

Jakarta, 15 Maret 2026
"36 Ribu Menandatangani Petisi: Selamatkan Hutan Rumah Gajah Sumatera"
Pada tanggal 30 Oktober 2025 Sahabat Gajah Nusantara mulai membuat petisi online bertajuk "Selamatkan Hutan Rumah Gajah" yang berarti seruan bagi dua pihak yaitu : Masyarakat Indonesia, dan, Pemangku Kepentingan yang duduk di kursi pemerintahan. Pucuk tertinggi yang bertanggungjawab mengelola hutan dan seisinya adalah Menteri Kehutanan.
Pada bulan November, Sahabat Gajah Nusantara menginisiasi kolaborasi dengan beberapa komunitas lokal yang memiliki visi yang sama untuk memastikan kesejahteraan Gajah Sumatera di alam bebas yang menjadi habitatnya.
Satu bulan kemudian, Desember, Pak Raja Juli Antoni - Menteri Kehutanan, mengajak Sahabat Gajah Nusantara untuk turut meninjau langsung gajah di Provinsi Bengkulu serta menyambangi bentang alam Seblat yang saat itu kondisinya memprihatinkan akibat penebangan liar. Selama 2 hari kami berdiskusi tentang rencana strategis yang akan dilakukan dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Kira-kira yang sempat saya tangkap sbb :
Jangka Pendek :
- Memanggil perusahaan pemegang HGU/PPKH (semacam izin pemanfaatan kawasan hutan) di kawasan koridor Seblat untuk meninjau kembali perizinannya, dan meminta dikembalikan ke Negara. Kalau saya tidak salah tangkap ya : Hari Jum'at Pak Menteri bicara ini saat di Seblat, hari Sabtu pagi beliau sudah bertemu pimpinan perusahaan pemegang HGU/PPKH.
- Melarang aksi tunggang gajah, ini disampaikan langsung saat di TWA Seblat.
Jangka menengah :
- Mediasi untuk melakukan relokasi pemukiman warga yang sudah memasuki kawasan TN.
- Mengakuisisi kembali lahan hutan milik negara yang dirambah masyarakat.
- Mencabut sawit yang sudah ditanam secara ilegal baik di Seblat dan Tesso Nilo. Perkiraan targetnya 2 minggu setelah kunjungan dari seblat. Atau maksimal Februari 2026 kalau saya tidak salah catat.
Jangka Panjang :
- Pagar baja dan tanggul pembatas di TN Way Kambas.
- Restorasi habitat di lanskap seblat.
- Menyambungkan kembali koridor gajah yang terputus, sehingga kantong-kantong gajah akan terkoneksi kembali. Dulu tahun 1990-an ada 42 kantong gajah, sekarang sisa 24-an (kalau saya keliru tolong dikoreksi).
- Membangun PECI yaitu sebuah kolaborasi strategis Indonesia-Inggris untuk melindungi gajah Sumatra di Aceh, yang berfokus pada konservasi habitat seluas 90.000 hektar, mitigasi konflik gajah-manusia, dan pengembangan ekonomi hijau.
Saat ini pantauan kami sudah mencapai 36 ribu netizen yang memberikan dukungan untuk menyelamatkan habitat hutan rumah Gajah Sumatera.
Artinya, pemerintah melalui kemenhut punya 36 ribu CCTV yang mengawasi.. atau bahkan lebih. Semua eksekusinya dinantikan oleh banyak orang. Baik yang jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Berikut Sahabat Gajah Nusantara meredaksikan beberapa updatenya :
- Penebangan sawit di Tesso Nilo, yang pada saat itu kami berhalangan sehingga tidak dapat memenuhi undangan kementerian.
- Surat Edaran Menhut tentang larangan atraksi gajah tunggang.
- Alokasi dana untuk pembangunan pagar baja dan rehabilitasi tanggul di TNWK
- Pemberian 90.000 hektar lahan dari Presiden untuk proyek PECI, yang merupakan buah kerjasama Indonesia-Inggris.
- Pengusutan tuntas kasus kematian gajah liar tanpa kepala di kawasan konsesi RAPP. Polda Riau bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Polisi Kehutanan, dan PPNS Kemenhut.
- Reboisasi bertajuk Operasi Merah Putih di Lanskap Seblat.
36 Ribu netizen belum ada rencana berhenti mencermati setiap aksi nyata dari pemerintah. Jumlah ini akan terus bertambah setiap detiknya, dan kiranya ini bukan soal angka. Harapan kami agar bisa menjadi satu kekuatan nyata untuk para Sahabat Gajah dimanapun berada.