

Petisi Masyarakat Bima; Mendorong Pembentukan Perda Anti LGBTQ Berbasis Nilai.
Masalahnya
Pergeseran nilai-nilai dan budaya ketimuran di Bima, NTB sesungguhnya membawa petaka lain dalam memaknai ulang identitas asli masyarakat Bima. Fenomena krisis identitas dan kekeringan nilai moral di dalam kehidupan masyarakat Bima terjadi dengan begitu singkat, hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Bima telah menjadi arena bebas bagi para kelompok LGBTQ untuk mengunjuk gigi, di segala lini. Mulai dari kegiatan seremonial hingga kegiatan resmi perayaan Kemerdekaan. Tak ada ruang yang tersisa dalam 10 tahun terakhir melainkan semua diisi oleh kelompok LGBTQ.
Peningkatan kasus HIV sejak 2010 hingga 2026 hingga kenaikan angka Seksual beresiko pada remaja tidak bisa kita pungkiri disebabkan oleh kelompok LGBTQ. Media pers bebas, kebutuhan konten, hingga panggung konvensional telah menjadi ruang ekspresi bagi kelompok ini untuk menunjukkan eksistensinya.
Belum lagi keterkaitan antara LGBTQ dan Narkoba yang sama-sama saling menunjang. Dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa remaja yang terpapar Narkoba terpaksa mendatangi salon-salon yang dikelola oleh Banci hanya untuk mendapatkan bayaran yang kelak bayaran itu digunakan untuk membeli narkoba. Bima telah menjadi pasar bebas bagi peredaran narkoba jenis sabu. Sekelas Kapolres Bima Kota menjadi pelindung dan pemasok barang haram di Bima. Ini sungguh tidak wajar, lebih-lebih jika dilihat dalam tradisi ketimuran Bima.
Dua isu itu menjadi arus utama dalam bidikan Aliansi Bima Beradab. Setelah melakukan deklarasi Bima anti LGBTQ di Serasuba pada malam 11 Juli 2026, ABB kemudian melanjutkan dengan gerakan 81 meter petisi rakyat; Persembahan untuk Indonesia dari Bima di hari jadi ke-81 tahun Indonesia di Lapangan Amahami Kota Bima, Minggu 02 Agustus 2026. ABB mengusung dua isu utama, Bima tanpa LGBTQ, Bima tanpa Narkoba.
Kain petisi 81 Meter merupakan ikhtiar bersama antara masyarakat Bima untuk Indonesia dalam mempersembahkan Kemerdekaan sejati. “Kemerdekaan sesungguhnya bukan tentang kebebasan, melainkan melepaskan belenggu yang menyimpang, melepas diri dari Narkoba”.

176
Masalahnya
Pergeseran nilai-nilai dan budaya ketimuran di Bima, NTB sesungguhnya membawa petaka lain dalam memaknai ulang identitas asli masyarakat Bima. Fenomena krisis identitas dan kekeringan nilai moral di dalam kehidupan masyarakat Bima terjadi dengan begitu singkat, hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Bima telah menjadi arena bebas bagi para kelompok LGBTQ untuk mengunjuk gigi, di segala lini. Mulai dari kegiatan seremonial hingga kegiatan resmi perayaan Kemerdekaan. Tak ada ruang yang tersisa dalam 10 tahun terakhir melainkan semua diisi oleh kelompok LGBTQ.
Peningkatan kasus HIV sejak 2010 hingga 2026 hingga kenaikan angka Seksual beresiko pada remaja tidak bisa kita pungkiri disebabkan oleh kelompok LGBTQ. Media pers bebas, kebutuhan konten, hingga panggung konvensional telah menjadi ruang ekspresi bagi kelompok ini untuk menunjukkan eksistensinya.
Belum lagi keterkaitan antara LGBTQ dan Narkoba yang sama-sama saling menunjang. Dalam beberapa kasus, ditemukan bahwa remaja yang terpapar Narkoba terpaksa mendatangi salon-salon yang dikelola oleh Banci hanya untuk mendapatkan bayaran yang kelak bayaran itu digunakan untuk membeli narkoba. Bima telah menjadi pasar bebas bagi peredaran narkoba jenis sabu. Sekelas Kapolres Bima Kota menjadi pelindung dan pemasok barang haram di Bima. Ini sungguh tidak wajar, lebih-lebih jika dilihat dalam tradisi ketimuran Bima.
Dua isu itu menjadi arus utama dalam bidikan Aliansi Bima Beradab. Setelah melakukan deklarasi Bima anti LGBTQ di Serasuba pada malam 11 Juli 2026, ABB kemudian melanjutkan dengan gerakan 81 meter petisi rakyat; Persembahan untuk Indonesia dari Bima di hari jadi ke-81 tahun Indonesia di Lapangan Amahami Kota Bima, Minggu 02 Agustus 2026. ABB mengusung dua isu utama, Bima tanpa LGBTQ, Bima tanpa Narkoba.
Kain petisi 81 Meter merupakan ikhtiar bersama antara masyarakat Bima untuk Indonesia dalam mempersembahkan Kemerdekaan sejati. “Kemerdekaan sesungguhnya bukan tentang kebebasan, melainkan melepaskan belenggu yang menyimpang, melepas diri dari Narkoba”.

Perkembangan Terakhir Petisi
Bagikan petisi ini
Petisi dibuat pada 4 Agustus 2026