Petition update"Selalu bicara soal Pelanggaran HAM Papua"

Tubuh yang seharusnya bertumbuh, bukan berdarah.

N ANabire Papua Tengah, Indonesia
Jun 7, 2026

Change.org| 7 Juni 2026| Papua tidak membutuhkan lebih banyak makam kecil.
Papua membutuhkan sekolah yang penuh suara tawa.
Papua membutuhkan ibu-ibu yang tidak lagi menangis karena kehilangan anak.
Papua membutuhkan generasi muda yang bisa bermimpi tanpa dihantui rasa takut.

Karena tidak ada ideologi, kepentingan politik, atau operasi keamanan apa pun yang lebih berharga daripada nyawa seorang anak.

Seni Sebagai Jeritan yang Tidak Bisa Dibungkam.
Sejarah menunjukkan bahwa ketika suara rakyat dibatasi, seni akan mengambil alih tugas berbicara.

Lukisan, musik, puisi, film dokumenter, dan mural sering menjadi bahasa terakhir bagi mereka yang merasa tidak didengar. Seni tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban. Kadang ia hadir hanya untuk memastikan bahwa luka itu benar-benar ada.

Karya Belandina Yeimo berdiri di wilayah itu.

Ia bukan sekadar gambar digital.
Ia adalah kesaksian emosional.

Warna merah darah yang mengalir di bawah tubuh anak itu terasa seperti pertanyaan yang ditinggalkan kepada dunia:

Berapa banyak lagi anak Papua yang harus kehilangan masa depan sebelum perdamaian dianggap penting?

Papua dan Hak untuk Tumbuh dengan Damai. Setiap anak, di mana pun ia lahir, memiliki hak yang sama untuk hidup aman, belajar, bermain, dan bermimpi. Anak Papua tidak seharusnya tumbuh di tengah suara konflik yang tak selesai.

Mereka berhak mengenal hutan sebagai tempat bermain, bukan tempat berlindung.
Mereka berhak mengenal langit sebagai ruang harapan, bukan arah datangnya ancaman.

Pesan utama dari lukisan ini sebenarnya sangat manusiawi dan universal:

Biarkan anak-anak Papua tumbuh dalam damai.
Kalimat itu bukan tuntutan yang rumit.
Itu adalah panggilan nurani.

 


Pada akhirnya, sebuah bangsa akan diingat bukan hanya dari kekuatan militernya atau kekayaan alamnya, tetapi dari bagaimana ia melindungi anak-anaknya.

Dan lukisan Belandina Yeimo mengingatkan kita bahwa di balik setiap konflik, selalu ada tubuh kecil yang menanggung beban paling besar.

Tubuh yang seharusnya dipeluk,
bukan dicengkeram.

Tubuh yang seharusnya bertumbuh,
bukan berdarah.

Karena setiap anak Papua yang hidup dalam damai adalah harapan bahwa tanah itu masih memiliki masa depan.

Editor : Maleaki Tipagau 

Copy link
WhatsApp
Facebook
Nextdoor
Email
X