Gunakan Telur Cage-Free untuk Menghentikan Penderitaan Ayam Petelur !

0 telah menandatangani. Mari kita ke 7.500.


Saya sangat menyukai makanan-makanan siap saji dari McDonald’s. Selalu menyenangkan ketika kami sekeluarga berkunjung ke gerai - gerai McDonald’s, terutama untuk sarapan. Anak saya bahkan sangat menyukai McMuffins dan menu breakfast wrap-nya, tapi saya menolak untuk mendukung merk yang dengan sengaja menimbulkan kekejaman yang tidak diperlukan kepada hewan.

Saya teringat di masa kecil, keluarga kami memelihara ayam di halaman belakang. Sayalah yang selalu membantu ayah untuk merawat mereka. Sepanjang hari mereka bebas di halaman, hanya malam hari mereka kami masukkan ke kandang yang cukup luas agar aman saat beristirahat. Menyenangkan jika memperhatikan ayam-ayam kami menjalani hidup mereka, apalagi memperhatikan induk ayam merawat dan menjaga telur-telurnya dengan penuh kasih sayang. Sering saya melihat ibu ayam mendengkur dan berdecak-decak, seakan berbicara ke telur-telurnya, dan ternyata penelitian membuktikan bahwa ibu ayam benar-benar berkomunikasi dengan anak-anaknya sejak telur belum menetas, dan calon anak-anak ayam ini pun menjawab dari dalam cangkang mereka. Bahkan, penelitian juga menunjukkan di usia 2 hari, kecerdasan anak ayam setara bahkan melampaui kecerdasan bayi manusia berusia 6 bulan.

Saya sangat prihatin saat mengetahui bahwa suplai telur untuk McDonald’s Indonesia berasal dari peternakan yang ayam-ayam petelurnya ditempatkan dengan sistem kandang baterai. Sistem kandang baterai adalah sistem yang menempatkan ayam-ayam tersebut di dalam sekat-sekat bambu sempit atau dibatasi kawat besi. Di dalam kurungan itulah ayam-ayam menghabiskan hidup mereka, menjadi mesin produksi telur demi telur untuk konsumsi manusia hingga mereka tidak mampu lagi untuk bertelur. Ayam - ayam tersebut akhirnya dikirimkan ke penjagalan sebagai ayam afkir di usia 50 minggu.

Praktik ini biasanya menggunakan sebuah kandang untuk 5-10 ekor ayam, dan apabila terjadi di peternakan besar, akan terdapat ribuan kandang, disusun berjajar dalam barisan dan ditumpuk hingga 3-5 tingkat ke atas. Sebegitu singkat hidup mereka dibandingkan ayam-ayam kami yang bisa mencapai usia 8 tahun, dan singkatnya hidup ayam-ayam petelur itu pun harus dijalani dalam penderitaan. 

Setiap ayam petelur dalam sistem kandang baterai hanya diberi ruang sekitar 300-450 cm2, ruang berpijak ayam-ayam tersebut lebih sempit dari selembar kertas A4 atau iPad. Di dalam kurungan sekat sempit itulah mereka menghabiskan seluruh waktu dalam hidupnya. Ayam-ayam ini tidak mempunyai ruang untuk melakukan kebiasaan atau perilaku alamiah mereka, seperti bersarang, berjalan, bertengger, menggaruk untuk mencari makanan, atau mematuki makanan di tanah. Mereka bahkan sama sekali tidak bisa meregangkan atau merentangkan sayap mereka. Ini jauh berbeda dengan kehidupan ayam-ayam yang saya pelihara dan hidup bebas di halaman belakang rumah.

Riset ekstensif menunjukkan bahwa ayam-ayam petelur yang dikurung dalam kandang baterai menunjukkan tanda-tanda frustrasi dan menderita stress. Mereka juga mengalami luka fisik, termasuk patah tulang, kerontokan bulu (kebotakan), dan juga berbagai penyakit lain. Karena pengurungan ini mengakibatkan stress yang hebat, seringkali proses mutilasi kejam diberlakukan, seperti de-beaking untuk mencegah mereka melukai satu sama lain. De-beaking adalah proses pemotongan paruh anak ayam atau ayam berumur muda tanpa penghilang rasa sakit, seringkali menggunakan pisau pemotong yang dipanaskan hingga 800 derajat celcius.

Sistem peternakan kandang baterai adalah neraka kehidupan untuk ayam-ayam tak bersalah yang menghasilkan telur untuk McDonald’s Indonesia. Untungnya, kandang baterai bukanlah sistem yang mutlak diperlukan dalam peternakan ayam petelur karena tersedianya alternatif-alternatif lain yang lebih manusiawi. Biaya peralihan dari sistem kandang baterai ke sistem alternatif yang lebih manusiawi ini pun relatif murah apabila peralihan tersebut dilakukan ketika kandang yang lama sudah perlu diganti karena usia pemakaian.

McDonald's Indonesia - we are NOT lovin' it! 

Kandang baterai konvensional sudah dilarang di benua Eropa sejak 2012, dan tiga negara bagian Amerika Serikat – Michigan, California, dan Ohio – telah menetapkan undang-undang untuk melarang penempatan ayam petelur dengan sistem kandang baterai sempit. Baru-baru ini, Australian Capital Territory juga telah melarang penggunaan kandang baterai konvensional, serta sebagian besar negara bagian di India juga telah menyatakan penggunaan kandang baterai sebagai pelanggaran terhadap Undang-undang  Pencegahan Tindak Kekejaman terhadap Hewan yang berlaku di India.

