Kami mencatat bahwa anggota DPR terkait telah menyampaikan permintaan maaf. Langkah itu kami hargai, tetapi publik dan tenaga gizi tidak bisa berhenti hanya pada kalimat maaf.
Ada konsekuensi, ada perbaikan yang harus terjadi, dan ada martabat profesi yang wajib dipulihkan.
Karena itu, kami menegaskan tuntutan berikut:
1. Klarifikasi terbuka atas pernyataan yang meremehkan profesi dan peran MBG.
2. Komitmen tertulis untuk menghormati batas kompetensi lintas profesi.
3. Evaluasi internal agar kejadian serupa tidak lagi terulang.
4. Kebijakan profesional yang jelas dalam pengelolaan gizi dan mutu pangan.
Dan yang paling penting, yang selama ini selalu dianggap sepele padahal beban utamanya justru di lapangan:
5. Penambahan Tenaga Ahli Gizi di Dapur MBG
Saat ini 1 orang ahli gizi memikul beban kerja setara 3 shift yang dirapel jadi 1. Ini bukan efisien. Ini tidak manusiawi. Keamanan pangan, mutu gizi, dan kesehatan ribuan orang dipertaruhkan jika sistemnya masih dipaksakan seperti ini. Penambahan tenaga AG bukan hanya kebutuhan, tapi kewajiban moral dan administratif bagi instansi terkait.
6. Penambahan Insentif Gizi
Beban kerja dan risiko tinggi tanpa insentif yang layak adalah bentuk pengabaian terhadap profesi. Insentif gizi bukan “bonus” ini bagian dari tanggung jawab lembaga untuk memastikan tenaga gizi bekerja sesuai standar tanpa diperas tenaganya.
Jika kualitas layanan ingin meningkat, maka penghargaan terhadap tenaga gizi juga harus meningkat.
Permintaan maaf sudah diterima. Sekarang kami menunggu tindakan nyata.