

Seruan Damai untuk Gereja Orthodox di Indonesia: Demi Misi dan Masa Depan Kita
Masalahnya

Kami adalah anak-anak muda Orthodox di Indonesia yang membawa satu kerinduan sederhana: melihat Gereja Tuhan hidup dalam damai, kasih, dan persaudaraan.
Kami mencintai Orthodox. Kami mencintai iman yang diwariskan oleh para Rasul, para Kudus, dan para Bapa Gereja. Kami mencintai Liturgi Suci, doa-doa yang dalam, ikon-ikon yang membawa hati kepada Tuhan, serta kehidupan pertobatan yang menjadi jalan keselamatan.
Namun karena cinta itu pula, hati kami sering terasa sedih ketika melihat sesama umat Orthodox saling menjauh, saling mencurigai, bahkan terluka oleh persoalan yang seharusnya dapat dibicarakan dalam kasih.
Kami bukan siapa-siapa. Kami bukan pemimpin, bukan pengambil keputusan, dan bukan orang yang paling mengerti sejarah maupun persoalan yurisdiksi. Kami hanyalah umat—anak-anak muda yang ingin bertumbuh dalam iman tanpa harus mewarisi luka, konflik, dan perpecahan.
Mimpi Kami
Kami ingin kelak anak-anak dan cucu-cucu kami mengenal Orthodox di Indonesia sebagai Gereja yang penuh kasih. Kami ingin mereka datang ke gereja dengan hati yang damai, bukan dengan pertanyaan: 'Mengapa sesama Orthodox sulit bersatu?'
Kami ingin mereka melihat para gembala duduk bersama, saling menghormati, saling mendengar, dan mencari kehendak Kristus di atas kepentingan manusia.
Realitas yang Menyakitkan
Namun, keinginan sederhana itu kini terbentur oleh realitas yang menyakitkan.
Saat ini, dinding perpecahan yang ada menjadi penghalang bagi orang-orang yang kami kasihi—orang tua, sahabat, dan kerabat kami—untuk mengenal Kristus melalui kesucian iman Orthodox. Kami merasa perih melihat mereka bingung atau kecewa ketika mereka mencari 'rumah' yang damai, namun justru menemukan kita yang masih terjebak dalam perselisihan.
Kami sadar bahwa kami sendiri jauh dari sempurna. Namun, kami merasa malu ketika orang-orang di luar sana bertanya mengapa kita, yang mengaku sebagai pengikut Sang Raja Damai, justru tampak terpecah-belah. Jangan sampai keindahan iman yang seharusnya menjadi jalan keselamatan, justru menjadi batu sandungan bagi mereka yang sedang mencari Tuhan karena ketidakmampuan kita untuk meneladani kasih Kristus.
Ajakan Kami
Karena itu, kami mengajak seluruh umat Orthodox di Indonesia: mari jangan menambah api perselisihan.
- Berhenti menyebarkan kata-kata, unggahan, atau perdebatan yang melukai.
- Belajar menahan diri, menjaga lidah, dan mengutamakan doa.
- Doakan agar para pimpinan dari setiap yurisdiksi dapat dipertemukan dalam hati yang rendah dan semangat persaudaraan. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi untuk mencari jalan terbaik bagi Gereja Tuhan di Indonesia.
Damai bukan berarti mengabaikan kebenaran. Damai berarti mencari kebenaran dengan kasih.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kami mengajak setiap umat untuk ikut ambil bagian:
- Berdoalah bagi para Uskup, Presbiter, Diakon, dan seluruh pemimpin Gereja.
- Jangan menyebarkan perkataan yang memperkeruh keadaan.
- Jangan membalas luka dengan luka.
- Bangun persaudaraan dengan umat Orthodox dari mana pun mereka berasal.
- Ajarkan kepada generasi muda bahwa kasih Kristus lebih besar daripada perbedaan.
- Jadilah pembawa damai di keluarga, paroki, komunitas, dan media sosial.
Mari kita ingat: Gereja adalah Tubuh Kristus. Jika satu bagian terluka, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya. Tetapi jika satu bagian mulai mengasihi, seluruh tubuh dapat kembali dikuatkan.
Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja Damai, melembutkan hati kita, menyembuhkan luka-luka yang ada, dan mempersatukan Orthodox di Indonesia dalam iman, kasih, dan pengharapan.
Bukan demi nama kelompok. Bukan demi kepentingan manusia. Tetapi demi kemuliaan Kristus, demi Gereja-Nya, dan demi masa depan anak cucu kita di Indonesia.
“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” — Efesus 4:3
Catatan: Sumber foto sampul berasal dari laman Facebook Romo Presbiter Barnabas Elu Van Basten dari Paroki Perjumpaan dengan Tuhan, Surakarta (Patriarkat Moskwa). Foto nostalgia tersebut diambil di halaman Paroki Tritunggal Mahakudus, Surakarta (Gereja Orthodox Indonesia), saat para romo sedang menantikan kedatangan mendiang Metropolitan Hilarion, Uskup Sydney dan Selandia Baru (Russian Orthodox Church Outside Russia). Foto ini menampilkan (dari kiri ke kanan): Romo Presbiter Irenius dari Paroki St. Serafim dari Sarov, Gresik (Patriarkat Moskwa); Romo Protopresbiter Boris Rahadi Setyawan dari St. Thomas Rasul , Jakarta Selatan (Patriarkat Moskwa); Romo Presbiter Constantin Gultom Boyke dari St. Sergiy Radonezh, Medan (Patriarkat Moskwa); Romo Presbiter Barnabas Gregorius Elu van Basten; mendiang Romo Presbiter Gregorius Ardi Momongan dari Paroki Js. Gregorius dari Nyssa Langowan (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Kirill Junan Siswaja dari Paroki St. Iona, Surabaya (Patriarkat Moskwa); dan Romo Presbiter Antonius Bambang Admodjo dari Paroki Js. Barbara, Salatiga (Gereja Orthodox Indonesia).
Foto ke dua berasal dari Facebok mendiang Romo Presbiter Makarios Rudyo Mursanto, diambil ketika rapat para klerus di Malang. Foto ini menampilkan (dari kiri ke kanan): mendiang Romo Presbiter Makarios Rudyo Mursanto dari Paroki Tritunggal Mahakudus, Surakarta (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Irenius; Romo Presbiter Markus Wiyono dari Paroki Js. Matius, Boyolali (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Protopresbiter Alexios Setir Cahyadi dari Paroki Tritunggal Mahakudus, Surakarta (Gereja Orthodox Indonesia); Yang Mulia Episkop Daniel, Episkop Nikopolis (Jakarta) dan Asia Timur Raya (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Antonius Bambang Admodjo; Romo Presbiter Kirill Junan Siswaja; Romo Protopresbiter Boris Rahadi Setyawan; Romo Presbiter Michael Momongan (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Yohanes Damaskinos Fransiscus Xaverius Arianto Nugroho dari Paroki Malaikat Agung Mikhael, Palembang (Patriarkat Moskwa).
Status jabatan, paroki, dan yurisdiksi yang tercantum di atas merujuk pada kondisi terkini, bukan pada saat foto tersebut diambil.

