dengan tarif tindih menindih , 1 paket jarak jauh contoh onkos 56rb , 9 paket lainya hanya dihatgai 2.000 rupiah bahkan 0 / per paket membuat waktu kerja habis tetapi penghasilan minim.
Driver dipaksa mengejar target algoritma demi mendapatkan order yang layak
Akibatnya, sesama driver dipaksa bersaing secara tidak sehat hanya demi mempertahankan penghasilan harian.
Lebih jauh lagi, sistem seperti ini berpotensi merusak masa depan gig economy Indonesia.
Gig economy seharusnya menjadi solusi kerja fleksibel yang manusiawi dan memberdayakan masyarakat. Tetapi jika perusahaan hanya mengejar pertumbuhan tanpa memperhatikan kesejahteraan mitra, maka yang tercipta hanyalah eksploitasi digital modern.
Driver bukan robot. Driver bukan angka statistik. Driver bukan sekadar titik di peta aplikasi.
Driver adalah manusia. Mereka memiliki keluarga. Mereka membayar kontrakan. Mereka membeli susu anak. Mereka membayar cicilan kendaraan. Mereka mempertaruhkan nyawa di jalan setiap hari.
Namun ironisnya, suara mereka sering diabaikan.
Kami menilai negara tidak boleh diam melihat ketimpangan ini.
Jika ekonomi digital dibiarkan sepenuhnya dikendalikan algoritma tanpa perlindungan terhadap pekerja, maka Indonesia sedang menuju model ekonomi yang tidak berkeadilan dan bertentangan dengan semangat konstitusi.
Dukung petisi ini dengan cara share

3
Masalahnya
Saya menulis petisi ini sebagai perwakilan bagi seluruh mitra driver ShopeeFood yang merasa terpinggirkan dan diperlakukan tidak adil. Setiap hari, kami menghadapi tantangan besar di jalan, menghadapi berbagai kondisi cuaca, lalu lintas, dan risiko keselamatan. Namun, banyak dari kami yang merasa bahwa upaya dan dedikasi yang kami berikan tidak dihargai oleh perusahaan.
Sistem pembagian pendapatan dan bonus saat ini sering kali tidak transparan dan sering kali tidak menguntungkan bagi para mitra driver. Banyak dari kami yang mengalami penurunan pendapatan signifikan karena perubahan kebijakan yang mendadak tanpa adanya komunikasi yang jelas. Terlebih lagi, biaya operasional yang harus kami tanggung terus meningkat, sedangkan tarif perjalanan tetap stagnan.
Kami mengerti bahwa platform harus tetap kompetitif dan efisien, namun hal ini tidak seharusnya mengorbankan kami, para pekerja di garis depan yang tiap harinya menjalankan tugas dengan penuh dedikasi. Kami hanya mengharapkan keadilan, transparansi, dan penghargaan yang layak atas kerja keras kami.
Untuk:
Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia
DPR RI
Komnas HAM
Masyarakat Indonesia
Kami, para mitra driver, masyarakat Indonesia, pelanggan, pelaku UMKM, dan seluruh pihak yang peduli terhadap keadilan sosial, menyatakan keresahan mendalam terhadap kondisi kerja yang dialami mitra driver platform digital ShopeeFood.
Di balik slogan ekonomi digital dan kemajuan teknologi, ada ribuan bahkan jutaan driver yang setiap hari bekerja di jalanan menghadapi panas, hujan, kemacetan, risiko kecelakaan, begal, kendaraan rusak, hingga tekanan mental akibat sistem algoritma yang tidak transparan.
Ironisnya, pihak yang bekerja paling keras justru menjadi pihak yang paling lemah.
Pancasila sila ke-5 berbunyi:
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Namun bagaimana keadilan bisa disebut ada ketika perusahaan digital bernilai triliunan rupiah terus memperbesar keuntungan, sementara para driver yang menjadi tulang punggung operasional justru hidup dalam ketidakpastian?
