Kemenperin: Izinkan KAI Commuter Memenuhi Pengadaan KRL untuk Atasi Masalah di Manggarai

Masalahnya

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik (ILMATE) bersama Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan telah menolak permintaan rencana pengadaan KRL dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan armada di wilayah Jabodetabek.

Pertimbangan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bersamaan dengan pemaksimalan PT INKA menjadi alasannya.

Menurut Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen, Agus Pambagyo, kondisi KRL saat ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, jumlah rangkaian KRL Jabodetabek akan berkurang secara bertahap antara 10-12 rangkaian di tahun ini dikarenakan rangkaian-rangkaian KRL tersebut sudah memasuki masa pensiun.

Ditambah, pengurangan trainset akan berlanjut hingga 16 rangkaian di tahun 2024. Bisa dibayangkan apa yang akan seperti jika armada KRL Jabodetabek menyusut. Pelayanan KRL Jabodetabek di ujung tanduk.

KAI Commuter pun sudah berupaya untuk membeli armada baru dari PT INKA. Namun, itu baru bisa dipenuhi paling cepat pada tahun 2025. Itu pun harus menunggu pabrik di Banyuwangi siap untuk digunakan. Belum lagi uji coba yang harus dilakoni selama beberapa minggu hingga bulan untuk benar-benar memastikan KRL baru siap digunakan.

Dalam skenario terburuk, KRL dari INKA baru bisa diantarkan kepada KAI Commuter di tahun 2026, masih tiga tahun ke depan. Sementara, pengadaan KRL dari Jepang sudah disiapkan. KRL ini bisa datang dalam waktu yang singkat sekitar 12 bulan (setelah kontrak). Bahkan bisa lebih cepat lagi.

Menurut data dari KAI Commuter, mereka membutuhkan sebanyak 348 kereta sepanjang 2023 hingga 2024. Bila dirincikan, keseluruhan jumlah kereta tersebut bakal terdiri dari 29 rangkaian.

Saat ini, masalah telah muncul pada kepadatan penumpang transit yang terjadi di Stasiun Manggarai. Kepadatan terjadi terutama karena sedikitnya jumlah KRL yang beroperasi di Lintas Lingkar Cikarang jika dibandingkan dengan jumlah KRL yang beroperasi di Lintas Bogor.

Tercatat, sebanyak 41 rangkaian KRL beroperasi di Lintas Bogor setiap harinya, dan hanya 23 rangkaian KRL beroperasi di Lintas Lingkar Cikarang setiap harinya. Dari 23 rangkaian KRL tersebut, 2 rangkaian KRL di antaranya beroperasi untuk 31 jadwal KRL pengumpan (feeder), yang juga masih belum maksimal untuk mengatasi kepadatan penumpang di Manggarai.

Akibat dari kepadatan penumpang ini, gelombang protes dari penumpang kepada KAI Commuter dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tidak lagi terelakkan. Gelombang protes datang setiap harinya, bahkan beberapa waktu yang lalu viral di media sosial dan media daring jika sampai ada karyawati yang harus mengundurkan diri dari tempat kerjanya akibat tidak tahan dengan transit di Stasiun Manggarai.

Untuk mengatasi masalah di Manggarai, KAI Commuter sudah mengagendakan untuk menambah 7 lagi rangkaian yang beroperasi di Lintas Lingkar Cikarang, yang hanya dapat dilakukan jika pengadaan KRL dari Jepang terlaksana.

Bila pengadaan KRL yang sangat urgent ini tidak terlaksana dan KAI Commuter hanya dapat menunggu KRL produksi INKA, maka jumlah rangkaian KRL harus berkurang sebanyak 29 rangkaian dalam dua tahun tanpa ada pengganti, sehingga operasional KRL sehari-harinya hanya terdiri dari sekitar 60-an rangkaian KRL dibanding dengan jumlah sekarang 95 rangkaian KRL untuk 1000 lebih perjalanan.

Sementara itu, KAI Commuter diketahui hanya memiliki 106 rangkaian KRL pada saat ini, dan beberapa rangkaian KRL benar-benar sudah dipensiunkan. Menurut Direktur Utama KAI Commuter, akan ada lima rangkaian KRL lainnya yang harus pensiun di tahun ini, sehingga jumlah tersebut akan berkurang lagi menjadi 101 rangkaian KRL, dan masih akan terus berkurang.

Pengadaan KRL dari Jepang sendiri bukan berarti tanpa kandungan TKDN sama sekali. Banyaknya pekerjaan yang dilakukan oleh orang atau perusahaan Indonesia dalam kegiatan pengadaan KRL tersebut dapat meningkatkan kandungan TKDN hingga di atas 40% pada pengadaan KRL dari Jepang.

Persoalan Peremajaan KRL Jabodetabek

Kabar Peremajaan KRL Jabodetabek

Karyawati Resign Pekerjaan Akibat Transit Stasiun Manggarai

Calon Armada KRL Jabodetabek

avatar of the starter
Rizki Fajar NovantoPembuka Petisi

2.386

Masalahnya

Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronik (ILMATE) bersama Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan telah menolak permintaan rencana pengadaan KRL dari Jepang untuk memenuhi kebutuhan armada di wilayah Jabodetabek.

