Menolak Pelabelan “Generasi Strawberry”, dan Penghinaan terhadap Perempuan Papua

702

Ayo dapatkan 1000 tanda tangan!
Petisi dengan lebih dari 1.000 pendukung 5 kali lebih mungkin untuk menang!

Masalahnya

Pada hari Selasa, Tanggal 4 Agustus 2026, terdapat sebuah postingan di media sosial Facebook dari Akun Selly Kareth (SK), seorang anggota Pokja Perempuan Majelis Rakyat Papua, salah satu kelompok kerja resmi di dalam lembaga kultural MRP yang fokus bekerja untuk memberikan perlindungan, pemberdayaan, dan peningkatan hak-hak dasar bagi perempuan orang asli Papua. 

Dalam postingan tersebut, Selly Karet selaku anggota Pokja Perempuan MRP  menuliskan narasi tentang pengalaman pribadinya menjumpai beberapa orang non Papua yang bekerja sebagai driver taxi online, tukang ojek, tukang bangungan, pedagang, hingga petani untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Menurutnya ,  “ Biar dong pendatang tapi tidak pernah mengemis dan minta-minta mereka kerja dan kaya di Tanah orang karena mereka percaya rejeki Tuhan yang atur yang penting tekun dan ulet”  Dia (Selly kareth) kemudian membandingkan dengan anak orang asli Papua (OAP) yang dinilai dibesarkan sebagai generasi strawberry  “ Hal yang membedakan anak-anak OAP dengan Non-OAP  adalah anak-anak OAP dibesarkan sebagai generasi strawberry sedangkan Non-oap membesarkan anak mereka sebagai pedagang, pekerja dan manusia" yang bisa menghidupi diri sendiri”  

Beliau lanjut menjelaskan pengertian generasi strawberry adalah generasi yang fokus pada penampilan bukan pada kualitas, generasi yang rapi diluar dan didalam. Ada contoh gaya hidup generasi  strawberry yang dituliskan seperti , “ Pergi mabuk pulang makanan sudah siap dimeja, mau isap rokok minta uang di orang tua, jalan malam pulang pagi makanan sudah siap, mau hp baru tinggal minta orang tua beli, mau motor baru org tua beli dan orang tua tidak pernah mengajarkan mereka untuk bekerja dan membeli kebutuhan sendiri dengan hasil keringat sendiri alhasil sampai dewasa anak-anak tidak mandiri dan tidak bisa memimpin diri sendiri ”    Tidak berhenti disini, beliau lanjut menjelaskan lagi bahwa, ” Org tua banting tulang kerja dari pagi sampai malam tapi mereka justru memanjakan anak-anak yang sepanjang hidupnya menjadi beban sosial alhasil ketika orang tua tidak mampu lagi menafkahi anak itu dia kehilangan arah kemudian mencuri atau menjual diri demi memenuhi kebutuhan hidup karena tidak memiliki nilai diri” 

Narasi ini mendapatkan respon pro dan kontra dari publik, termasuk dari akun Natalia Laurencia Yewen, perempuan Papua dari kabupaten Tambrauw yang  menyampaikan keberatan di akun media sosialnya (Facebook). Menurutnya, peristiwa yang dialami oleh anggota MRP tersebut tidak bisa dijadikan landasan untuk melabelkan anak orang asli Papua sebagai generasi strawberry. Menurut Natalia, Selly seharusnya tidak menuliskan kesimpulan seperti itu, mengingat yang bersangkutan adalah anggota MRP,  “ Masa bikin kesimpulan dari peristiwa sepanggal itu. Ko tau k tidak, itu adalah persoalan struktural. Tidak bisa bandingkan pendatang dan Papua soal itu. Kalau ko bukan anggota MRP, itu tidak masalah mo tulis nano2 begini. Tapi Ibu Selly adalah anggota MRP”   (Narasi lengkapnya dapat dilihat pada akun media sosial milik anggota MRP yang ditulis pada tanggal 4 Agustus 2026/ Sila dilihat di sini)  

