Ajaran orang tua yang salah pada anak lelaki bisa berujung pada prostitusi

0 telah menandatangani. Mari kita ke 100.


Mengapa ada tempat Prostitusi? Karena ada "Pelanggan"nya. Siapa para "Pelanggan" tersebut? Para pria yang dengan gampangnya "melorotkan celana" mereka di depan wanita manapun. Mengapa cowok gampang buka celana di depan siapa saja, tidak seperti cewek yang pemalu? Karena dari kecil cewek diajarin rasa malu, sedangkan cowok tidak diajarkan untuk menjaga harga diri dan kemaluannya (silahkan lihat foto bukti di atas).

Pernahkah anda mengajarkan kepada anak lelaki anda bahwa tubuhnya hanya untuk istrinya kelak? Yang kita dengar hanya "perempuan wajib menjaga tubuh untuk suaminya". Sejak kecil, anak-anak perempuan diajarkan untuk menjaga harga diri dan kehormatannya agar hanya untuk suaminya kelak. Tidak boleh buka baju sembarangan, sedikit ‘kulit terlihat’ akan mudah dikritisi masyarakat. Rasa malu kepada anak perempuan sangat diperhatikan. Anak laki-laki TIDAK mendapatkan didikan seperti itu, seringkali orang tua mengajar "cowok ngapain malu" pada anak laki-lakinya. Maka wajar bila saat dewasa para lelaki merasa tidak perlu menjaga tubuhnya hanya untuk sang istri. Bahkan bila ada anak lelaki yang pemalu, malah akan dianggap aneh.

Banyak orang menuduh bahwa para wanita tidak menjaga auratnya karena pengaruh budaya luar negeri. Tetapi sebaliknya, para orangtua DI DALAM NEGERI INDONESIA sengaja mengajarkan budaya tidak tahu malu kepada anak laki-laki mereka sendiri. Bahkan sering anak lelaki yang sedang telanjang difoto atau divideokan oleh orang tua mereka sendiri lalu di-upload dan bebas dilihat puluhan ribu kali di media sosial. Contoh saat anak laki-laki sunat atau mandi/berenang (silahkan lihat foto bukti di atas).

Hal ini mengakibatkan TERTANAMNYA ajaran bahwa lelaki tidak perlu menjaga tubuh dan kemaluannya hanya untuk istrinya saja. Makanya para lelaki dengan mudah bisa melorotkan celananya. Tidak sedikitpun lelaki tersebut merasa harga dirinya jatuh saat membuka celana di depan selain istrinya. KARENA SUDAH DIBIASAKAN DARI KECIL.

Rasa malu tergantung dari ajaran sejak kecil. Di daerah pedalaman Bora-Bora, pria dan wanita dewasa sama-sama bertelanjang dada tanpa rasa malu. Wanita di sana tidak malu bertelanjang dada karena sudah dibiasakan dari kecil. Bahkan wanita suku Xingu di Brazil tidak menutup dada dan kemaluannya sama sekali, padahal yang pria masih menutup kemaluannya. Di negara maju, banyak kelompok nudist yang anggota perempuannya telanjang bulat tanpa rasa malu. Jadi pemikiran bahwa perempuan lebih pemalu daripada laki-laki adalah hal yang salah. Yang benar adalah rasa malu tergantung dari pendidikan, moral, dan kebiasaan yang ditanamkan kepada sang anak.

Apa yang kita tanamkan kepada anak kita, itu yang akan kita panen. Selayaknya jika anda ingin anak anda tumbuh menjadi anak yang jujur, maka ajarkan kejujuran. Bila anda sengaja mengajarkan pada anak lelaki untuk tidak menjaga kemaluan dan harga diri hanya untuk istrinya kelak, ya WAJAR kalau nanti dia tidak menjaga harga diri dan tubuhnya hanya untuk istrinya.

Oleh karena itu, melalui petisi ini saya ingin menyinggung beberapa kebiasaan yang harus dirubah dalam masyarakat agar anak laki-laki juga menjaga tubuhnya hanya untuk istrinya kelak.

Saya mengusulkan untuk:

  1. Diberlakukannya peraturan agar proses sunatan pribadi atau massal tidak boleh dijadikan tontonan, oleh saudara kandung sekalipun. Sesuai dengan Mahzab Syafi’i yang menyatakan bahwa walau anak lelaki belum memiliki aurat, tetap DIHARAMKAN untuk melihat qubul dan dubur anak lelaki tersebut, kecuali orang yang bertanggung jawab untuk mengurusnya (biasanya orang tuanya).
  2. Pasangan yang akan menikah diberikan bimbingan di KUA sebelum diberlangsungkannya pernikahan. Para pasangan tersebut harus diberikan bimbingan tentang pentingnya menanamkan rasa malu kepada anak, baik laki-laki maupun perempuan. Jangan hanya anak perempuan saja yang diajarkan rasa malu. Sekali lagi, hanya orang yang bertanggung jawab mengurusnya yang boleh melihat kemaluannya. Dia harus selalu dijaga dari mata orang lain. Ajarkan untuk selalu menjaga pakaiannya sejak kecil. Secara medis, usia yang paling penting untuk mengajarkan kepada anak agar menjaga kemaluannya adalah tiga sampai enam tahun (disebut dengan phallic stage). Di usia tersebut ditargetkan anak sudah punya rasa malu dan menjaga kemaluannya. Bila anda membiarkan anak lelaki anda telanjang di depan siapa saja pada usia ini, maka wajar bila dia tumbuh menjadi pria yang tidak menjaga kemaluannya.
  3. Dari kasus Bora-Bora, Xingu, dan nudist dapat kita lihat bahwa rasa malu bukan dimiliki secara otomatis oleh perempuan, tapi tergantung dari ajaran sejak kecil. Artinya perempuan di Indonesia malu bertelanjang dada karena sejak kecil karena diajarkan demikian. Dari kasus tersebut dapat kita simpulkan bahwa bila anda dapat mendidik anak perempuan anda untuk malu bila bertelanjang dada, harusnya anda juga bisa mendidik anak lelaki anda untuk malu bila bertelanjang dada. KUA harus memberikan target kepada calon pasangan suami istri agar nantinya MENDIDIK ANAK LELAKI SEJAK USIA DINI UNTUK MALU BERTELANJANG DADA BAHKAN DI DEPAN IBU KANDUNGNYA SENDIRI. Apabila untuk bertelanjang dada di depan ibu kandungnya saja dia malu, maka tidak mungkin dia sanggup membuka celananya di depan wanita sembarangan. Biasakan dia untuk selalu memakai baju lengkap sejak kecil. Bila dia membuka bajunya, katakan kepadanya, “Jangan dibuka, malu”. Tanamkan bahwa tubuh laki-laki juga SANGAT BERHARGA dan hanya untuk istrinya kelak.

Saya yakin kita bisa, dan saya yakin bahwa para orang tua di Indonesia hebat dan cerdas !!! Ingatlah bahwa selain Nabi, manusia yang paling pemalu dalam sejarah adalah seorang LELAKI bernama Ustman bin Affan, yang berkat sifat pemalunya bisa membuat para malaikat pun malu kepadanya. Mari bersama kita ciptakan generasi lelaki yang punya rasa malu.



Hari ini: Hadid mengandalkanmu

Hadid Harahap membutuhkan bantuanmu untuk mengajukan petisi "Komisi Perlindungan Anak Indonesia: Ajaran orang tua yang salah pada anak lelaki bisa berujung pada prostitusi". Bergabunglah dengan Hadid dan 21 pendukung lainnya hari ini.