Presiden Jokowi - STOP RELOKASI 16 KAMPUNG TUA YANG BERADA DI REMPANG GALANG

Masalahnya

Batam, 8 September 2023 - Indonesia sedang menghadapi tantangan yang serius, terutama di kawasan Rempang-Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pada Kamis, 7 September 2023, kita menyaksikan kejadian yang tragis, sebuah cerita yang mengejutkan kita semua. Ini adalah cerita tentang perlawanan dan keganasan yang tidak bermoral yang dialami oleh Masyarakat Adat di Kawasan Rempang-Batam.

Masyarakat Adat di 16 Kampung Melayu Tua telah menjalani kehidupan mereka di sana sejak tahun 1834. Mereka telah mempertahankan kebudayaan dan tradisi mereka selama berabad-abad, dengan begitu banyak cerita, pengetahuan, dan warisan yang ada di dalamnya. Namun, saat ini, mereka menghadapi ancaman serius terhadap keberlanjutan budaya mereka.

Pembangunan Program Strategis Nasional Kawasan Rempang Eco-City adalah rencana yang mengancam keberlangsungan hidup mereka. Pemerintah tampaknya berencana untuk menggusur 16 Kampung Melayu Tua ini, tanpa memperhitungkan kerugian besar yang akan dialami oleh Masyarakat Adat.

Siaran Pers dari WALHI dan Solidaritas Koalisi Masyarakat Sipil telah mengungkapkan bahwa aparat keamanan menjadi alat negara dalam mendukung ambisi pembangunan ini. Mereka melaporkan pemaksaan untuk melakukan pemasangan patok tata batas dan cipta kondisi, semua ini dilakukan tanpa memperhatikan penolakan yang tegas dari Masyarakat Adat.

Yang lebih memprihatinkan adalah kebrutalan yang terjadi dalam membubarkan warga yang sedang memprotes. Pada saat itu, tidak ada perhatian terhadap situasi sekitar, bahkan ketika terdapat aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 22 Galang dan SD Negeri 24 Galang. Anak-anak dan guru yang sedang berada di dalam sekolah harus mengalami ketakutan yang luar biasa karena tembakan gas air mata yang mengenai sekolah mereka.

Hasil dari kejadian ini sangat menyakitkan. Enam warga ditangkap, puluhan lainnya mengalami luka, dan beberapa anak mengalami trauma yang serius. Bahkan ada satu anak yang mengalami luka akibat tembakan gas air mata dan luka-luka lainnya karena berusaha melarikan diri melewati hutan dan semak-semak.

Kami harus bertanya pada diri sendiri, apa yang telah terjadi pada moralitas kita sebagai bangsa? Bagaimana kita bisa mengabaikan hak-hak dasar dari Masyarakat Adat yang telah ada sejak berabad-abad lamanya? Ini adalah saatnya bagi kita semua untuk bersatu dan menentang kekerasan di sekolah dan di masyarakat kita. Mari berdiri bersama dengan Masyarakat Adat Rempang-Batam dan berjuang untuk keadilan. Kita harus memastikan bahwa Indonesia yang kita banggakan adalah Indonesia yang adil, damai, dan menghormati hak-hak semua warganya. Kepri berduka, mari bersama-sama mengubahnya menjadi Kepri yang lebih baik

#RempangBrutalCity

#SaveRempang

#SavePulauRempang

#SaveHumanity

 

 

avatar of the starter
Fachrul AdamPembuka Petisi
Petisi ini mencapai 1.411 pendukung

Masalahnya

Batam, 8 September 2023 - Indonesia sedang menghadapi tantangan yang serius, terutama di kawasan Rempang-Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Pada Kamis, 7 September 2023, kita menyaksikan kejadian yang tragis, sebuah cerita yang mengejutkan kita semua. Ini adalah cerita tentang perlawanan dan keganasan yang tidak bermoral yang dialami oleh Masyarakat Adat di Kawasan Rempang-Batam.

Masyarakat Adat di 16 Kampung Melayu Tua telah menjalani kehidupan mereka di sana sejak tahun 1834. Mereka telah mempertahankan kebudayaan dan tradisi mereka selama berabad-abad, dengan begitu banyak cerita, pengetahuan, dan warisan yang ada di dalamnya. Namun, saat ini, mereka menghadapi ancaman serius terhadap keberlanjutan budaya mereka.

Pembangunan Program Strategis Nasional Kawasan Rempang Eco-City adalah rencana yang mengancam keberlangsungan hidup mereka. Pemerintah tampaknya berencana untuk menggusur 16 Kampung Melayu Tua ini, tanpa memperhitungkan kerugian besar yang akan dialami oleh Masyarakat Adat.

Siaran Pers dari WALHI dan Solidaritas Koalisi Masyarakat Sipil telah mengungkapkan bahwa aparat keamanan menjadi alat negara dalam mendukung ambisi pembangunan ini. Mereka melaporkan pemaksaan untuk melakukan pemasangan patok tata batas dan cipta kondisi, semua ini dilakukan tanpa memperhatikan penolakan yang tegas dari Masyarakat Adat.

Yang lebih memprihatinkan adalah kebrutalan yang terjadi dalam membubarkan warga yang sedang memprotes. Pada saat itu, tidak ada perhatian terhadap situasi sekitar, bahkan ketika terdapat aktivitas belajar mengajar di SMP Negeri 22 Galang dan SD Negeri 24 Galang. Anak-anak dan guru yang sedang berada di dalam sekolah harus mengalami ketakutan yang luar biasa karena tembakan gas air mata yang mengenai sekolah mereka.

Hasil dari kejadian ini sangat menyakitkan. Enam warga ditangkap, puluhan lainnya mengalami luka, dan beberapa anak mengalami trauma yang serius. Bahkan ada satu anak yang mengalami luka akibat tembakan gas air mata dan luka-luka lainnya karena berusaha melarikan diri melewati hutan dan semak-semak.

Kami harus bertanya pada diri sendiri, apa yang telah terjadi pada moralitas kita sebagai bangsa? Bagaimana kita bisa mengabaikan hak-hak dasar dari Masyarakat Adat yang telah ada sejak berabad-abad lamanya? Ini adalah saatnya bagi kita semua untuk bersatu dan menentang kekerasan di sekolah dan di masyarakat kita. Mari berdiri bersama dengan Masyarakat Adat Rempang-Batam dan berjuang untuk keadilan. Kita harus memastikan bahwa Indonesia yang kita banggakan adalah Indonesia yang adil, damai, dan menghormati hak-hak semua warganya. Kepri berduka, mari bersama-sama mengubahnya menjadi Kepri yang lebih baik

#RempangBrutalCity

#SaveRempang

#SavePulauRempang

#SaveHumanity

 

 

avatar of the starter
Fachrul AdamPembuka Petisi

Pengambil Keputusan

Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia
Bahlil Lahadalia
Bahlil Lahadalia
Menteri Investasi/Kepala BKPM

Perkembangan terakhir petisi