Stop Ingkar Janji, Gulirkan Liga 1 Putri! #PSSIIngkarJanji

Masalahnya

Mawar (bukan nama sebenarnya) adalah pesepakbola muda berbakat. Pada tahun 2019, ia berkompetisi di Liga 1 Putri bersama salah satu klub profesional. Dia bermimpi masuk tim nasional, lalu berjuang membawa Garuda Pertiwi ke Piala Dunia Putri FIFA. Namun, harapannya pupus kala musim baru dibatalkan akibat pandemi. PSSI sempat mewacanakan liga kembali bergulir pada 2022, tapi urung dilaksanakan hingga pergantian pengurus 2023 silam. 

Di era Erick Thohir, PSSI beberapa kali menebar janji kosong terkait pelaksanaan liga. Mulanya tahun 2024, lalu mundur jadi 2025, mundur lagi ke 2026, dan sekarang janji terakhir adalah 2027! Artinya, 8 tahun sepak bola putri kita dianaktirikan, luntang-lantung tanpa kompetisi profesional. Kalah dari negara-negara tetangga, bahkan dari Timor Leste.

Lebih dari 1.000 pesepakbola perempuan terdaftar di Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI)—anggota PSSI. Bayangkan, talenta sebanyak itu tapi PSSI masih berkilah "kekurangan pemain" (dan pelatih) untuk menggelar liga. Ini bukti PSSI tidak serius membina sepak bola putri. Kita bisa menilai, PSSI telah bertindak diskriminatif. PSSI lebih memprioritaskan sepak bola putra dengan kucuran dana jumbo dan eksposur yang diberikan. Kalau pun ada ingar-bingar sepak bola putri, paling hanya seputar timnas dan turnamen amatir seperti Piala Pertiwi.

Piala Pertiwi saja tidak cukup, Pak Erick. Periodenya terlalu pendek. Usai turnamen, para pemain kembali menganggur. Banyak dari mereka terpaksa alih profesi untuk sementara waktu. Bahkan tidak sedikit yang gantung sepatu di usia muda. Namun, saat pesepakbola perempuan mencoba bertahan hidup dengan menjadi kreator konten, ia pasti mendapat komentar misoginis dari warganet, "Mau jadi pemain bola atau selebgram?" Begitu sulitnya menjadi pemain sepak bola putri di Indonesia.

Salah satu tugas PSSI adalah menyelenggarakan kompetisi sepak bola nasional, termasuk Liga 1 Putri. Muara dari kompetisi ini ialah tim nasional yang berprestasi. Thailand, Vietnam, dan Filipina berhasil lolos ke Piala Dunia Putri 2023. Indonesia hanya duduk manis jadi penonton. Jika ingin bersaing di pentas dunia, kita harus punya liga domestik yang profesional! Dari kompetisi yang sehat, lahir pemain yang hebat.

Dear PSSI, stop ingkar janji. Anekdot "liga undur-undur" harus dilepaskan dari Liga 1 Putri. Jika belum bersedia menggelar liga profesional, mulailah dengan semiprofesional. Tim peserta tak mesti terkoneksi dengan klub pro putra, seperti di Amerika Serikat. Paling tidak, pemain yang jumlahnya ribuan itu tidak boleh menganggur atau menggantung sepatu karena ketiadaan kompetisi.

Kami, pencinta sepak bola Indonesia yang peduli dengan keberlangsungan atlet perempuan, menuntut PSSI agar segera memutar Liga 1 Putri. Kami menolak liga terus-menerus diundur hingga 2027.

avatar of the starter
Women’s Footie IDPembuka PetisiThe largest women’s football fanbase since 2013

370

Masalahnya

Mawar (bukan nama sebenarnya) adalah pesepakbola muda berbakat. Pada tahun 2019, ia berkompetisi di Liga 1 Putri bersama salah satu klub profesional. Dia bermimpi masuk tim nasional, lalu berjuang membawa Garuda Pertiwi ke Piala Dunia Putri FIFA. Namun, harapannya pupus kala musim baru dibatalkan akibat pandemi. PSSI sempat mewacanakan liga kembali bergulir pada 2022, tapi urung dilaksanakan hingga pergantian pengurus 2023 silam. 

Di era Erick Thohir, PSSI beberapa kali menebar janji kosong terkait pelaksanaan liga. Mulanya tahun 2024, lalu mundur jadi 2025, mundur lagi ke 2026, dan sekarang janji terakhir adalah 2027! Artinya, 8 tahun sepak bola putri kita dianaktirikan, luntang-lantung tanpa kompetisi profesional. Kalah dari negara-negara tetangga, bahkan dari Timor Leste.

Lebih dari 1.000 pesepakbola perempuan terdaftar di Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI)—anggota PSSI. Bayangkan, talenta sebanyak itu tapi PSSI masih berkilah "kekurangan pemain" (dan pelatih) untuk menggelar liga. Ini bukti PSSI tidak serius membina sepak bola putri. Kita bisa menilai, PSSI telah bertindak diskriminatif. PSSI lebih memprioritaskan sepak bola putra dengan kucuran dana jumbo dan eksposur yang diberikan. Kalau pun ada ingar-bingar sepak bola putri, paling hanya seputar timnas dan turnamen amatir seperti Piala Pertiwi.

Piala Pertiwi saja tidak cukup, Pak Erick. Periodenya terlalu pendek. Usai turnamen, para pemain kembali menganggur. Banyak dari mereka terpaksa alih profesi untuk sementara waktu. Bahkan tidak sedikit yang gantung sepatu di usia muda. Namun, saat pesepakbola perempuan mencoba bertahan hidup dengan menjadi kreator konten, ia pasti mendapat komentar misoginis dari warganet, "Mau jadi pemain bola atau selebgram?" Begitu sulitnya menjadi pemain sepak bola putri di Indonesia.

Salah satu tugas PSSI adalah menyelenggarakan kompetisi sepak bola nasional, termasuk Liga 1 Putri. Muara dari kompetisi ini ialah tim nasional yang berprestasi. Thailand, Vietnam, dan Filipina berhasil lolos ke Piala Dunia Putri 2023. Indonesia hanya duduk manis jadi penonton. Jika ingin bersaing di pentas dunia, kita harus punya liga domestik yang profesional! Dari kompetisi yang sehat, lahir pemain yang hebat.

Dear PSSI, stop ingkar janji. Anekdot "liga undur-undur" harus dilepaskan dari Liga 1 Putri. Jika belum bersedia menggelar liga profesional, mulailah dengan semiprofesional. Tim peserta tak mesti terkoneksi dengan klub pro putra, seperti di Amerika Serikat. Paling tidak, pemain yang jumlahnya ribuan itu tidak boleh menganggur atau menggantung sepatu karena ketiadaan kompetisi.

Kami, pencinta sepak bola Indonesia yang peduli dengan keberlangsungan atlet perempuan, menuntut PSSI agar segera memutar Liga 1 Putri. Kami menolak liga terus-menerus diundur hingga 2027.

avatar of the starter
Women’s Footie IDPembuka PetisiThe largest women’s football fanbase since 2013

Pengambil Keputusan

Erick Thohir
Erick Thohir
Ketua Umum PSSI
Zainudin Amali
Zainudin Amali
Wakil Ketua Umum PSSI
Ratu Tisha Destria
Ratu Tisha Destria
Wakil Ketua Umum PSSI
Yunus Nusi
Yunus Nusi
Sekretaris Jenderal PSSI
Vivin Cahyani S.
Vivin Cahyani S.
Anggota Komite Eksekutif PSSI

Perkembangan Terakhir Petisi