Kritik Natalia direspon oleh Selly Kareth melalui akun facebook miliknya yang menyebut Natalia adalah manusia radikal yang anti kritik. Menurutnya konsep radikal seperti Natalia yang menyebabkan anak Papua tetap berada di zona nyaman. Dalam tanggapan balasan itu, beliau menekankan bahwa, menulis adalah bentuk kebebasan dan kemerdekaan secara individu dalam menuangkan isi pikiran dan jika tujuan Anda adalah  serangan person saya pastikan tidak berpengaruh terhadap kualitas dan kredibilitas saya, saya sudah terbiasa menghadapi serangan person yang receh dan kampungan seperti yg anda tulis dan itu tidak membuat saya goyah justru saya akan lebih semangat menulis supaya banyak anak-anak muda yang sedang nyaman di zona nyaman sadar”    (Narasi lengkapnya dapat dilihat pada akun media sosial milik anggota MRP yang ditulis pada tanggal 4 Agustus 2026/ Sila dilihat di sini)  

Dari postingan tersebut (Sila dilihat di sini ) muncullah berbagai macam adu argumen dari beberapa perempuan asli Papua, seperti pemilik akun Ewitano.  Dari sinilah permulaan penghinaan fisik dilontarkan oleh anggota MRP Pokja Perempuan tersebut. Selly Karet  mulai  menghina fisik dari sdri Ewitano, “Kepala Botak, Kepala Kising, Rambut malas tumbuh, Hidung Balak, dan Hidung Balak macam Pipa, Bicara Logat”

Dan huga penghinaan kepada sdr. Natalia Laurencia Yewen,  “Gigi Kuning, Saya punya kulit kaki lebih mulus dari ko punya muka yang hitam gerai, Saya berdiri di mata hari selama satu bulan juga kulit tetap mulus, ko cocok urus anak karena tidak mempunyai kapasitas untuk mengkritik, Kampungan, dan membagikan foto sdr Natalia Laurencia Yewen dan membandingkan dengan dirinya”.  Lalu komentarnya melebar menyebut kabupaten dimana Natalia berasal (kabupaten Tambrauw) sebagai kabupaten dengan angka putus sekolah paling tinggi, anak-anak SMP bahkan tidak bisa sampai kelas 3 sudah putus sekolah, dan menyampaikan bahwa Natalia bicara makan puji tapi daerah ada tertinggal dan nomor satu tertinggal di PBD. 

Pada hari Rabu dan Kamis, akun Facebook atas nama Selly Kareth kembali membuat postingan-postingan tanpa menyebutkan nama yang isinya penuh dengan penghinaan, caci maki, penuduhan/pelabelan dan menghina harkat martabat Perempuan Papua lain dengan mengukur kecantikan perempuan itu dilihat dari seberapa sering masuk salon, membersihkan kuku kaki, kuku tangan, pakai Rexona yang mahal, dan lain sebagainya yang menurut kami bahwa status-status tersebut sangat erat berkaitan dengan postingan dan perdebatan sebelumnya pada hari Selasa.

Oleh sebab itu, kami meminta dukungan dari seluruh perempuan asli Papua, orang asli Papua, maupun masyarakat luas untuk bersama-sama dengan kami mendesak lembaga Majelis Rakyat Papua Barat Daya (MRP PBD) untuk:

  1. Memanggil dan meminta klarifikasi dari Selly Kareth atas berbagai pernyataan dan komentar yang disampaikan melalui akun media sosialnya;
  2. Melakukan pemeriksaan dan evaluasi sesuai mekanisme kelembagaan dan kode etik yang berlaku, khususnya berkaitan dengan pernyataan yang dianggap merendahkan OAP dan perempuan Papua;
  3. Meminta pertanggungjawaban atas narasi mengenai anak-anak OAP sebagai “generasi strawberry”, termasuk dasar dan konteks yang digunakan untuk membuat generalisasi tersebut;
  4. Mengevaluasi pernyataan dan komentar yang mengandung penghinaan terhadap fisik dan martabat perempuan Papua, termasuk komentar mengenai warna kulit, wajah, rambut, gigi,  dan karakteristik fisik;
  5. Meminta klarifikasi yang menyebut kabupaten Tambrauw  sebagai kabupaten dengan angka putus sekolah paling tinggi di provinsi PBD, dan klaimnya tentang  anak-anak di kabupaten Tambrauw yang kebanyakan tidak dapat menyelesaikan sekolah pada jenjang SMP , dan kabupaten Tambrauw sebagai daerah tertinggal nomor satu di Papua Barat Daya;
  6. Memastikan bahwa perbedaan pendapat dan kritik di ruang publik tidak dibalas dengan serangan personal, terlebih oleh seorang pejabat atau anggota lembaga representasi masyarakat Papua.
avatar of the starter
Natalia YewenPembuka Petisi

Perkembangan Terakhir Petisi