Urgensi Pendidikan Perdamaian dan Hubungan Antar Agama di Indonesia

The Issue

  Dunia kini sedang berada dalam globalisasi yang melalui tahap revolusi teknologi, komunikasi, informasi dan transportasi yang bergerak sungguh cepat. Situasi dan kondisi global kontemporer telah mempengaruhi apa yang terjadi dalam hal lingkup nasional bahkan lokal seiring dengan meningkat pesatnya interdependensi di seluruh penjuru dunia. Hal ini perlu disadari, dipahami, dan ditanggapi secara cepat, tepat, dan akurat oleh berbagai pihak dan tingkat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Salahsatu bidang yang patut menjadi perhatian utama berbagai pihak mulai dari pemerintah, kelompok bisnis, institusi akademik, organisasi non-pemerintah, hingga masyarakat sipil yaitu pendidikan. Kita sungguh paham bahwa pendidikan adalah kunci utama bagi kemajuan peradaban suatu bangsa dan juga sebagai salahsatu faktor penting dalam menjalani kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Saat ini, pendidikan juga telah mengalami revolusi seiring dengan laju globalisasi yang terus melesat mulai dari teori, struktur, metodologi, aspek dan elemen, subjek dan objek, hingga seluruh proses yang terlibat didalamnya. Pendidikan tidak mungkin untuk tetap kaku dan tak berkembang, pendidikan akan selalu tertekan agar terus fleksibel dan berkembang.

Berhubungan dengan itu, salahsatu isu yang menjadi perhatian utama dunia sekarang ini ialah mengenai perdamaian dan kerukunan antar umat beragama. Politisasi dan fanatisme yang terjadi dalam isu keyakinan dan agama telah menyulut konflik dan peperangan di berbagai pelosok bumi tanpa mengindahkan korban tak bersalah terutama perempuan dan anak-anak. Oleh sebab itu, kita harus segera menangani dengan solusi preventif yang komprehensif dan holistik sehingga persitiwa tragis ini dapat dihindari atau setidaknya diminimalisasi. Dalam konteks Indonesia sendiri yang plural dan multikultural, isu kerukunan antar umat beragama masih harus diperjuangkan secara lantang dan intensif terutama melalui dialog dan program aksi bersama yang secara substansial menumbuhkan toleransi dan tenggang rasa di masyarakat. Masih banyak problematika mengenai perdamaian dan kerukunan antar umat beragama yang terjadi di segenap wilayah Indonesia yang belum terselesaikan hingga tuntas mengingat kompleksitas yang ada didalamnya. Namun satu hal yang harus segara kita benahi adalah pendidikan karena pendidikan kini telah menjadi kebutuhan primer selain sandang, pangan, dan papan. Pendidikan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, pendidikan juga akan membentuk pola pikir dan paradigma baik secara individual maupun komunal. Kita tentu mengakui bahwa pendidikan yang telah dikenalkan sejak dini tentu akan membawa manfaat yang baik bagi perkembangan kehidupan kita.   

Kita telah mengenal Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang dahulu bernama Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), lalu Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB). Semua itu bermuara pada satu filosofi paling dasar yang dimiliki oleh negara kita yaitu Pancasila yang berperan sungguh sentral dalam hal ideologi kebangsaan Indonesia. Kini, Pancasila dapat dikatakan telah semakin luntur popularitasnya yang bisa dibuktikan dengan semakin sedikitnya pelajar dan mahasiswa yang mengetahui Sila I hingga Sila V. Fenomena yang tidak baik ini perlu segera diantisipasi dengan metode pelaksanaan pendidikan yang jauh lebih dinamis dan praktis dibandingkan yang statis dan teoritis. Mata pelajaran PKn kini dapat dianggap semacam formalitas saja untuk menumbuhkan nasionalisme dan mengenalkan Indonesia pada siswa tanpa substansi yang aplikatif dan solutif dalam kehidupan keseharian mereka. Bukti bahwa tawuran antar pelajar atau antar mahasiswa yang masih terjadi di negeri ini merupakan kegagalan yang sungguh nyata bahwa PKn belum menciptakan dampak yang langsung dan berguna bagi yang mempelajarinya. Untuk itulah, diperlukan terobosan pendidikan yang menyeluruh agar pendidikan di negeri ini tidak hanya bersifat formal dan asal melainkan substansial dan praktikal.

Pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama yang kini telah diajarkan secara mapan di Amerika dan Eropa tentu harus menjadi percontohan bagi Indonesia dalam memperbaiki sistem pendidikan kita yang belum inovatif laiknya di negara-negara maju. Amerika Serikat dan Jerman merupakan dua negara yang sungguh serius menggarap pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama karena telah menyadari bahwa negaranya telah menjadi wilayah kosmopolitan yang terdiri dari berbagai warga dengan beragam latar belakangnya (ras, suku, etnis, agama, budaya, dan lainnya). Begitu pun [seharusnya] dengan Indonesia yang terdiri dari lebih dari 1.000 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, beragam etnis dan ras campuran, agama-agama yang telah memiliki rekam jejak dalam sejarah Indonesia, ribuan tradisi khas dan lainnya. Pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama menjadi salahsatu strategi jitu untuk mendidik masyarakat khususnya generasi muda agar lebih toleran, moderat, dan berpikiran luas yang sangat dibutuhkan dalam negeri yang terdiri dari beragam elemen peradaban seperti Indonesia.

 

Secara inti, pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama dapat diintegrasikan dalam PKn namun bobot praktisnya harus jauh lebih banyak dibandingkan bobot teoritisnya. Metode yang diimplementasikan dalam pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama dapat disusun bersama para aktivis LSM yang telah jauh lebih berpengalaman mengingat pengajarannya harus disesuaikan dengan konteks lokal. Selain itu, pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama akan sanggup untuk mengurangi potensi konflik horizontal dan perselisihan sosial yang sangat rawan terjadi di daerah yang terlalu didominasi oleh agama-agama tertentu. Ini juga akan membawa kepada kemajuan pembangunan bangsa yang jauh lebih bermoral, beradab, adil dan setara.

This petition had 36 supporters

The Issue

  Dunia kini sedang berada dalam globalisasi yang melalui tahap revolusi teknologi, komunikasi, informasi dan transportasi yang bergerak sungguh cepat. Situasi dan kondisi global kontemporer telah mempengaruhi apa yang terjadi dalam hal lingkup nasional bahkan lokal seiring dengan meningkat pesatnya interdependensi di seluruh penjuru dunia. Hal ini perlu disadari, dipahami, dan ditanggapi secara cepat, tepat, dan akurat oleh berbagai pihak dan tingkat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Salahsatu bidang yang patut menjadi perhatian utama berbagai pihak mulai dari pemerintah, kelompok bisnis, institusi akademik, organisasi non-pemerintah, hingga masyarakat sipil yaitu pendidikan. Kita sungguh paham bahwa pendidikan adalah kunci utama bagi kemajuan peradaban suatu bangsa dan juga sebagai salahsatu faktor penting dalam menjalani kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Saat ini, pendidikan juga telah mengalami revolusi seiring dengan laju globalisasi yang terus melesat mulai dari teori, struktur, metodologi, aspek dan elemen, subjek dan objek, hingga seluruh proses yang terlibat didalamnya. Pendidikan tidak mungkin untuk tetap kaku dan tak berkembang, pendidikan akan selalu tertekan agar terus fleksibel dan berkembang.

Berhubungan dengan itu, salahsatu isu yang menjadi perhatian utama dunia sekarang ini ialah mengenai perdamaian dan kerukunan antar umat beragama. Politisasi dan fanatisme yang terjadi dalam isu keyakinan dan agama telah menyulut konflik dan peperangan di berbagai pelosok bumi tanpa mengindahkan korban tak bersalah terutama perempuan dan anak-anak. Oleh sebab itu, kita harus segera menangani dengan solusi preventif yang komprehensif dan holistik sehingga persitiwa tragis ini dapat dihindari atau setidaknya diminimalisasi. Dalam konteks Indonesia sendiri yang plural dan multikultural, isu kerukunan antar umat beragama masih harus diperjuangkan secara lantang dan intensif terutama melalui dialog dan program aksi bersama yang secara substansial menumbuhkan toleransi dan tenggang rasa di masyarakat. Masih banyak problematika mengenai perdamaian dan kerukunan antar umat beragama yang terjadi di segenap wilayah Indonesia yang belum terselesaikan hingga tuntas mengingat kompleksitas yang ada didalamnya. Namun satu hal yang harus segara kita benahi adalah pendidikan karena pendidikan kini telah menjadi kebutuhan primer selain sandang, pangan, dan papan. Pendidikan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, pendidikan juga akan membentuk pola pikir dan paradigma baik secara individual maupun komunal. Kita tentu mengakui bahwa pendidikan yang telah dikenalkan sejak dini tentu akan membawa manfaat yang baik bagi perkembangan kehidupan kita.   