Hari ini banyak driver bekerja lebih dari 10–14 jam per hari hanya untuk membawa pulang penghasilan yang semakin kecil. Biaya operasional naik. Harga kebutuhan pokok naik. Tetapi tarif pengantaran justru terus ditekan.
Driver dipaksa menerima order dengan tarif yang kadang bahkan tidak masuk akal secara logika ekonomi. Perjalanan jauh dihargai murah. Order bertingkat membuat waktu habis di jalan. Sistem prioritas tidak transparan. Sementara perusahaan tetap mengambil potongan besar dari setiap transaksi.
Banyak mitra mengeluhkan bahwa total potongan dan skema biaya dapat membuat pendapatan yang hilang terasa mendekati hampir 50% dalam kondisi tertentu. Driver yang bekerja di lapangan akhirnya hanya menerima sisa kecil dari hasil kerja kerasnya.
Kami melihat pola ini bukan lagi sekadar masalah aplikasi atau teknis sistem, melainkan bentuk ketimpangan kekuasaan dalam ekonomi digital.
Platform memiliki kontrol penuh terhadap:
1. Algoritma pembagian order
2.Suspend akun
3.Sistem prioritas
4.Insentif dan bonus
5.Penilaian performa
6.Tarif perjalanan
7.Sistem penerimaan order
Sementara driver hampir tidak memiliki ruang untuk membela diri.
Ketika akun terkena suspend, banyak driver kehilangan sumber penghasilan utama. Ketika sistem berubah, driver hanya bisa menerima tanpa penjelasan yang jelas. Ketika tarif turun, driver dipaksa beradaptasi sendiri.
Apakah ini yang disebut kemitraan?
Kemitraan seharusnya menghadirkan hubungan yang setara. Namun yang terjadi hari ini adalah relasi yang timpang antara korporasi teknologi raksasa dengan pekerja lapangan yang bergantung pada aplikasi untuk bertahan hidup.
Kami juga menyoroti dugaan manipulasi sistem order instant dan paket yang sering dikeluhkan driver.
Banyak mitra merasa:
Order tertentu sengaja diprioritaskan untuk kelompok tertentu
Sistem pembagian order tidak transparan
Jarak pengambilan dan pengantaran sering tidak sebanding dengan tarif
Orderan spx marketplace bisa sampai 10 paket dengan tarif tindih menindih , 1 paket jarak jauh contoh onkos 56rb , 9 paket lainya hanya dihatgai 2.000 rupiah bahkan 0 / per paket membuat waktu kerja habis tetapi penghasilan minim.
Driver dipaksa mengejar target algoritma demi mendapatkan order yang layak
Akibatnya, sesama driver dipaksa bersaing secara tidak sehat hanya demi mempertahankan penghasilan harian.
Lebih jauh lagi, sistem seperti ini berpotensi merusak masa depan gig economy Indonesia.
Gig economy seharusnya menjadi solusi kerja fleksibel yang manusiawi dan memberdayakan masyarakat. Tetapi jika perusahaan hanya mengejar pertumbuhan tanpa memperhatikan kesejahteraan mitra, maka yang tercipta hanyalah eksploitasi digital modern.
Driver bukan robot. Driver bukan angka statistik. Driver bukan sekadar titik di peta aplikasi.
Driver adalah manusia. Mereka memiliki keluarga. Mereka membayar kontrakan. Mereka membeli susu anak. Mereka membayar cicilan kendaraan. Mereka mempertaruhkan nyawa di jalan setiap hari.
Namun ironisnya, suara mereka sering diabaikan.
Kami menilai negara tidak boleh diam melihat ketimpangan ini.
Jika ekonomi digital dibiarkan sepenuhnya dikendalikan algoritma tanpa perlindungan terhadap pekerja, maka Indonesia sedang menuju model ekonomi yang tidak berkeadilan dan bertentangan dengan semangat konstitusi.
Dukung petisi ini dengan cara share

3
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 7 Mei 2026