Pada bulan September 2015, McDonald’s membuat komitmen publik untuk menghapuskan secara bertahap sistem kandang baterai dari rantai pasokan mereka di Kanada dan Amerika Serikat dalam kurun waktu 10 tahun. McDonald’s juga membuat komitmen yang serupa di Eropa, Amerika Latin dan Australia. Di dalam pengumumannya tentang peralihan menuju sistem 100% cage-free (bebas dari kandang baterai) di Amerika Serikat dan Kanada pada tahun 2025, McDonald’s menegaskan:

Kesejahteraan hewan selalu menjadi hal yang penting untuk kami dan para pelanggan kami…pengumuman hari ini adalah satu lagi tonggak penting yang membangun kerja kami dengan para pakar industri serta pemasok untuk memperbaiki perlakuan terhadap hewan.

Puluhan restoran besar lainnya dan jaringan-jaringan supermarket telah mengikuti komitmen dari McDonald ini; namun bagaimanapun juga, McDonald’s Indonesia belum membuat komitmen serupa!

McDonald’s Indonesia – Lakukan Perubahan Segera!

PT Rekso Nasional Food adalah master franchisee untuk Korporasi McDonald’s Amerika Serikat di Indonesia dan mengoperasikan lebih dari 200 gerai McDonald’s yang tersebar di seluruh Indonesia. PT Rekso Nasional Food adalah anak perusahaan dari PT. Anggada Putra Rekso Mulia (Rekso Grup), yang juga mengoperasikan PT Sinar Sosro, produsen dari Teh Botol. 

Kelompok-kelompok perlindungan satwa lokal dan internasional telah meminta PT. Rekso Nasional Food untuk menaruh perhatian pada isu masih berlanjutnya pemakaian produk dari ayam petelur yang dikurung dalam kandang yang sangat sempit, namun mereka masih belum mengambil tindakan apapun.

Saya, yang membuat dan mendukung petisi ini percaya bahwa menjadi konsumen yang peduli tentang dari mana dan bagaimana makanan yang saya dan keluarga saya konsumsi berasal akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. We are what we eat, kita adalah apa yang kita makan; saya tidak ingin anak dan keluarga saya mengonsumsi produk makanan yang berasal dari perlakuan kejam terhadap hewan. Karena saya percaya kepedulian pada kesejahteraan hewan akan membuat kita memiliki kepekaan yang lebih tinggi, hati yang lembut, sikap lebih menghargai dan welas asih tidak hanya pada hewan tapi juga pada sesama manusia.

Untuk para ibu, ayah, keluarga-keluarga Indonesia, pelanggan setia McDonald’s, mohon bantuannya untuk mendukung  petisi ini dan biarkan McDonald’s Indonesia tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang peduli pada perlakuan yang manusiawi terhadap hewan, termasuk untuk ayam petelur, dan menuntut agar McDonald’s mau membuat komitmen untuk mengadopsi standar sistem cage-free dari rantai pasoknya di Indonesia. 

Ayam-ayam petelur itu telah memberikan manfaat untuk kita, lalu mengapa kita tidak bisa berterimakasih pada mereka dengan memastikan hidup mereka sejahtera? Jadilah suara untuk mereka yang tidak bisa berbicara! Suara kita sangat berarti, maka biarkan tuntutan kita didengar!

McDonald’s Indonesia – bebaskan ayam-ayam petelurmu dari sistem kandang baterai yang kejam, agar kami dapat menikmati kembali Egg McMuffins tanpa perasaan bersalah! Agar kami bisa bernyanyi tanpa beban, “Mana lagi selain di McD. Suasana ceria semua istimewa." 

Tertanda, 
Rhodiah Safitri

Konsumen McDonald’s yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga

-------------------------------------------------------------------------------------

MARI MENGIRIM SURAT PROTES KEPADA MCDONALD'S INDONESIA

Tolong bantu untuk mengirimkan surel / email yang berisi protes terhadap McDonald's Indonesia dan jajarannya dengan isi surat berikut:

"Kepada McDonald's Indonesia,

Tolong terapkan sistem cage free untuk rantai pasok telur yang Anda gunakan! McDonald’s telah mengeluarkan komitmen publik untuk menghentikan sistem kandang baterai dari rantai pasok telur di Kanada dan Amerika Serikat. McDonald’s juga telah membuat komitmen kesejahteraan hewan, yang berdampak pada rantai pasok di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Australia. Komitmen serupa belum dibuat oleh McDonald’s Indonesia.

Perlakuan manusiawi kepada ayam petelur penting untuk konsumen Indonesia, dan kami meminta McDonald’s Indonesia untuk ikut mengadopsi cage-free policy untuk pasokan telur Anda."

Email ditujukan dan dikirimkan kepada Mr. Kitson Choong, Managing Director dengan alamat email kitson.choong@id.mcd.com dan Bapak Imam Gozali, Head of QA, dengan alamat email imam.gazali@id.mcd.com

Anda juga bisa mengirimkannya melalui surat kepada Bapak Sukowati Sosrodjojo, Presiden Direktur PT. Rekso Nasional Food dan Mr. Kitson Choong, Managing Director McDonald’s Indonesia dengan alamat kantor:

PT. Anggada Putra Rekso Mulia
Rekso Nasional Food - McDonald’s Division

Gedung Graha Rekso,
Jl. Boulevard Artha Gading Kav A1. Sentra Bisnis Artha Gading,
Kelapa Gading. Jakarta, 14240, Indonesia
Phone: +6221 4585 6199
Fax: 62 21 884 3319

-------------------------------------------------------------------------------------

 



Hari ini: Rhodiah mengandalkanmu

Rhodiah Safitri membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "@McDonalds_ID, Gunakan Telur Cage-Free untuk Menghentikan Penderitaan Ayam Petelur !". Bergabunglah dengan Rhodiah dan 5.841 pendukung lainnya hari ini.