Kita telah mengenal Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang dahulu bernama Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), Pendidikan Moral Pancasila (PMP), lalu Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa (PSPB). Semua itu bermuara pada satu filosofi paling dasar yang dimiliki oleh negara kita yaitu Pancasila yang berperan sungguh sentral dalam hal ideologi kebangsaan Indonesia. Kini, Pancasila dapat dikatakan telah semakin luntur popularitasnya yang bisa dibuktikan dengan semakin sedikitnya pelajar dan mahasiswa yang mengetahui Sila I hingga Sila V. Fenomena yang tidak baik ini perlu segera diantisipasi dengan metode pelaksanaan pendidikan yang jauh lebih dinamis dan praktis dibandingkan yang statis dan teoritis. Mata pelajaran PKn kini dapat dianggap semacam formalitas saja untuk menumbuhkan nasionalisme dan mengenalkan Indonesia pada siswa tanpa substansi yang aplikatif dan solutif dalam kehidupan keseharian mereka. Bukti bahwa tawuran antar pelajar atau antar mahasiswa yang masih terjadi di negeri ini merupakan kegagalan yang sungguh nyata bahwa PKn belum menciptakan dampak yang langsung dan berguna bagi yang mempelajarinya. Untuk itulah, diperlukan terobosan pendidikan yang menyeluruh agar pendidikan di negeri ini tidak hanya bersifat formal dan asal melainkan substansial dan praktikal.

Pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama yang kini telah diajarkan secara mapan di Amerika dan Eropa tentu harus menjadi percontohan bagi Indonesia dalam memperbaiki sistem pendidikan kita yang belum inovatif laiknya di negara-negara maju. Amerika Serikat dan Jerman merupakan dua negara yang sungguh serius menggarap pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama karena telah menyadari bahwa negaranya telah menjadi wilayah kosmopolitan yang terdiri dari berbagai warga dengan beragam latar belakangnya (ras, suku, etnis, agama, budaya, dan lainnya). Begitu pun [seharusnya] dengan Indonesia yang terdiri dari lebih dari 1.000 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, beragam etnis dan ras campuran, agama-agama yang telah memiliki rekam jejak dalam sejarah Indonesia, ribuan tradisi khas dan lainnya. Pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama menjadi salahsatu strategi jitu untuk mendidik masyarakat khususnya generasi muda agar lebih toleran, moderat, dan berpikiran luas yang sangat dibutuhkan dalam negeri yang terdiri dari beragam elemen peradaban seperti Indonesia.

 

Secara inti, pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama dapat diintegrasikan dalam PKn namun bobot praktisnya harus jauh lebih banyak dibandingkan bobot teoritisnya. Metode yang diimplementasikan dalam pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama dapat disusun bersama para aktivis LSM yang telah jauh lebih berpengalaman mengingat pengajarannya harus disesuaikan dengan konteks lokal. Selain itu, pendidikan perdamaian dan hubungan antar agama akan sanggup untuk mengurangi potensi konflik horizontal dan perselisihan sosial yang sangat rawan terjadi di daerah yang terlalu didominasi oleh agama-agama tertentu. Ini juga akan membawa kepada kemajuan pembangunan bangsa yang jauh lebih bermoral, beradab, adil dan setara.

The Decision Makers

KEMENTERIAN PENDIDIKAN - INDONESIA
KEMENTERIAN PENDIDIKAN - INDONESIA

Petition Updates

Share this petition

Petition created on September 8, 2014