159
Masalahnya

Kami adalah anak-anak muda Orthodox di Indonesia yang membawa satu kerinduan sederhana: melihat Gereja Tuhan hidup dalam damai, kasih, dan persaudaraan.
Kami mencintai Orthodox. Kami mencintai iman yang diwariskan oleh para Rasul, para Kudus, dan para Bapa Gereja. Kami mencintai Liturgi Suci, doa-doa yang dalam, ikon-ikon yang membawa hati kepada Tuhan, serta kehidupan pertobatan yang menjadi jalan keselamatan.
Namun karena cinta itu pula, hati kami sering terasa sedih ketika melihat sesama umat Orthodox saling menjauh, saling mencurigai, bahkan terluka oleh persoalan yang seharusnya dapat dibicarakan dalam kasih.
Kami bukan siapa-siapa. Kami bukan pemimpin, bukan pengambil keputusan, dan bukan orang yang paling mengerti sejarah maupun persoalan yurisdiksi. Kami hanyalah umat—anak-anak muda yang ingin bertumbuh dalam iman tanpa harus mewarisi luka, konflik, dan perpecahan.
Mimpi Kami
Kami ingin kelak anak-anak dan cucu-cucu kami mengenal Orthodox di Indonesia sebagai Gereja yang penuh kasih. Kami ingin mereka datang ke gereja dengan hati yang damai, bukan dengan pertanyaan: 'Mengapa sesama Orthodox sulit bersatu?'
Kami ingin mereka melihat para gembala duduk bersama, saling menghormati, saling mendengar, dan mencari kehendak Kristus di atas kepentingan manusia.
Realitas yang Menyakitkan
Namun, keinginan sederhana itu kini terbentur oleh realitas yang menyakitkan.
Saat ini, dinding perpecahan yang ada menjadi penghalang bagi orang-orang yang kami kasihi—orang tua, sahabat, dan kerabat kami—untuk mengenal Kristus melalui kesucian iman Orthodox. Kami merasa perih melihat mereka bingung atau kecewa ketika mereka mencari 'rumah' yang damai, namun justru menemukan kita yang masih terjebak dalam perselisihan.
Kami sadar bahwa kami sendiri jauh dari sempurna. Namun, kami merasa malu ketika orang-orang di luar sana bertanya mengapa kita, yang mengaku sebagai pengikut Sang Raja Damai, justru tampak terpecah-belah. Jangan sampai keindahan iman yang seharusnya menjadi jalan keselamatan, justru menjadi batu sandungan bagi mereka yang sedang mencari Tuhan karena ketidakmampuan kita untuk meneladani kasih Kristus.
Ajakan Kami
Karena itu, kami mengajak seluruh umat Orthodox di Indonesia: mari jangan menambah api perselisihan.
- Berhenti menyebarkan kata-kata, unggahan, atau perdebatan yang melukai.
- Belajar menahan diri, menjaga lidah, dan mengutamakan doa.
- Doakan agar para pimpinan dari setiap yurisdiksi dapat dipertemukan dalam hati yang rendah dan semangat persaudaraan. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, tetapi untuk mencari jalan terbaik bagi Gereja Tuhan di Indonesia.
Damai bukan berarti mengabaikan kebenaran. Damai berarti mencari kebenaran dengan kasih.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kami mengajak setiap umat untuk ikut ambil bagian:
- Berdoalah bagi para Uskup, Presbiter, Diakon, dan seluruh pemimpin Gereja.
- Jangan menyebarkan perkataan yang memperkeruh keadaan.
- Jangan membalas luka dengan luka.
- Bangun persaudaraan dengan umat Orthodox dari mana pun mereka berasal.