Pertimbangan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) bersamaan dengan pemaksimalan PT INKA menjadi alasannya.

Menurut Pemerhati Kebijakan Publik dan Perlindungan Konsumen, Agus Pambagyo, kondisi KRL saat ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, jumlah rangkaian KRL Jabodetabek akan berkurang secara bertahap antara 10-12 rangkaian di tahun ini dikarenakan rangkaian-rangkaian KRL tersebut sudah memasuki masa pensiun.

Ditambah, pengurangan trainset akan berlanjut hingga 16 rangkaian di tahun 2024. Bisa dibayangkan apa yang akan seperti jika armada KRL Jabodetabek menyusut. Pelayanan KRL Jabodetabek di ujung tanduk.

KAI Commuter pun sudah berupaya untuk membeli armada baru dari PT INKA. Namun, itu baru bisa dipenuhi paling cepat pada tahun 2025. Itu pun harus menunggu pabrik di Banyuwangi siap untuk digunakan. Belum lagi uji coba yang harus dilakoni selama beberapa minggu hingga bulan untuk benar-benar memastikan KRL baru siap digunakan.

Dalam skenario terburuk, KRL dari INKA baru bisa diantarkan kepada KAI Commuter di tahun 2026, masih tiga tahun ke depan. Sementara, pengadaan KRL dari Jepang sudah disiapkan. KRL ini bisa datang dalam waktu yang singkat sekitar 12 bulan (setelah kontrak). Bahkan bisa lebih cepat lagi.

Menurut data dari KAI Commuter, mereka membutuhkan sebanyak 348 kereta sepanjang 2023 hingga 2024. Bila dirincikan, keseluruhan jumlah kereta tersebut bakal terdiri dari 29 rangkaian.

Saat ini, masalah telah muncul pada kepadatan penumpang transit yang terjadi di Stasiun Manggarai. Kepadatan terjadi terutama karena sedikitnya jumlah KRL yang beroperasi di Lintas Lingkar Cikarang jika dibandingkan dengan jumlah KRL yang beroperasi di Lintas Bogor.

Tercatat, sebanyak 41 rangkaian KRL beroperasi di Lintas Bogor setiap harinya, dan hanya 23 rangkaian KRL beroperasi di Lintas Lingkar Cikarang setiap harinya. Dari 23 rangkaian KRL tersebut, 2 rangkaian KRL di antaranya beroperasi untuk 31 jadwal KRL pengumpan (feeder), yang juga masih belum maksimal untuk mengatasi kepadatan penumpang di Manggarai.

Akibat dari kepadatan penumpang ini, gelombang protes dari penumpang kepada KAI Commuter dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan tidak lagi terelakkan. Gelombang protes datang setiap harinya, bahkan beberapa waktu yang lalu viral di media sosial dan media daring jika sampai ada karyawati yang harus mengundurkan diri dari tempat kerjanya akibat tidak tahan dengan transit di Stasiun Manggarai.

Untuk mengatasi masalah di Manggarai, KAI Commuter sudah mengagendakan untuk menambah 7 lagi rangkaian yang beroperasi di Lintas Lingkar Cikarang, yang hanya dapat dilakukan jika pengadaan KRL dari Jepang terlaksana.

Bila pengadaan KRL yang sangat urgent ini tidak terlaksana dan KAI Commuter hanya dapat menunggu KRL produksi INKA, maka jumlah rangkaian KRL harus berkurang sebanyak 29 rangkaian dalam dua tahun tanpa ada pengganti, sehingga operasional KRL sehari-harinya hanya terdiri dari sekitar 60-an rangkaian KRL dibanding dengan jumlah sekarang 95 rangkaian KRL untuk 1000 lebih perjalanan.

Sementara itu, KAI Commuter diketahui hanya memiliki 106 rangkaian KRL pada saat ini, dan beberapa rangkaian KRL benar-benar sudah dipensiunkan. Menurut Direktur Utama KAI Commuter, akan ada lima rangkaian KRL lainnya yang harus pensiun di tahun ini, sehingga jumlah tersebut akan berkurang lagi menjadi 101 rangkaian KRL, dan masih akan terus berkurang.

Pengadaan KRL dari Jepang sendiri bukan berarti tanpa kandungan TKDN sama sekali. Banyaknya pekerjaan yang dilakukan oleh orang atau perusahaan Indonesia dalam kegiatan pengadaan KRL tersebut dapat meningkatkan kandungan TKDN hingga di atas 40% pada pengadaan KRL dari Jepang.

Persoalan Peremajaan KRL Jabodetabek

Kabar Peremajaan KRL Jabodetabek

Karyawati Resign Pekerjaan Akibat Transit Stasiun Manggarai

Calon Armada KRL Jabodetabek

avatar of the starter
Rizki Fajar NovantoPembuka Petisi
Perkembangan terakhir petisi