- Ajarkan kepada generasi muda bahwa kasih Kristus lebih besar daripada perbedaan.
- Jadilah pembawa damai di keluarga, paroki, komunitas, dan media sosial.
Mari kita ingat: Gereja adalah Tubuh Kristus. Jika satu bagian terluka, seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya. Tetapi jika satu bagian mulai mengasihi, seluruh tubuh dapat kembali dikuatkan.
Kiranya Tuhan Yesus Kristus, Sang Raja Damai, melembutkan hati kita, menyembuhkan luka-luka yang ada, dan mempersatukan Orthodox di Indonesia dalam iman, kasih, dan pengharapan.
Bukan demi nama kelompok. Bukan demi kepentingan manusia. Tetapi demi kemuliaan Kristus, demi Gereja-Nya, dan demi masa depan anak cucu kita di Indonesia.
“Berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera.” — Efesus 4:3
Catatan: Sumber foto sampul berasal dari laman Facebook Romo Presbiter Barnabas Elu Van Basten dari Paroki Perjumpaan dengan Tuhan, Surakarta (Patriarkat Moskwa). Foto nostalgia tersebut diambil di halaman Paroki Tritunggal Mahakudus, Surakarta (Gereja Orthodox Indonesia), saat para romo sedang menantikan kedatangan mendiang Metropolitan Hilarion, Uskup Sydney dan Selandia Baru (Russian Orthodox Church Outside Russia). Foto ini menampilkan (dari kiri ke kanan): Romo Presbiter Irenius dari Paroki St. Serafim dari Sarov, Gresik (Patriarkat Moskwa); Romo Protopresbiter Boris Rahadi Setyawan dari St. Thomas Rasul , Jakarta Selatan (Patriarkat Moskwa); Romo Presbiter Constantin Gultom Boyke dari St. Sergiy Radonezh, Medan (Patriarkat Moskwa); Romo Presbiter Barnabas Gregorius Elu van Basten; mendiang Romo Presbiter Gregorius Ardi Momongan dari Paroki Js. Gregorius dari Nyssa Langowan (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Kirill Junan Siswaja dari Paroki St. Iona, Surabaya (Patriarkat Moskwa); dan Romo Presbiter Antonius Bambang Admodjo dari Paroki Js. Barbara, Salatiga (Gereja Orthodox Indonesia).
Foto ke dua berasal dari Facebok mendiang Romo Presbiter Makarios Rudyo Mursanto, diambil ketika rapat para klerus di Malang. Foto ini menampilkan (dari kiri ke kanan): mendiang Romo Presbiter Makarios Rudyo Mursanto dari Paroki Tritunggal Mahakudus, Surakarta (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Irenius; Romo Presbiter Markus Wiyono dari Paroki Js. Matius, Boyolali (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Protopresbiter Alexios Setir Cahyadi dari Paroki Tritunggal Mahakudus, Surakarta (Gereja Orthodox Indonesia); Yang Mulia Episkop Daniel, Episkop Nikopolis (Jakarta) dan Asia Timur Raya (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Antonius Bambang Admodjo; Romo Presbiter Kirill Junan Siswaja; Romo Protopresbiter Boris Rahadi Setyawan; Romo Presbiter Michael Momongan (Gereja Orthodox Indonesia); Romo Presbiter Yohanes Damaskinos Fransiscus Xaverius Arianto Nugroho dari Paroki Malaikat Agung Mikhael, Palembang (Patriarkat Moskwa).
Status jabatan, paroki, dan yurisdiksi yang tercantum di atas merujuk pada kondisi terkini, bukan pada saat foto tersebut diambil.

Pengambil Keputusan
Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 21 Juni 2026